BAB 5
Malam itu, akhirnya keinginan Moni untuk menonton film incarannya tercapai. Canon in Love. Yup… film yang membuatnya hampir menangis karena kehilangan satu keping DVD yang di ambil oleh cowok bernama Raka, kini ada di genggamannya. Dan… film itu kini benar-benar membuatnya menangis.
“Huhuhu…hiks…” entah sudah yang ke berapa kali Moni mengambil tisu untuk mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
Dari awal, film itu sudah sangat mengharukan. Dan di ending-nya pun juga sangat mengharukan. Benar-benar membuat Moni menangis dan menguras air matanya.
Tiba-tiba, Farant datang dan hampir tertawa puas melihat adiknya yang tengah menangis karena menonton sebuah film. Dasar cewek… nonton film aja nangis. Ledeknya dalam hati. “Hahaha… Dek!! Kok nonton film aja nangis sih… cengeng banget!!” candanya.
Moni menoleh ke arah kakaknya dengan jutek. “Ihh… Kak Farant nggak nonton sih… coba kakak nonton, pasti Kakak juga nangis kayak aku!!”
Farant menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak…” katanya kemudian. Lalu, tatapan Farant tertuju pada satu titik. Dia melihat sebuah kotak DVD dan membaca sebuah judul di kotak DVD tersebut dengan jelas. “Jadi? Ini film yang kamu cari sampe nangis itu Dek??” tanya Farant yakin sambil meraih kotak DVD yang terletak di samping TV dan memutar-mutar kotak DVD itu.
“Iyaa… kenapa?” tanya Moni.
“Kok bisa??” tanyanya heran. Karena dia tau betul kalau DVD itu udah sold out. Alias habis terjual. Nah… sekarang darimanakah adiknya itu bisa mendapatkan DVD itu??
“Ya orang itu….” kalimat Moni terputus. Dia baru sadar. tidak seharusnya dia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Farrant. Kalau dia sampai gegabah melakukannya, maka kakaknya akan dengan puas menertawakannya. Dan tentunya, Farant akan meledekinya sepanjang malam. Ohh bukan… bukan sepanjang malam. Tapi sepanjang hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Yup… dia hafal sekali sikap kakaknya yang sejak dulu memang jailnya luar biasa.
Sayangnya… Farant langsung mengerti dengan kalimat singkat yang terlontar secara spontan dari mulut Moni. Dengan puas… dia pun mulai tertawa geli. “Ahh… Kakak tau Dek!! Kamu ketemu sama cowok itu ya Dek?? Terus kamu kenalan sama dia dan minjem DVD-nya kan??” tanyanya sambil terus tertawa.
“Nggak ahh!!” kata Moni dengan wajah memerah.
“Udah… mungkin memang takdir…” kata Farant kemudian dengan wajah yang kini berubah menjadi lebih serius. “Atau…”
“Kebetulan!!” lanjut Moni yang telah memotong kalimat kakaknya yang belum selesai.
Farant cepet-cepat menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang dimaksud olehnya. Tapi… Moni nggak mau mendengar. Yah… whatever you say lah Kak!! Batinnya.
“Ya udah terserah…” kata Moni sambil merampas kotak DVD dari tangan kakaknya dan memasukkan DVD yang baru saja dikeluarkan olehnya. Setelahnya… dia pergi meninggalkan kakaknya sendirian.
“Bukan kebetulan Dek…” katanya sambil melihat kepergian Moni dan mendengar kalimat terakhir Moni. “Terserah Kakak aja…”
“Tapi mungkin sebuah rencana…” katanya melanjutkan kalimatnya tanpa didengar oleh Moni.
***
Sejak dirinya baru saja datang ke sekolah, Moni belum juga melihat Raka. Tumben… Nggak biasanya Raka belum datang. He usually has the best defense, right? Biasanya Raka sengaja datang pagi-pagi untuk mempertahankan tempat duduk yang dimiliki. Tapi sekarang… Raka belum datang. Apa mungkin cowok itu nggak masuk? Tanya Moni dalam hati. Dia membuang jauh-jauh keingintahuannya tentang keberadaan Raka. Untuk apa dia tau dimana Raka sekarang. Cowok itu punya urusannya sendiri. So, biar saja dia mau masuk atau nggak.
Moni tersadar dari lamunannya seketika sebuah bundelan kertas mengenai kepalanya. Rupanya Rani yang melakukannya. Moni memperhatikan Rani yang mencoba memberikan isyarat kepadanya. Rupanya Rani menyadarkannya untuk segera pindah dari tempat duduknya dan kembali ke tempat asalnya dulu. Ya… sebelum Raka datang. Benar!! Selama ini, dia selalu ingin merebut kursinya kembali. Tapi tidak pernah berhasil karena Raka selalu datang lebih awal darinya. Dan sekarang… entah kenapa dia tidak ingin melakukannya. Mungkin… biar saja dulu bangku itu kosong. Mungkin Raka akan terlambat datang. Tidak biasanya!! Upss… tunggu dulu. Batinnya. Tiba-tiba Moni ingat sesuatu. Raka… dia pernah bilang cowok itu anak bandel. Tapi kenapa dia selalu datang lebih awal?? Mungkin memang dia yang salah menilai.
Moni menggelengkan kepalanya. Sementara Rani terkejut dengan tingkah temannya itu. Nggak seperti biasanya. Batinnya.
Tiba-tiba…
“Waduh… Raka belum datang ya??” tanya Chiko yang datang dari ambang pintu dengan Rudi yang juga anak klub futsal. “Wahh… padahal kan hari ini latihan terakhir kita bro…” katanya kepada Rudi.
“Iya sih… tapi kalo gue sih yakin Raka bisa kok walaupun nggak ikut latihan…” balas Rudi.
Rani bingung melihat Moni yang sepertinya tertarik dengan perbincangan kedua orang tersebut.
“Udah lo telepon atau sms bro??” tanya Rudi.
“Udah… nggak aktif!!” kata Chiko yang segera merapihkan tempat duduknya karena sang guru sudah datang.
Moni melihat-lihat ke ambang pintu. Mungkin saja hari ini memang Raka terlambat. Dan benar saja… Raka datang dengan nafas terengah-engah. Moni menyunggingkan senyumnya secara nggak sadar. Lalu setelah dia sadar, dia membuang jauh-jauh senyumnya.
Chiko dan Rudi jelas sangat senang dengan kehadiran Raka. Artinya latihan terkahir untuk pertandingan antar sekolah besok bisa terlaksana dengan baik. Ya… semoga!!
Setelah sampai di tempat duduknya, Raka langsung tersenyum ke arah cewek yang sejak dirinya datang nggak sedikitpun cewek itu mengalihkan pandangannya. Dan Raka, sadar sekali dengan itu semua. “Tenang aja… gue pernah bilang kan sama lo. Gue bakal masuk terus… biar lo nggak kesepian..” katanya GR.
Moni langsung mengalihkan pandangannya ke papan tulis. Dia benci sekali kalimat yang baru keluar dari mulut Raka. Huh… so big headed!! Batinnya.
***
Moni bingung dengan Chiko yang tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke basecame klub futsal. Entah apa yang akan dilakukan oleh Chiko. Padahal… perut Moni udah bukan keroncongan lagi. Tapi udah ngerock! Hmm… I’m starving right now… Batin Moni.
“Jadi… lo mesti ngumpulin supporter sebanyak-banyaknya Mon… Buat besok!” ujar Hadika si ketua futsal.
“Hah?? Nggak salah??” Moni membelalakkan kedua bola matanya tak percaya. Sejak kapan orang-orang itu berminat untuk menyuruhnya mengumpulkan supporter untuk pertandingan futsal antar sekolah yang diadakan oleh SMA Yadika besok. Karenanya, selama ini dia tidak sekalipun terlibat untuk menjadi supporter klub futsal di sekolahnya. Dan kemarin-kemarin ketika sejumlah teman-temannya mengajaknya untuk menjadi supporter, dia ogah menerima tawaran tersebut.
“Nggak…” jawab Ferdi yang juga anak futsal dengan santainya. “Pokoknya lo bertanggung jawab penuh untuk ngumpulin supporter Mon.. Kalo sampe besok kita nggak ada supporter, lo bakal berhadapan langsung sama Pak Derry…” Lanjut Ferdi yang coba menakut-nakuti Moni dengan sosok Pak Derry – guru olahraga – yang cukup galak.
Moni meringis. “Emangnya mau sumo apa?” gumamnya asal.
Semua anak-anak klub futsal yang saat itu sedang beristirahat di basecame tertawa geli mendengar pernyataan dari Moni. Termasuk Raka yang juga sejak tadi tersenyum-senyum geli melihat kelakuan Moni.
“Hahaha… terserah lo sih mau ngajak Pak Derry sumo atau gulat… yang penting lo seneng aja deh Mon!!” ujar Rudi geli.
Sempat terjadi penolakan-penolakan oleh Moni atas tawaran yang diberikan kepadanya. Namun pada akhirnya – tentunya karena dia takut berhadapan dengan Pak Derry – Moni menyerah dan memastikan kalau dia mau mengumpulkan anak-anak untuk dijadikan supporter di pertandingan besok. Yang artinya, hari ini dia akan sibuk mengajak anak-anak untuk menjadi supporter. Mulai dari mempersiapkan pernak-pernik yang akan digunakan untuk memeriahkan suasana di lapangan, sampai mengkoordinir semua anak yang bersedia menjadi supporter klub sekolahnya.
“Nah gitu donk!!” kata Ferdi dengan senyum mengembang sambil melirik ke arah Raka.
Moni membaca lirikan itu. Dan dia pun ikut melirik Raka yang kini tersenyum sok imut ke arahnya. Huh… Annoying!!
Dan siang itu juga, tentunya dengan dibantu oleh Rani, Moni berhasil mengumpulkan 150 orang supporter dari 1300 murid di SMA Bhakti Negara yang berasal dari semua kelas. Baik dari kelas satu maupun kelas tiga. Cukup melelahkan memang. Tapi mau bagaimana lagi. Ancaman dari anak-anak futsal membuatnya ngeri. Pak Derry bukan hanya galak, tapi juga kejam. Moni pernah diajar olahraga sewaktu kelas satu. Dan baginya, belajar dengan Pak Derry sama dengan hidup atau mati. Hidup, kalau Moni bisa belajar dengan baik. Dan Mati, kalau Moni salah berkali-kali.
Nggak hanya mengumpulkan supporter, tapi Moni juga mengajak teman-teman yang lainnya untuk membuat yel-yel untuk mendukung tim futsal dari sekolah mereka, membuat pernak-pernik, dan membincangkan tentang pakaian yang kompak untuk dikenakan besok.
BAB 6
Pagi itu, di halaman SMA Bhakti Negara dipenuhi dengan siswa-siswi yang mengenakan pakaian bewarna biru muda dan celana jins hitam. Selain itu, mereka juga membawa spanduk bertuliskan ‘Bhakti Negara Go Go… Bhakti Negara pasti bisaaa!!’. Dan pastinya… rame banget suara anak-anak yang siap mendukung tim futsal yang mewakili sekolah mereka.
Dan hari itu, Moni terlihat manis dengan balutan kaos berkerah bewarna biru dengan jins hitam yang melekat di tubuhnya yang mungil. Entah kenapa, yang tadinya dia sempat ogah menjadi supporter untuk tim sekolahnya, tapi hari itu dia jadi lebih bersemangat dan menikmati kegiatannya. Hmm… entahlah!!
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Pertandingan akan dimulai pukul 08.00. Dan semua peserta diharapkan hadir sebelum pukul delapan. Pak Derry memerintahkan Hadika untuk mengabsen dan mengecek segala perlengkapan yang harus mereka bawa.
Dan hadika mulai mengecek segala sesuatu yang harus dibawa ke SMA Yadika. Termasuk supporter yang kemarin menurut laporan Moni, supporter yang berhasil dikumpulkan olehnya sebanyak 150 orang. Kemudian, Hadika mulai mengabsen satu per satu anggota futsal yang siap bertanding.
Ferdi, Rudi, Chiko, Gerry, Arya, Nino telah hadir. Tapi ada yang kurang. Ya… Raka!! Raka belum datang. Padahal 15 menit lagi mereka akan berangkat. Hadika langsung panik ketika mendapati Raka yang belum juga datang. Begitupun dengan anggota futsal lainnya yang sama paniknya dengan Hadika. Tapi Chiko mencoba menenangkan Hadika dan teman-teman yang lainnya. Dia yakin sekali kalau Raka pasti datang. Hanya saja, mungkin Raka agak terlambat datang.
Hadika mencoba mengkondisikan supporter yang juga ikutan panik karena Raka yang belum datang. Mungkin harapan mereka ada pada Raka yang terkenal jago bermain futsal. Selama tiga tahun ini, klub futsal SMA Bhakti Negara belum pernah meraih gelar juara. Mereka hanya berhasil bertandang ke babak semifinal. Penah satu kali mereka masuk ke babak final, dan itupun kalah. Dan Raka mungkin menjadi Rising Star di SMA Bhakti Negara yang sebelumnya cowok itu berlaga membawa nama sekolah lamanya, yaitu SMA Teladan. Dan… SMA Teladan merupakan SMA yang sudah sering menyandang gelar juara. So, mungkin saja Raka bisa membawa SMA Bhakti Negara menjadi juara untuk yang pertama kalinya setelah tiga tahun berturut-turut belum menyandang gelar juara.
Sepuluh menit telah berlalu begitu saja. Orang yang ditunggu-tunggu kehadirannya belum juga datang. Kini semua orang yang tengah menunggu di lapangan futsal SMA Bhakti Negara mulai panik. Pak Derry sudah memutuskan untuk tetap pergi ke tempat pertandingan pukul 07.15. Sejak tadi, Chiko sudah berusaha menghubungi Raka. Tapi ponsel Raka tidak aktif. Entah apa yang telah terjadi dengan cowok itu.
Moni ikut panik. Dia juga nggak tau kenapa. Yang pasti dia berharap Raka bisa datang. Tapi sesaat kemudian Moni lebih panik lagi. Pak Derry menyuruh semua anak untuk naik ke mobil dan segera berangkat. Walaupun Moni tau Pak Derry berharap Raka akan datang. Pak Derry lalu menghampiri Pak Sutomo, si satpam sekolah Moni, dan meminta Pak Sutomo untuk mengatakan kepada Raka kalau mereka berangkat duluan dan memintanya untuk menyusul.
***
Pertandingan pertama akan segera dimulai. Pertandingan antara SMA 17 melawan SMA Harapan. Terbaca oleh Rani raut wajah cemas di wajah Moni. Rani bisa menebak kecemasan itu ditujukan untuk siapa. Pasti untuk Raka yang belum juga datang.
Ya… memang sebenarnya itulah yang mengganggu pikiran Moni. Sejak tadi, sebenarnya cewek itu ingin sekali membiarkan saja tentang Raka yang tidak datang. Toh… Raka bukan segalanya. Dia yakin sekolahnya bisa bertanding walaupun nggak ada Raka. Kemarin-kemarin sebelum Raka datang ke sekolahnya, tim dari sekolahnya tetap bisa bertanding kan? Ya..memang sih belum menang.
Tapi, semakin Moni ingin membuang jauh-jauh perasaan cemasnya yang terselip untuk Raka, semakin Raka mengganggu pikirannya. Ada yang ingin dilakukan olehnya. Tapi dia ragu dan malu. Mungkin dia bisa membantu klub dari sekolahnya untuk mendatangkan Raka ke tempat pertandingan.
“Kemana ya dia??” bisik Rani.
“Ihh… biarin aja. Mana gue tau…” jawab Moni jutek.
Rani tersenyum geli. “Emang gue nanyain siapa?” tanya Rani mematikan Moni yang kini wajahnya mulai memerah. “Hahaha ketawan ya lo lagi mikirin Raka kan…” kata Rani sambil menyenggol lengan Moni.
Moni sewot. Dia tidak membalas lagi perkataan Rani. Lalu tatapannya menangkap percakapan Chiko dan Pak Derry. Chiko terlihat ingin sekali melakukan sesuatu. Mungkin dia ingin menjemput Raka di rumahnya. Tapi Pak Derry melarangnya. Chiko termasuk pemain andalan juga di sekolahnya. Kalau Chiko pergi untuk menyusul Raka yang belum tentu bisa datang, maka habislah sudah. Stamina Chiko tentunya akan berkurang. Itulah yang dipertimbangkan Pak Derry.
Setelah gagal membujuk Pak Derry untuk menyusul Raka, Chiko pun kembali duduk di bangkunya dengan lemas. Saat itu, Moni ingin sekali bertindak. Tapi… bagaimana dengan gengsinya. Huh… dia takut sekali semua orang meledeknya. Tapi… dia harus melakukannya.
Moni bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Chiko dan disambut keterkejutan dari Rani yang heran melihat temannya itu. Dan setelah sampai di hadapan Chiko, Moni langsung mengutarakan keinginan hatinya.
“Hah?? Lo yakin??” tanya Chiko heran.
Moni mengangguk cepat.
“Waduh… gue nggak tega ngeliat lo nyusul Raka…” ujar Chiko tak percaya.
“Gue tinggal di Jakarta bukan baru kemaren… nggak usah khawatir. Ini juga demi tim sekolah kita…” balas Moni.
Chiko berpikir sejenak. Lalu dia mendengarkan perkataan terakhir yang terlontar dari mulut Moni. “Kalau gue yang pergi nggak akan berpengaruh apa-apa kan??”
Setelah mempertimbangkan perkataan Moni, Chiko akhirnya memberitahu alamat rumah Raka kepada Moni. Moni pun langsung pergi meninggalkan SMA Yadika. Rani sempat mengejar Moni yang siap pergi untuk menyusul Raka. Tapi Moni meminta Rani untuk kembali dan tidak perlu ikut menyusul Raka.
***
Moni menatap sekeliling perumahan elit yang baru saja dimasukinya. Rumah-rumah yang sangat megah bergaya eropa yang sangat mewah. Moni tak kuasa mengagumi perumahan yang indah tersebut. Sampai-sampai Moni diam sesaat untuk menikmati kekagumannya.
Sesaat kemudian Moni tersadar, kala seorang satpam perumahan tersebut berdehem di dampingnya. Dengan ramah, satpam itu pun menawarkan bantuan kepada Moni. “Ada yang bisa dibantu??”
Moni gelagapan. Dia lalu membaca ulang kertas kecil yang tadi sempat diberikan oleh Chiko. Sebuah alamat rumah Raka. Moni lalu meminta tolong kepada satpam tersebut untuk diantar ke tempat tujuan. Dengan senang hati, satpam itupun menunjukkan jalan kepada Moni.
Dan setelah sampai di depan rumah Raka, lagi-lagi Moni terkagum-kagum dengan megahnya rumah Raka. Gaya eropa yang ditonjolkan rumah tersebut terlihat sangat elegan. Di halaman depan terdapat sebuah taman dengan bunga-bunga segar yang indah. Dan juga sebuah kolam ikan yang cukup besar yang terletak di dekat taman.
Moni tersadar dari kekagumannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada satpam yang telah bersedia mengantarnya untuk sampai di rumah Raka.
Moni menekan bel dan menunggu jawaban dari dalam rumah. Sempat beberapa kali Moni melakukannya. Namun belum ada jawaban dari dalam. Kemudian… mulai ada gerakan dari dalam rumah. Pintu rumah mulai dibuka dan keluarlah seorang pembantu rumah Raka.
“Mencari siapa mbak??” tanya pembantu itu.
“Raka… ada??” tanya Moni.
Pembantu itu tampak sedikit bingung. Lalu seorang wanita muncul dari dalam rumah dan bertanya, “Siapa yang datang??” tanya wanita itu.
“Temannya Mas Raka Bu…” jawab pembantu itu.
Wanita itu keluar dan melihat siapa yang tengah mencari anaknya. Dan setelah mendapati seorang cewek manis di depannya, wanita itu langsung tersenyum dan menyambutnya. “Temannya Raka??” tanyanya ramah.
Moni merasa nggak enak. Dia malu sekali…. “Iya Tante…” jawabnya sedikit bingung. Sebenarnya, dia bukan teman Raka kan? Musuh mungkin lebih tepat.
“Ayo masuk….” Ajak mama Raka. “Kamu kok nggak sekolah? Bolos? Atau ingin menjenguk Raka?” tanyanya.
Menjenguk? Tunggu… apa Raka sakit?? Tanyanya dalam hati. “Emangnya Raka sakit ya Tante??” tanya Moni sedikit khawatir. Kalau Raka sakit, mana mungkin dia menyeret Raka ke lapangan futsal SMA Yadika kan? Waduhhh…. Teriaknya dalam hati.
Mama Raka agak sedikit bingung mendengar pertanyaan Moni. Lalu dia mengajak Moni naik ke lantai dua menuju kamar Raka. “Hmm… nggak juga…” jawaban yang membingungkan keluar dari mulut mama Raka.
Mama Raka mengambil sebuah kunci yang disimpannya di lemari kecil di samping sebuah kamar. Lalu membuka sebuah kamar dengan kunci tersebut. Ada perasaan bingung yang menyeliputi benak Moni. Apa kamar itu, kamar Raka?? Lalu… mengapa Raka dikunci di dalam kamar. Hmm… semoga saja dugaannya salah. Batinnya.
Tapi ternyata dugaannya nggak salah, melainkan benar. Yup… saat kamar itu dibuka, terlihat seorang cowok tengah duduk melamun melihat jendela yang dikelilingi dengan teralis besi. Raka!! Ada apa ini??
“Kemarin Raka demam, dan Tante nggak mengijinkan dia untuk ikut bertanding…” kata mama Raka sebelum dia mempersilakan Moni masuk.
Setelah Moni masuk ke kamar Raka, Moni melihat Raka tengah menatap kesal ke arah mamanya. Lalu, dia beralih pandang ke arah Moni dan menatapnya bingung. Raka nggak percaya Moni ada di rumahnya. Bahkan di kamarnya.
“Moni…” Raka mendekat ke arah Moni dan mengerti maksud kedatangan Moni. Meskipun dia bingung bagaimana Moni bisa sampai ke rumahnya. Siapa yang tega menyuruhnya? “Ma… tolong ijinin aku pergi Ma…” pinta Raka.
“Raka… Mama nggak bisa ijinin kamu ikut main futsal lagi… Nggak Raka…” kata mamanya mencoba melarang Raka entah untuk yang ke berapa kalinya.
“Mon… gue tau kok lo pasti mau jemput gue kan?” tanya Raka sambil memegang pundak Moni.
Moni nggak bisa berkata-kata. Dia bingung sekali harus berkata apa. Dia juga nggak mengerti dengan pasti apa yang sebenarnya tengah terjadi antara ibu dan anak itu. Moni nggak ngerti kenapa mama Raka melarangnya untuk bermain futsal. Pasti ada alasannya. Pasti. Memang tujuannya menjemput Raka, tapi kalau begini keadaannya… Moni bingung harus berbuat apa.
“Moni… maaf sekali. Tante nggak bisa mengijinkan Raka pergi… Maaf…” kata mama Raka dengan hati-hati.
“Ma… sekali… ini aja. Tolong Ma…” pinta Raka dengan nada memohon.
Mama Raka tampak bingung dan sedih. Dan Moni terlihat makin bingung dengan situasi ini. Bingung sekali.
“E…e… Raka… nggak apa-apa kalo lo emang nggak bisa ikut. Mungkin lo memang masih sakit… gue… gue bakal jelasin sama anak-anak dan Pak Derry…” kata Moni kemudian.
“Sakit??” desis Raka sambil menatap bingung ke arah Moni. Lalu, Raka berpaling ke mamanya. “Siapa yang sakit Ma??” tanya Raka kesal.
“Raka…” mamanya mencoba menjelaskan. Tapi Raka sudah lebih dulu memotongnya. “Ma… kenapa sih??”
Raka dan mamanya lalu memutuskan untuk bicara empat mata tanpa ada Moni. Moni keluar kamar Raka dan menunggunya di luar. Sementara, Raka dan mamanya merundingkan sesuatu yang pastinya tidak diketahui oleh Moni.
Tak berapa lama, Raka dan mamanya keluar kamar. Raka sudah siap dengan tasnya. Dia tersenyum menatap Moni dan mengajaknya untuk segera pergi dari rumahnya. Dan sebelum pergi, mama Raka mengucapkan sesuatu untuk anaknya. “Raka… selamat berjuang ya…” katanya.
Canon in Love (Bab 3 & Bab 4)
Canon in Love (Bab 7 & Bab 8)
Senin, 07 Maret 2011
Canon in Love (Bab 5 & Bab 6)
Minggu, 06 Maret 2011
Canon in Love (Bab 3 & Bab 4)
BAB 3
“Ohh… Jadi Raka itu cowok yang udah ngerebut DVD inceran lo itu?” tanya Rani tak percaya atas penjelasan sahabatnya itu.
Moni menganggukkan kepalanya. Dia baru saja menceritakan semuanya kepada sahabatnya.
“Kok bisa ya?” tanya Rani geli.
“Bisa apa??” tanya Moni jutek.
Rani diam sejenak. Kemudian dia melepas tawanya. “Hahaha… bisa ketemu lagi sama lo!”
“Ishh… maksud lo apaan? Gue juga males banget ketemu dia lagi… sebel gue!” balas Moni sambil mempercepat langkahnya.
Rani mencoba menarik lengan sahabatnya yang gempang ngambek itu. “Yee… ngambek!! Udah deh… terima aja. Mungkin lo emang udah takdirnya harus ketemu dan kenal sama dia… lagian Raka keren kok! Ganteng pula…” kata Rani sambil membayangkan wajah Raka yang memang ganteng abis.
Moni membelalakkan kedua matanya. Baru aja Raka pindah ke sekolahnya, cowok itu langsung poppuler. Jangankan cewek-cewek di kelasnya, cewek-cewek dari kelas lain, baik adik kelas sampai kakak kelas, membicarakan tentang kegantengan cowok itu. Dan kuping Moni hampir budek mendengar pujian-pujian buat cowok yang paling menyebalkan bagi Moni.
“Nggak usah demam Raka deh…” kata Moni jutek.
Dan… ketika Moni dan Rani hampir keluar dari pintu gerbang sekolah, seorang cowok dengan motor ninjanya juga hendak keluar gerbang sekolah. Dan cowok itu… nggak sengaja menyenggol lengan Moni. Alhasil, Moni meringis dan siap untuk marah-marah.
“Ehh… nggak punya mata ya??” teriak Moni ketika orang itu di sampingnya.
Cowok itu melepas helmnya. Dan ketika Moni tau siapa cowok di balik helm merah itu, Moni langsung geram. “Punya kok…” jawab Raka.
Moni menatap jutek ke arah Raka. Dia kesal sekali dengan cowok itu. Baru saja dua kali dia bertemu dengan Raka, tapi cowok itu sudah berkali-kali membuatnya kesal. Bagaimana kalau besok, besok, dan besok. Bisa-bisa tekanan darah Moni naik drastis.
“Lo lagi…” kata Moni jutek. Moni langsung menarik lengan Rani dan mengajaknya cepat-cepat pergi dari hadapan Raka. Tapi Rani malah menahan langkahnya dan tertawa geli. Alhasil, Moni marah-marah dan mengancamnya. “Kalau lo nggak mau pulang ya udah gue pulang sendiri…”
Rani nyerah. Dia pun mengekor Moni dan meninggalkan Raka yang masih tersenyum tipis menatap kepergian Moni. “Duluan ya Raka…” Rani melambaikan tangannya ke arah Raka. Dan Raka membalas lambaian tangan Rani dengan senyuman tipis di bibirnya.
***
Keesokan harinya….
Raka yang kemarin baru saja pindah ke sekolah Moni, ternyata tidak masuk sekolah hari itu. Moni sudah menduga kalau cowok itu adalah cowok malas, bandel, dan yang pasti menyebalkan.
Dan tidak masuknya Raka hari itu, langsung membuat semua anak gempar – khususnya kaum hawa. Vanda cs langsung sibuk mencari tau kemana Raka saat itu. Sampai-sampai, ketiga cewek yang terkenal centil di sekolahnya itu, rela mencari informasi tentang alamat rumah Raka.
Tapi… Moni justru senang-senang aja kalau Raka nggak masuk. Pasalnya, cewek itu jadi bisa merebut kembali tempat duduk yang kemarin sempat menjadi persinggahan Raka. Nggak penting banget cowok itu mau masuk atau nggak.. batin Moni. Dari awal, Moni udah yakin kalau cowok itu bandel. Batinnya lagi.
Namun, setelah dua hari tidak masuk sekolah, hari itu Raka masuk sekolah dan langsung menyambar tempat duduk Moni. Saat itu, Moni belum datang ke sekolah. Dan ketika Moni datang dan mengetahui kalau tempat duduk yang kemarin sempat dirampas kembali olehnya, telah berpindah lagi ke Raka, cewek itu langsung cemberut dan kesal.
“Hahaha… pagi-pagi udah cemberut…” ujar Raka saat melihat Moni yang berjalan menuju bangkunya dengan wajah cemberut.
Telinga Moni terasa panas mendengar ejekan Raka. Dia pun langsung memberikan serangan balik kepada Raka. “Kenapa nggak sekalian aja hari ini lo nggak masuk!! Kan tanggung banget kalau cuma dua hari… kenapa nggak sekalian aja satu semester lo bolos…”
Raka tersenyum geli sambil melirik Moni. Galak banget!! Batinnya. “Ohh jadi lo marah gara-gara dua hari gue nggak masuk? Ya udah deh maaf… mulai besok gue bakal masuk terus kok. Mungkin lo kesepian karena gue nggak masuk….” Jawabnya.
Ihhh… ni cowok!!! Teriak Moni dalam hati. Siapa juga yang kesepian gara-gara dia nggak masuk. Duhh,, emangnya ada yang salah ya dari kalimat gue? Batin Moni kesal. “Terserah lo tuh mau masuk apa nggak. Bukan urusan gue… dasar nggak nyambung!!”
Lagi-lagi Raka tertawa mendengar jawaban jutek dari Moni. Sementara itu, Moni nggak lagi mempedulikan Raka yang tengah tertawa puas melihat Moni yang memang sangat kesal dengannya. Tiba-tiba… Chiko datang dan menghampiri Raka.
“Woi bro… kenapa kemaren lo nggak masuk?” sapanya sambil duduk di depan bangku Raka yang penghuninya saat itu belum datang.
Raka tidak menjawab pertanyaan Chiko. Tapi dia malah memandang Moni yang masih saja cemberut. Lalu, “Menurut lo, kemaren gue kenapa nggak masuk?” tanya Raka. Tapi… pertanyaan itu bukan ditujukan untuk Chiko, melainkan untuk Moni yang kini menatapnya aneh dan jutek.
“Kenapa lo nanya sama gue? Emang gue baby sitter lo apa? Lagian… semua hal yang terjadi sama lo, itu bukan urusan gue…” jawab Moni jutek. Walaupun, dalam hatinya berkata kalau Raka itu pasti membolos sekolah. Tapi, dia nggak mau lagi terjebak dengan perkataannya sendiri. Bisa-bisa si Raka itu GR lagi kalau dia mengatakan hal yang saat itu sedang dipikirkan olehnya.
Raka hanya tertawa mendengar jawaban dari mulut Moni. Dia sebenarnya tau sekali dengan apa yang dipikirkan cewek itu. Dia tau sekali kalau Moni menuduhnya membolos. Sementara itu, Chiko menatap bingung secara bergantian ke arah Raka dan Moni. Dia nggak mengerti dengan tingkah kedua orang itu.
“Sebenernya ada hubungan apa sih diantara kalian berdua?” tanya Chiko yang mulai tertarik untuk menyelidiki hubungan antara Moni dan Raka.
“Nggak ada…” jawab Moni jutek.
Raka tersenyum tipis mendengar jawaban dari Moni. Sementara Chiko makin bingung denga kedua orang itu. Membaca sarat kebingungan di wajah Chiko, Raka pun mendekatkan tubuhnya ke arah Chiko dan hendak berbisik ke arah Chiko. Entah apa yang dikatakan Raka kepada Chiko. Tapi yang pasti saat itu Moni sangat kesal melihat kedua orang tersebut yang tertawa setelah Raka selesai membisikkan Chiko. Mencurigakan. Batin Moni.
Moni bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Raka dan Chiko. “Lo ngomong apa ke dia…” kata Moni sambil menggoncangkan tubuh Raka.
Bukannya menjawab pertanyaan Moni, Raka malah tertawa. Dan tawa Raka diikuti juga dengan tawa Chiko. “Naksir Raka ya?” tanya Chiko geli.
Moni membelalakan kedua bola matanya. Lalu dia menatap kesal ke arah Raka. “Jadi… lo bilang ke Chiko gue naksir lo… sekalian aja lo bilang sama semua orang gue naksir lo. GR banget sih lo…” teriak Moni yang membuat Rani yang baru saja datang beserta anak-anak lainnya yang juga tengah duduk-duduk di kelas kaget setengah mampus mendengar teriakan Moni.
Raka mengambil ancang-ancang untuk segera lari, karena dia tau apa yang akan dilakukan oleh Moni kepada dirinya. Tapi sebelumnya, Raka menyelesaikan kalimat terakhirnya… “Oke… besok gue bilangin sama semua orang!!” katanya sambil berlari.
BAB 4
Sudah hampir sebulan Raka pindah ke SMA Bhakti Negara, cowok itu sudah menarik perhatian semua orang. Bukan hanya cewek-cewek di kelasnya, melainkan juga kaum cowok dan para guru yang juga sangat simpatik kepadanya.
Meskipun Raka terkesan santai dan cool, tapi Raka adalah salah satu cowok yang mudah bergaul. Semua teman-temannya merasa nyaman di dekat Raka. Nama Raka semakin diperbincangan oleh banyak orang, karena cowok itu jago main futsal.
Tidak ada yang membenci Raka, kecuali satu orang. Moni. Yup, hanya Monilah yang memandangnya berbeda. Hanya Moni yang tidak menyukai cowok itu. Dan hampir setiap hari Moni dibuat kesal oleh Raka. Apapun hal yang dilakukan oleh Raka, walaupun tidak mengganggunya sama sekali, baginya sangat mengesalkan.
Pandangan Moni yang selalu memandang berbeda Raka, membuatnya dipandang berbeda pula oleh teman-temannya yang lain. Teman-temannya yang sangat simpatik kepada Raka, terutama kaum cewek tentunya, memberi kecaman kepada Moni. Kalau saja Moni berani mengganggu Raka atau memandang Raka sebelah mata, maka kaum cewek-cewek pembela Raka itulah yang akan maju.
Banyak yang membenci Moni karena kelakuannya. Walaupun ketika tiap kali Raka dan Moni bertengkar, atau Moni marah-marah ke Raka, itu semua bukan mutlak kesalahan Moni, tapi… cewek-cewek di sekolahnya udah keburu sentiment dan mempersalahkan Moni. Dan cewek-cewek itu, siap sekali membela Raka kapanpun Raka merasa terganggu dengan Moni.
Moni jadi merasa seperti sendirian di sekolahnya. Tidak ada yang membelanya sama sekali. Walaupun Rani masih setia menemaninya, tapi… Rani memilih tidak ikut campur dengan urusan antara Raka dan Moni. Dan kalaupun Rani membelanya… nggak akan berpengaruh apapun untuknya. SMA Bhakti Negara termasuk sekolah yang memiliki jumlah murid yang banyak. Dan hampir semua murid di sekolahnya yang terdaftar ribuan siswa itu memilih membela Raka. Itulah mengapa cewek itu merasa sendiri. Tidak ada yang membelanya sama sekali. Kalau dia berani macam-macam, maka dia akan mendapat ganjaran dari cewek-cewek bahkan cowok-cowok yang tidak suka dengan kelakuannya. Tapi Moni nggak mau nyerah… dia nggak takut dengan ancaman ini itu yang dilontarkan oleh anak-anak lainnya. Walaupun dalam hati kecilnya berkata kalau dia sebenarnya takut, tapi dia nggak mau mengalah.
Seperti suatu ketika, Raka dan Moni berpapasan di kantin, Raka menyeggol tubuh Moni. Niatnya sih Cuma sekedar ingin berkomunikasi dengan Moni. Karena memang semenjak Moni dikecam oleh anak-anak lainnya, Moni jadi terkesan lebih diam. Tapi, sayangnya senggolan Raka ke tubuh Moni membuat cewek itu menumpahkan es krim yang dibawanya ke baju seragamnya. Alhasil, Moni yang udah gatel banget pengen marah-marah dengan Raka pun akhirnya tidak sabar lagi. Dia mulai melotot dan siap melancarkan aksi marah-marahnya.
“Lo tuh jalan pake mata nggak sih??” tanyanya keras yang mengundang perhatian semua anak yang tengah beristirahat di kantin.
Saat itu, semua anak mulai geram melihat Moni yang mulai berani menantang Raka. Sementara itu, Raka hanya tersenyum melihat kemarahan di wajah Moni. Dia kangen sekali melihat aksi marah-marahnya Moni, setelah beberapa hari ini dia tidak melihatnya. “Pake kaki… kalau mata buat ngeliat…” jawabnya tanpa menyadari tatapan anak-anak lain yang mulai jutek mengarah ke Moni.
“Lo tuh emang neyebelin!!! Jalan emang pake kaki, tapi pake mata juga biar nggak nabrak orang…” jawab Moni kesal.
“Ohh jadi lo orang ya? Orang utan…” celetuk salah satu anak yang mulai panas melihat Moni.
Raka dan Moni mengalihkan pandangan mereka ke arah suara itu berasal. Moni tidak peduli. Dia nggak merasa takut dengan semua mata yang kini menatapnya tajam. Dia mengembalikan pandangannya ke arah Raka dan kembali menatap tajam ke arah cowok itu. “Nyebelin!!” teriaknya. “Pergi…” katanya dengan kesal.
Raka mengalah. Hal yang baru dilakukan olehnya. Sebelumnya, cowok itu nggak pernah mengalah dengan Moni. Tapi… ada pertimbangan lain yang membuatnya lebih memilih mengalah ketimbang meladeni Moni. Raka nggak mau situasi makin panas. Karena saat itu, tengah dilihatnya semua anak di kantin menatap garang ke arah mereka berdua.
Saat Raka melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan Moni, semua anak yang menamai diri mereka sebagai kaum pembela Raka, langsung geram. Alhasil, hampir semua anak di kantin tersebut berniat memberikan ganjaran kepada Moni. Apa saja yang ada di dekat mereka, seperti kertas bahkan makanan, dilempar ke arah Moni yang masih berdiri.
Sambil berteriak, “Huuu… gila lo!!” atau “Sok jagoan lo…!!” atau bahkan, “Belagu banget sih lo!!” mereka melempari Moni dengan puas. Dengan benda apa saja yang ada di dekat mereka.
Moni hampir menangis. Tapi tangis itu tidak dibiarkannya meledak. Dia nggak mau dibilang cewek cengeng dan lemah. Meskipun dia sedih diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya. Tapi dia tidak membiarkan air matanya jatuh walau hanya setetes.
Moni sungguh nggak percaya kalau anak lainnya tega melakukan itu kepadanya. Kalau semua yang dilakukannya itu berhubungan dengan Raka, maka semua akan mempermasalahkannya. Meskipun mereka tau, tidak kesemuanya kesalahan Moni.
Raka membalikkan tubuhnya. Dia nggak jadi pergi dari kantin itu. Sama seperti Moni, dia nggak percaya kalau semua anak akan memperlakukan Moni seperti itu. Raka pun kembali menghampiri Moni dan berusaha untuk melindungi cewek yang saat itu menjadi tempat sasaran empuk timpukan-timpukan kasar dari teman-temannya.
“Berenti!!!” teriak Raka sambil melindungi Moni di belakang tubuhnya. Dia melayangkan kedua lengannya untuk melindungi Moni. Dan, tubuhnya pun sempat menjadi korban timpukan nyasar dari anak-anak. “Berenti!!” pintanya sekali lagi.
Dan… timpukan-timpukan kasar berakhir. Raka menoleh ke arah Moni yang masih saja tidak berkutik. Tidak menangis, tidak melawan, dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Moni hanya diam sambil menahan tangisnya. “Lo nggak apa-apa kan?” tanya Raka sambil memegang pundak Moni.
Tidak ada reaksi dari Moni. Dia malah mengambil langkah dan pergi meninggalkan Raka, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sementara itu, Raka hanya menatap kepergian Moni dari hadapannya.
“Kalian puas sekarang?” tanya Raka pelan. Raka diam sejenak dan menatap sekeliling. Anak-anak terlihat diam dan tertunduk. Mereka tidak menoleh ke arah Raka dan lebih memilih untuk terdiam.
“Kenapa kalian nggak hukum gue? Gue yang salah… gue yang nabrak dia duluan!! Gue yang jail, gue juga yang selalu ganggu dia. Moni nggak salah apa-apa. Dan… apapun yang terjadi antara gue dan Moni, itu bukan urusan kalian!!” kata Raka setengah berteriak. “Makasih… kalau kalian memang bersimpatik sama gue. Tapi bukan gini… Tolong jangan bersikap kasar lagi sama Moni… kalian akan berhadapan dengan gue kalau ini terulang lagi. Jangan pernah nyakitin Moni… Maaf kalau gue kasar!!” kata Raka sambil meninggalkan kantin.
***
“Mon… lo kenapa?” tanya Rani saat melihat wajah sahabatnya memerah saat kembali dari kantin. Tadi… Rani memang tidak berniat untuk ke kantin. Dia lebih memilih menyalin PR ekonominya dibanding pergi ke kantin. So, dia nggak tau dengan apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu. Rani mendekati Moni dan mengambil sebuah bangku kosong milik Raka yang sedang kosong dan menariknya mendekat dengan Moni. Lalu Rani duduk di bangku tersebut dan siap mendengarkan keluhan temannya itu.
Moni menoleh ke arah Rani. Lalu dia menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Dia nggak bisa lagi menahan tangisnya. Walaupun tangisnyaitu bersikeras untuk ditahan olehnya, tapi tetap saja air mata itu jatuh membasahi pipinya.
“Keterlaluan!!” teriak Rani kesal. “Mereka udah keterlaluan!! Gue nggak bisa diem lagi kalau gini ceritanya Mon…” Rani hendak pergi. Tapi langkahnya tertahan lantaran Moni menarik lengannya dan memintanya untuk duduk kembali di sebelahnya.
“Lo mau dipermalukan kayak gue??” tanya Moni.
“Tapi mereka jahat banget!! Mereka tuh aneh!!” kata Rani kesal.
Tak lama kemudian… seseorang muncul dari balik pintu. Raka!! Dia langsung menatap bersalah ke arah Moni. Raka nggak tega melihat Moni. Dia pun mendekat dan meminta waktu kepada Rani untuk membiarkannya bicara dengan Moni. Rani mengerti dan memberikan waktu kepada Raka untuk bicara kepada Moni. Rani pun keluar dari kelas, walaupun lagi-lagi langkahnya terhenti karena ulah Moni yang tidak ingin ditinggal berdua dengan cowok pembawa musibah itu. Tapi Rani membujuknya dan tetap meninggalkannya meski dirinya masih saja merengek.
Raka tersenyum menatap Moni. “Maaf ya…” pinta Raka masih dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya.
Moni tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya diam saja dan menganggap Raka nggak ada.
“Gue… minta maaf…” kata Raka lagi. Tapi tidak juga mendapat respon dari Moni. “Maaf lagi deh…” kata maaf Raka untuk yang ketiga kalinya. Lagi-lagi Moni tidak merespon. Sampai-sampai.. Raka terus mengucapkan kalimat yang sama yaitu maaf untuknya. Tapi tetap saja Moni diam.
Karena Moni bosan mendengar kalimat yang sama dari mulut orang yang sama, dia pun mulai angkat bicara. “Sekalian aja minta maaf seribu kali…” kata Moni jutek.
“Oke…” jawab Raka singkat dan akan segera meminta maaf sampai seribu kali.
Moni memukul pundak Raka. “Gue becanda…” katanya jutek.
“Oya??” tanya Raka konyol. “Tapi gue serius…” katanya sambil tersenyum. “Satu kata maaf mewakili kesalahan anak-anak yang tadi berani jahatin lo. Oke…”
Moni menyipitkan kedua matanya. Kenapa harus Raka yang minta maaf. Kenapa harus dia yang mewakili? Tanyanya dalam hati. “Nggak perlu… harusnya mereka minta maaf sendiri. Bukan lo yang wakilin…”
“Mereka begitu karena gue… gue juga nggak tau kenapa mereka segitunya…” kata Raka sambil tersenyum.
Moni memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia benci sekali melihat senyum Raka yang sok manis itu.
Tak lama kemudian… Raka mengambil sebuah bingkisan kotak terbungkus kertas kado biru dari tasnya dan meletakkan oleh Raka di depan meja Moni. Moni bingung melihat bingkisan kado tersebut. Memangnya siapa yang ultah?? Tanya Moni bingung.
Moni menatap sinis ke arah Raka. Dengan maksud hendak menanyakan arti dari bingkisan yang ada di depan matanya itu.
“Buat lo…” kata Raka seolah mengetahui maksud dari tatapan Moni.
Moni nggak begitu saja menerima bingkisan itu. Dia malah menggeser bingkisan itu agar dekat dengan Raka. Tapi… Raka juga nggak mau bingkisan yang memanng sudah diniatkan untuk diberikan kepada cewek itu kembali ke tangannya. So, dia mengembalikkan lagi bingkisan itu ke hadapan Moni. Dan, Moni sempat mengembalikannya lagi kepada Raka. Sampai akhirnya Raka buka mulut. “Kok lo balikin ke gue terus sih… Ntar nyesel lagi kalo lo tau isinya apa?”
Moni mengernyitkan kedua alisnya. “Emang apa isinya??” tanya Moni curiga.
“Kalo mau tau ya jangan dibalikin lagi donk…” kata Raka sambil memberikan bingkisan itu ke tangan Moni.
Moni memandangi bingkisan itu dan menerka-nerka isi dari bingkisan tersebut. Sepertinya dia tau isi bingkisan tersebut. Dan itu jelas membuatnya penasaran. “Buka…” Moni meminta Raka untuk membukakan bingkisan tersebut.
Raka mengambil bingkisan darinya dan membukakan bingkisan tersebut untuk Moni. Perlahan tapi pasti.
Dan Moni membelalakkan kedua bola matanya, ketika dia melihat apa yang ada dalam bungkusan kertas kado warna biru muda itu. Sebuah DVD. Yang waktu itu sempat direbut oleh Raka. Dia bingung kenapa Raka memberikan DVD itu untuknya.
Seolah membaca sarat kebingungan di wajah Moni, Raka hanya tersenyum tipis melihatnya. “Maaf ya… waktu itu, gue rebut DVD ini dari lo…” kata Raka.
“Kenapa?” tanya Moni bingung.
“Karena lo bilang… lo mesti ngumpulin uang demi beli film ini. Dan lo bilang lo udah lama pengen beli film ini… tapi malah gue rebut. Maaf…” kata Raka mencoba menjelaskan. “Gue juga suka film ini. Padahal… gue bukan cowok cengeng yang hobi nonton film romantic kayak film ini. Tapi… film ini bagus. Bagusss… banget!!” lanjutnya dengan senyuman di bibirnya.
Moni sedikit bingung dengan apa yang dikatakan cowok itu. But, whatever-lah!! Yang penting, dia bisa nonton film yang sudah lama diincar olehnya. Huhu… this is something which can’t believe. Batinnya.
Canon in Love (Bab 1 & Bab 2)
Canon in Love (Bab 5 & Bab 6)
Sabtu, 05 Maret 2011
Canon in Love (Bab 1 & Bab 2)
Cewek bernama Monita itu telah memutuskan untuk tidak pergi meninggalkan taman itu. Moni – panggilan Monita – nggak mau melewatkan sedikitpun hari itu di taman yang menjadi salah satu tempat bersejarah baginya.
Taman pelangi… begitulah Moni memberi nama taman itu. Tiga tahun yang lalu, ada sebuah kenangan indah di taman itu. Sebuah kenangan yang sangat dirindukannya. Ada hal yang membuatnya harus kembali ke taman itu. Seseorang akan menemuinya di taman itu untuk bertemu dengannya. Untuk menepati janjinya untuk bertemu dengan Moni.
Tapi… setelah hampir lima jam Moni menunggu di taman itu, tak ada seorangpun yang datang. Raka, seorang yang ditunggu olehnya, belum juga datang untuk menepati janjinya. Mungkin dia sedikit telat. Pikir Moni yang mencoba menenangkan hatinya.
Raka memang tidak pernah bilang akan menemuinya di taman itu pada pukul berapa. Tapi Moni memutuskan untuk datang lebih pagi ke taman itu. Untuk itu, Moni tidak sedikitpun bergegas pergi dari taman itu, meskipun hujan kini mulai deras.
Ada perasaan rindu yang mendalam di dalam diri cewek itu. Dia sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Raka. Tiga tahun yang lalu, Raka bilang akan menghubunginya ketika dia sudah sampai di Amerika. Tapi… semenjak saat itu, Raka nggak pernah menghubunginya. Ada rasa kehilangan tapi juga ada pengharapan di dalam dirinya. Dia yakin Raka akan kembali dan menemuinya.
Moni mulai meneteskan air matanya. Air mata yang bercampur dengan hujan yang saat itu… seolah-olah ikut merasakan kesedihan di dalam hatinya. Tapi… sekali lagi Moni yakin, bahwa ini adalah air mata untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, dia pasti akan tersenyum dan bahagia. Ya… dia nggak sabar untuk tertawa lagi bersama Raka.
***
Ketika pulang sekolah, Moni langsung pergi dari sekolahnya. Tanpa mengajak Rani – sahabatnya – pulang bersama seperti biasanya. Ya, Moni melupakan itu. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah cepat sampai di ‘BoomBiim Videos’. Sebuah toko kaset, CD, VCD, sampai DVD. Moni nggak mau kehilangan sebuah DVD yang sudah diincarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, Moni harus menabung untuk membeli DVD itu.
Sebuah film yang sejak pertama film itu keluar, Moni sudah yakin sekali kalau film itu bagus. ‘Canon in Love’ ya… sebuah film yang ingin sekali ditontonnya. Tapi film itu tidak diputar di bioskop. Film itu hanya beredar di toko-toko kaset. Untuk itu, perlu banyak uang untuk mendapatkan film yang berasal dari negeri gingseng.
Moni sudah membaca referensi film tersebut di majalah dan internet. Semenjak saat itu, dia yakin sekali kalau film itu pasti keren. Apalagi, soundtrack-nya lagu klasik kesukaan Moni. Yup… Canon in D major yang diaransemen ulang menjadi background music di film tersebut. Semakin jadilah keinginan Moni untuk menonton film tersebut.
Dan setelah Moni sampai di depan toko kaset yang selalu menjadi incaran matanya ketika dia melintas di jalan tersebut, Moni langsung masuk dan cepat-cepat berjalan menuju rak DVD yang sudah diincarnya.
Tiga bulan yang lalu, ketika Moni masuk ke toko itu, masih cukup banyak DVD film ‘Canon in Love’ di toko itu. Lalu, hampir setiap minggu, Moni datang ke toko itu untuk sekedar mengecek apakah DVD itu masih ada atau sudah habis. Dan minggu kemarin, DVD itu hanya bersisa tiga buah. Moni harap-harap cemas. Berharap, DVD itu masih ada.
ADA!! Teriak Moni dalam hati. Tinggal satu lagi… teriak Moni lagi. Dan Moni bergegas mengambil DVD itu. Tapi ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk mengambil DVD itu, ada seseorang yang sudah lebih cepat darinya dan mengambil DVD itu.
Moni menoleh ke arah seorang cowok yang berani-beraninya merebut DVD incarannya itu. Tapi cowok itu cuek dan mengabaikan tatapan gahar Moni ke arahnya. Dia malah dengan santainya pergi meninggalkan Moni dan menuju kasir. Tapi Moni nggak diam begitu saja. Dia harus mendapatkan DVD itu. Batinnya.
“Tunggu…” teriak Moni sambil meraih lengan cowok yang hampir menjauh darinya.
Cowok yang juga masih mengenakan seragam sekolah itupun menoleh ke arah Moni dengan wajah tak berdosa. Sebenarnya, dia tau maksud cewek itu apa. Tapi… dia hanya berpura-pura nggak mengetahui apa-apa. “Kenapa?” tanyanya singkat.
“Itu…” Moni menunjuk ke arah DVD yang dipegang cowok itu. “Gue duluan yang liat!!” kata Moni jutek.
Cowok itu memandangi DVD yang ada dalam genggamannya dan beralih pandang ke arah Moni yang menatapnya dengan wajah penuh kekesalan. “Tapi gue duluan yang ambil…” jawab cowok itu santai dan bergegas pergi.
“Nggak bisa gitu…” balas Moni yang berusaha mencegah kepergian cowok menyebalkan itu. “Gue duluan yang mau beli film itu… udah dari dulu. Dari pertama kali film itu keluar dan masuk ke Indonesia… terus… Gue udah lama nabung buat beli DVD itu. Jadi lo nggak bisa seenaknya ngambil DVD yang udah lama mau gue beli…” kata Moni setengah teriak.
Cowok itu agak sedikit terkesan mendengar perkataan Moni. Dia jadi kasihan dengan cewek itu. Tapi… dia juga penasaran dengan film itu dan ingin menontonnya. “Terus… emangnya ada tulisan di sini kalo DVD ini udah jadi inceran lo dan gue atau orang lain nggak boleh beli gitu…” katanya sambil melirik ke arah lengan kanan Moni.
Moni makin kesal dengan cowok itu. Tapi dia nggak boleh nyerah. Tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul begitu saja di otaknya. Tapi entahlah ide itu bisa berhasil atau tidak. “Gini aja… gimana kalau DVD itu gue beli dan kalau lo mau gue bisa pinjemin ke lo… jadi lo nggak perlu ngeluarin uang kan?”
Cowok itu tersenyum tipis. “Makasih deh…” katanya bergegas pergi.
NYEBELIN!!! Teriak Moni dalam hati. Dia tidak menyangka kalau hari ini dia akan bertemu dengan cowok yang super nyebelin. Huh,, rasanya ingin sekali Moni menangis saat itu. Ya… usahanya selama ini gagal. Dia tidak jadi menonton film yang sudah sejak lama diinginkan olehnya.
***
Raka mematikan DVD-nya setelah film yang baru saja ditontonnya selesai. Film yang mengharukan, yang ceritanya tentang seorang cowok yang berusaha menghilangkan kemunafikan di dalam dirinya dan juga menghilangkan kemunafikan cewek yang dicintainya. Film dimana seorang cowok tersebut berjuang keras melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dan ada satu pelajaran yang dapat diambil oleh Raka. Dari film itu, dia tau bahwa penderitaan yang sedang kita alami harusnya bukan menjadi alasan untuk menjadi lemah. Justru sebaliknya… menjadi kuat dan berusaha bangkit di sisa umurnya. Di film itu, si cowok membuat hidupnya yang mungkin terasa tidak berarti menjadi lebih berarti. Sampai akhirnya, cowok itu berhasil mendapatkan cewek yang dicintainya dan mereka berdua sepakat untuk membuat hidup si cowok lebih berarti.
Meskipun ceritanya tidak berakhir dengan kematian, tapi ceritanya sangat mengharukan. Si cowok yang suka bermain piano pun membuat aransemen baru dari sebuah lagu klasik karya Johann Pachelbel yang sangat terkenal. Lagu tersebut ditujukan untuk cewek yang dicintainya.
Dan setelah Raka menonton film itu, Raka jadi ingat dengan cewek yang tadi sempat memohon agar dia tidak jadi membeli DVD itu. Raka tersenyum geli mengingat kejadian tadi siang. Cewek itu bilang, dia sudah lama sekali ingin menonton film itu. Tapi dia harus menabung dulu untuk membeli film itu.
Sebenarnya Raka bukanlah cowok cengeng yang hobi menonton film romantic yang mengharukan. Tapi… karena dia tidak sengaja mencari sebuah artikel di internet dan ada sebuah blog yang memaparkan tentang synopsis cerita dari film tersebut, Raka jadi penasaran dan ingin menontonnya. Dan benar saja… selain film itu bagus, film itu juga membuatnya mengalami kejadian luar biasa. Bertemu dengan cewek yang terobsesi berat ingin menonton film itu.
Sementara itu, Moni terdiam di kamarnya. Dia memandangi semua uang yang berhasil dikumpulkan olehnya. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk membeli sebuah DVD film ‘Canon in Love’. Tapi usahanya sia-sia. Dia kehabisan DVD itu. Dan tadi siang ketika dia mencari DVD itu di toko lain pun sudah sold out alias habis.
Alhasil, dia hanya murung di kamarnya dan sejak pulang dari mencari DVD film itu, dia tidak keluar dari kamarnya untuk makan ataupun mandi. Yup, Moni ngambek berat dan kesal sekali dengan cowok tadi siang.
“Mon…” terdengar suara Bundanya yang mengetuk pintu kamarnya.
Moni membukakan pintu untuk Bundanya. “Ada apa Bun?” tanyanya datar.
“Moni… kok dari tadi siang kamu nggak keluar kamar sih? Kamu sakit?” tanya Bundanya sedikit cemas.
Moni menggelengkan kepalanya. “Nggak Bunda… aku nggak kenapa-kenapa kok…” katanya sambil menuju ranjangnya.
“Terus… kenapa nggak keluar untuk makan?” tanya Bundanya sambil melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul 7 malam.
“Aku udah kenyang Bunda…” kata Moni berbohong. Padahal, hari ini dia baru mengisi perutnya dengan siomay di kantin sekolahnya.
“Oya?” tanya Bundanya tak percaya. “Kalau mandi??” tanya Bundanya lagi.
Moni membelalakan kedua bola matanya. Sangking kesalnya dengan cowok tadi, dia sampai lupa makan dan mandi. “Hehehe… iya. Udah juga Bunda…” katanya sambil nyengir.
“Kapan?” tanya Bundanya heran. “Bunda nggak liat kamu keluar kamar dan mandi…” lanjut Bundanya.
“Tadi pagi Bunda…” kata Moni sambil tertawa lebar.
Bunda tersenyum melihat putrinya. “Ya udah… sekarang kamu mandi dulu sana..” perintah Bundanya.
“Iya Bunda…” Moni bergegas keluar dari kamarnya.
Dan setelah mandi, Moni berkumpul bersama Bunda dan Kakaknya yang tengah menonton acara TV. Moni memang hanya tinggal bertiga dengan Bunda dan Kakaknya. Sementara ayahnya, bekerja di luar negeri.
Lagi-lagi, malam itu Moni tidak bisa melupakan kejadian tadi siang. Dia masih saja cemberut dan kesal.
“Loh kamu kenapa Mon? kok cemberut gitu?” tanya Bunda kepada anak perempuannya itu. “Gimana DVD nya? Udah beli?” tanya Bundanya lagi yang makin membuat Moni kesal.
“Itu Bunda masalahnya…” Moni menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi siang kepada Bunda dan kakaknya.
“Hahaha… keren donk Dek. Jadi kayak di sinetron gitu dek…” goda Kak Farant kepada adiknya.
“Ihh Kak Farant tuh apaan sih Kak… aku kesel nih…” ujar Moni kesal.
Farant malah makin geli melihat wajah adiknya yang terlipat seperti kertas. “Ya udah berdoa aja biar kamu bisa ketemu dengan cowok itu lagi dek…”
Moni menatap kakaknya kesal. Untuk apa dia bertemu dengan cowok menyebalkan itu lagi. Satu kali saja dia bertemu dengan cowok tadi siang sudah membuatnya naik darah. Apalagi harus bertemu dengan cowok itu untuk yang kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya. “Biar apa gitu kak? Biar kayak sinetron gitu kak?” tanyanya jutek.
“Biar kamu bisa pinjem DVD nya sama dia lah dek…” kata Farant sambil tertawa geli. “Terus ajak kenalan dan minta nomer HP nya… Hahaha…”
“Ihhh…. Kak Farant nyebelin!!!” Moni memukul-mukul tubuh kakaknya yang hampir saja terjatuh dari sofa.
Bunda mencoba menghentikan pertengkaran antara adik dan kakak itu. “Sudah… sudah…”
Moni terlambat datang ke sekolah. Dia kesiangan hari itu. Pasalnya, tadi malam dia sempat lembur karena harus mengerjakan PR matematika yang sangat banyak. Alhasil, dia ditinggal oleh Farant yang sudah berangkat lebih dulu ke kampus. Dan terpaksa, Moni harus rela naik bus dan telat.
Setelah sampai di sekolah pintu gerbang sudah hampir ditutup karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Hampir saja Pak Sutomo – satpam sekolah Moni – mengunci pintu gerbang sekolahnya. Untunglah, Moni diberi kesempatan oleh Pak Sutomo yang baik hati untuk masuk ke sekolah.
Dan setelah Moni sampai di kelasnya…
“Maaf Pak saya telat…” katanya reflek.
Semua teman-teman memandang Moni yang penuh dengan keringat. Termasuk Pak Bono dan seorang cowok yang tengah berdiri di depan kelas.
Cowok itu anak baru. Dia baru saja memperkenalkan dirinya di depan kelas. Tapi perkenalannya terpotong, lantaran Moni mengganggunya. Dan betapa terkejutnya Moni saat dilihatnya siapa cowok itu.
“Raka…” tegur Pak Bono. “Kamu boleh duduk… di bangku yang masih kosong…” Pak Bono mempersilakan Raka untuk duduk di bangku yang masih kosong. “Kamu Moni… ke sini kamu…” Pak Bono menyuruh Moni mengekornya ke meja guru.
Moni masih terbengong melihat cowok yang bernama Raka itu ada di sekolahnya. Bahkan dia menuju tempat duduk Moni. Wah,, masa dia mau duduk di bangku gue sih? Batin Moni. Tapi Moni tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalya dia sudah tau kalau Pak Bono akan mengintrogasinya. Dan… entah berapa lama Pak Bono akan mengomelinya.
Dan setelah Pak Bono selesai bertanya-tanya kepada Moni, Pak Bono langsung mempersilakan moni untuk duduk di bangkunya. Dengan perasaan kesal, Moni menghampiri bangkunya yang tak lagi kosong. Tapi ada penghuni baru di sana. Penghuni yang membuatnya kesal sekali.
“Ini bangku gue…” terangnya sambil mengusir Raka secara tidak langsung.
“Ini bangku punya sekolah… bukan punya lo!” balas Raka.
Moni geram mendengar perkataan Raka. Cowok itu benar-benar menyebalkan. Kemarin, Raka membuatnya kesal dengan merebut DVD yang sudah menjadi incarannya sejak beberapa bulan lalu. Dan sekarang, Raka membuatnya lagi-lagi kesal dengan merebut bangkunya. Benar-benar nyebelin. Teriak Moni dalam hati. “Tapi gue duluan yang duduk di sini… kenapa lo nggak duduk di situ aja…” kata Moni sambil menunjuk sebuah bangku yang masih kosong di samping bangkunya.
“Tapi sekarang yang duduk duluan di sini gue duluan…” balas Raka lagi.
“Ihhh… lo nyebelin banget tau nggak!!” teriak Moni yang membuat Pak Bono dan anak-anak lainnya menatap Moni aneh.
“Moni…” tegur Pak Bono. “Apa-apaan kamu!! Sudah terlambat, buat masalah lagi… Ada apa?” tanya Pak Bono galak.
“Ini tempat duduk saya Pak… dia nggak mau pindah…” katanya sambil melirik ke arah Raka.
“Kamu kan terlambat. Jadi kamu harusnya mengalah! Kalau kamu tidak mau bangkunmu di tempati oleh orang lain, kenapa kamu tidak datang lebih awal…” kata Pak Bono.
Moni berdecak kesal. Apalagi dilihatnya Raka yang tengah tersenyum mengejek. Dan juga tatapan jutek Vanda cs yang memang sok artis. Moni yakin sekali, kalau Vanda cs langsung klepek-klepek begitu melihat Raka. Dan sudah pasti, Moni bakal disudutkan karena berani melawan cowok keren di sekolahnya.
Moni menarik nafas dalam-dalam dan bergegas duduk di bangku yang masih kosong.
***
Kring!! Bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Moni kembali menatap jutek ke arah Raka. Dia mengamati cowok yang duduk di bangkunya. Cowok itu, boleh aja keren… tapi nyebelin. Jadi… sudah pasti Vanda, Keyla, dan Ovi langsung carper dengan anak baru itu.
Raka yang sadar banget kalau dirinya menjadi perhatian cewek di sampingnya pun hanya bisa terenyum geli. Dan Raka membalas tatapan Moni. Tapi ketika dia melepaskan pandangannya ke arah Moni, Moni langsung memalingkan wajahnya. “Ada yang mau lo omongin ke gue?” tanya Raka kemudian.
Moni geram mendengar perkataan Raka barusan. Dia pun kembali menatap Raka dengan tatapan jutek. “Ngapain? Mendingan gue ngajak ngomong monyet daripada ngomong sama lo…” kata Moni kesal.
Raka tertawa kecil mendengar jawaban Moni. “Terus kenapa lo ngeliatin gue terus?” tanya Raka lagi.
“Siapa yang ngeliatin lo… sok keren banget sih!!” tuding Moni.
“Ohh gue keren… makasih deh…” canda Raka.
Moni menjulurkan lidahnya. Dia muak sekali mendengar perkataan Raka barusan. Dibilang sok keren malah GR. Emang nyebelin tuh cowok. Batin Moni.
Tiba-tiba… Vanda cs datang menghampiri Raka.
“Hai Raka…” sapa Vanda sok manis. Moni dan Rani geli sekali melihat tingkah cewek itu yang selalu cari-cari perhatian kepada cowok-cowok keren di sekolahnya.
Raka bingung melihat cewek itu. Dia enggan membalas sapaan cewek itu. Tapi dia menggantinya dengan tersenyum tipis.
“Kenalin… gue Vanda…” katanya lagi-lagi sok manis sambil menjulurkan tangan kanannya. Raka membalas uluran tangan Vanda. Sementara itu, Moni dan Rani yang saat itu duduk dengan dipisahkan oleh Raka yang duduk di tengah-tengah antara Moni dan Rani pun tertawa geli melihat kelakuan Vanda.
“Gue Ovi…” serang Ovi yang nggak mau kalah.
Keyla yang juga ada di sana pun nggak mau kalah dan meminta agar Vanda dan Ovi menyingkir. “Gue Keyla…” katanya sambil menyunggingkan senyum termanisnya – bagi Keyla loh.
Dan saat itu, Bu Nay datang dan segera menyuruh anak-anak untuk duduk di bangkunya masing-masing. Inilah saat-saat yang ditunggu oleh Moni. Kedatangan Bu Nay yang merupakan guru favorite-nya. Tentunya banyak alasan mengapa Bu Nay masuk ke dalam kategori guru favorite Moni. Itu disebabkan karena Bu Nay mengajar mata pelajaran seni musik yang merupakan pelajaran kesukaan Moni. Selain itu, Bu Nay juga sangat baik dan ramah. So, No wonder, If she likes her.
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita tidak belajar di kelas… kita akan ke gedung seni musik..” kata Bu Nay menjelaskan.
Moni makin semangat mendengar ajakan Bu Nay untuk belajar di gedung seni music. Dia bergegas memberesakan semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
***
“Baiklah anak-anak… sebelum kita mulai belajar, ibu ingin berkenalan dulu dengan anak baru di kelas ini…” Bu Nay menatap Raka yang sudah mulai membaur dengan anak-anak cowok di kelas XI IPS 2. “Ayo perkenalkan dirimu..” pinta Bu Nay.
Raka berdiri dari tempat duduknya dan memperkenalkan dirinya. “Nama saya Raka Putra. Saya pindahan dari SMA Teladan…” katanya menjelaskan.
“Kenapa kamu pindah ke sini Raka?” tanya Bu Nay yang bingung kenapa Raka pindah di tengah-tengah semester ganjil.
“Saya bosan Bu. Ingin mencari suasana baru dan… ada hal penting yang membuat saya pindah ke sini…” katanya mencoba menjelaskan alasan kepindahannya dari SMA Teladan ke SMA Bakti Negara.
Di benak Moni terlintas negative thinkin’. Dia yakin sekali kalau Raka itu dikeluarkan dari sekolah karena mungkin Raka itu di luar saja kelihatan baik tapi… mungkin aslinya lebih buruk. Dan orangtuanya yang tentunya kaya raya, bisa saja membuat sekolahnya menerima keberadaan anak nakal itu. Tentunya dengan sejumlah sumbangan ini dan itu… pikir Moni.
“Oke! Bisa bermain alat musik?” tanya Bu Nay kemudian.
Raka tersenyum tipis. “Sedikit…” katanya lagi.
Bu Nay tersenyum. “Bisa tunjukkan ke teman-temanmu?” tanyanya.
Raka tersenyum tipis dan segera melangkahkan kakinya menuju sebuah gitar akustik. Raka lalu mengambil satu bangku kosong yang tidak begitu jauh darinya dan duduk di bangku tersebut. Lalu, dia mulai memetik gitarnya perlahan.
Dari petikan pertama yang dimainkan oleh Raka, Moni sudah bisa menebak lagu apa yang akan dimainkan oleh cowok itu. Yup, Raka memainkan lagu Canon in D major versi akustik. Dan saat itu, Moni tertegun dengan kepiawaian Raka memainkan gitar.
Semua yang ada di kelas saat itu terhanyut dengan permainan gitar yang indah dari Raka. Termasuk Bu Nay yang juga kagum dengan permainan gitar Raka. Kelas yang tadinya berisik, kini hening. Hanya terdengar dentingan gitar yang dimainkan Raka. Semuanya menikmatinya. Termasuk Moni. Yang tanpa disadari olehnya, kalau dia tengah mengagumi cowok itu.
Dan saat tatapan Raka jatuh kepada Moni, Moni langsung kaget dan memalingkan pandangannya. Dia menyesal karena sudah menatap cowok itu dengan lekat. Pasti dia GR! Batin Moni. Benar kan… batin Moni membenarkan ketika dilihatnya Raka tersenyum licik ke arahnya.
Tepukan tangan keras dari semua yang ada dikelas itu, termasuk Bu Nay, membuyarkan lamunan Moni. Raka telah menyelesaikan sebuah lagu klasik yang dimainkannya dengan gitar akustik. Semua anak bersorak sambil bertepuk tangan. Tapi hanya Moni yang tidak melakukannya. Bahkan Rani heran kenapa sohibnya itu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-temannya yang lain. Padahal, Rani tau benar kalau Moni itu pecinta music klasik. Terlebih lagi, dia sangat menyukai lagu Canon in D major. Jadi… mungkin Moni masih kesal dengan Raka karena sudah merebut bangkunya. Rani nggak tau apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kedua orang itu. Moni membenci Raka bukan saja karena Raka telah merebut bangkunya. Tapi juga merebut DVD yang ingin dibelinya sejak lama.
Rani menyenggol lengan Moni dan menyuruhnya untuk ikut bertepuk tangan. Moni ogah sekali melakukannya. Tapi… pada akhirnya dia bertepuk tangan dengan malas.
Canon in Love (Bab 3 & Bab 4)



