BAB 11
Minggu pagi…
Farant dengan seriusnya menonton kartun kesukaannya. Tapi… tiba-tiba adik satu-satunya itu datang dan mengganggu acara santainya di hari libur. Alhasil, Farant langsung sentiment dengan adiknya yang sudah siap mengatakan sesuatu.
Farant tidak mempedulikan adiknya dan tetap saja menonton TV. Padahal, Moni sudah duduk di sampingnya dan hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Melihat kakaknya yang tidak peduli kepadanya, Moni berpindah posisi. Dia berjalan munuju TV dan berdiri tepat di depan TV. Alhasil, perhatian Farant sudah bukan lagi kea rah kartun yang sedang ditontonnya, melainkan kea rah adiknya yang tidak member sedikitpun celah agar dia bisa menonton.
“Aduhh Dek… awas donk!! Lagi seru tuh..” teriak Farant.
Moni makin menjadi. Dia nggak mau kakaknya menonton kartun itu. Tindakannya malah lebih menjadi lagi. Dia mematikan secara paksa TV tersebut dan melotot kea rah kakaknya.
“Aduhh Dek… kok dimatiin sih??” tanya Farant sambil bergegas menyalakan TV kembali. Tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya, lantaran Moni kini mulai cemberut dan memasang muka sedih. Tentu saja, Farant nggak tega melihat wajah adiknya yang super jelek itu. Dia pun mengalah dan dan mulai memberikan perhatian kepada adiknya.
“Kenapa sih??” tanya Farant kemudian.
“Aku mau ngomong…” jawab Moni kesal.
“Iyaaaa…. Iya… mau ngomong apa?” tanya Farant lagi.
Moni tersenyum puas karena akhirnya kakaknya mau bicara dengannya. “Kak… gimana kalo kita ajakin Bunda ke Singapore? Ngunjungin Ayah Kak…”
Wajah Farant berubah. Dia kini mulai bingung dengan perkataan adiknya itu. “Hah? Ke Singapore?” tanya Farant. Sementara Moni menganggukkan kepalanya. “Emm… emang kenapa Dek? Kamu kangen sama Ayah?” tanyanya kemudian.
Moni menganggukkan kepalanya lagi.
Farant berpikir sejenak. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Tapi kemudian, dia tersenyum dan menyetujui saran adiknya. “Boleh juga… ya udah nanti kakak bantuin ngomong sama Bunda ya…”
***
Moni harap-harap cemas menunggu jawaban Bundanya agar menuruti keinginannya untuk menemui Ayahnya di Singapore. Tadi, Farant sudah menjadi juru bicara untuknya dan menjelaskan keinginan Moni untuk bertemu ayahnya. Memang agak aneh rasanya, karena kakaknya itu bisa secara tiba-tiba dan secara cuma-cuma mau begitu saja membantunya. Padahal, biasanya… Farant tidak pernah memberikan jasa gratis kepada adiknya. Entah kenapa, Moni melihat sisi lain di dalam diri kakaknya yang mendadak serius.
Bunda sedikit tersentak dengan perkataan Farant. Dia menatap kedua anaknya secara bergantian dan penuh kebingungan. Tapi kemudian, dia berpikir sejenak dan segera memberikan jawaban.
“Bunda akan usahakan supaya ayah pulang Mon…” jawab Bunda mencoba memberikan kepastian kepada Moni.
“Tapi Bunda… udah berapa kali ayah bilang kalau mau pulang? Tapi ayah nggak pulang-pulang. Mungkin ayah sibuk… jadi, kenapa bukan kita yang kunjungin ayah?” kali ini Moni tak lagi diam.
Bunda berpikir lagi sejenak. Lalu menatap Farant seolah meminta Farant untuk membantunya.
“Moni bener Bunda… mungkin memang kita yang seharusnya memberikan waktu untuk ayah…” kata Farant seolah mengerti maksud tatapan Bundanya.
Bunda makin bingung dengan situasinya. Kalimat Farant yang baru saja keluar dari mulutnya, sama sekali tidak membantu. Tapi malah makin membuat Bunda berada dalam situasi tersulit.
“Iya Bunda…” rengek Moni.
Setengah ragu, Bunda kemudian memutuskan. Meskipun dengan berat hati. “Ya udah… kamu boleh pergi menemui ayah. Tapi… kalau raport kamu nilainya bagus… bisa?”
“Beneran Bunda??” Moni membelalakan kedua bola matanya. Akhirnya dia bisa melepas rindunya kepada ayah. “Asikkk……”
Farant tersenyum tipis melihat kegirangan adiknya. Dan menatap Bundanya yang juga menatapnya.
***
Malam itu, Moni merenung sendiri di kamarnya. Sebenarnya, dia kasihan dengan Bunda. Dia nggak tega melihat Bunda harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tiket dan memberi sejumlah uang untuk Moni agar bisa pergi ke Singapore. Moni, tau… mungkin hal itulah yang membuat Bunda mempertimbangkan secara matang.
Tapi Moni punya usul agar meminta ayahnya mengirimkan uang agar Moni bisa pergi ke Singapore. Dan jawaban Bunda hanya, “Nanti Bunda usahakan…”. Tidak begitu jelas maksud Bunda yang sebenarnya. Apakah akan mengusahakan sendiri, ataukah memintanya kepada ayah.
Dan Moni sangat sulit membayangkan, jika Bunda mengumpulkan sebagian uang gaji Bunda yang hanya seorang guru SMP. Tapi Bundanya berjanji akan memberangkatkan dirinya untuk menemui ayahnya. Dan… Bunda bilang, hanya Moni saja yang akan pergi ke Singapore. Itu yang sebenarnya membuat Moni bingung.
Tak lama kemudian, ponsel Moni berbunyi. Ada sms… desis Moni. Moni meraih ponselnya yang diletakkan di meja belajarnya. Dengan segera dia membaca sms yang masuk. Dan nomer yang tertera di layar ponselnya adalah nomer yang belum tersimpan di ponselnya.
Gimana? Lo baik-baik aja kan?
Begitulah bunyi pesan singkat dari seorang yang tidak dikenal oleh Moni. Tapi… sepertinya Moni tau siapa orang itu. Awalnya, Moni bingung akan membalas pesan dari orang itu atau nggak. Namun akhirnya dia penasaran juga dengan siapa orang yang mengirimkan pesan kepadanya. Tanpa basa-basi apalagi membalas pertanyaan orang tersebut, Moni pun membalas pesan orang tersebut yang berbunyi,
Siapa?
Pesan terkirim. Tak lama kemudian ponsel Moni berbunyi lagi. Rupanya balasan sms dari orang di sebrang.
Manusia…
Jawab orang itu asal. Sementara itu, Moni geram sekali dengan jawaban orang itu. Dia pun membalas sms orang itu dengan jutek dan kesal.
Gue kira monyet!!
Tak lama kemudian orang itu membalas sms Moni. Dan mata Moni terbelalak ketika dibacanya balasan sms dari orang di sebrang.
Hahaha… nggak jauh beda. Ternyata lo memang jutek ya… Gue Raka. Sori deh bikin lo kesel.
Huh!! Teriak Moni dalam hati. Dia memang sudah mengira kalau orang itu Raka. Mestinya tidak perlu dia membalas pesan itu.
Ngapain lo sms gue?
Tanya Moni lagi-lagi jutek.
Loh… tadi kan gue tanya sama lo, lo baik-baik aja or nggak. Trus juga sekalian gue mau tanya sama lo, gimana tentang bokap lo?
Dasar sok perhatian!! Batin Moni.
Gue baik-baik aja. Soal bokap gue, gue udah ngomong kok sama nyokap gue. Sekarang gentian gue yang tanya. Darimana lo dapetin nomer HP gue?
Raka tersenyum tipis membaca sms dari Moni.
Dari orang lah…
Membaca balasan sms dari Raka, Moni kembali kesal. Dia pun nggak mau kalah dan membalas lag isms untuk Raka.
Cepet deh lo bilang aja siapa yang ngasih nomer gue ke lo… Rani?
Tapi, Raka nggak lagi membalas sms dari Moni. Bermenit-menit, bahkan sampai hitungan jam, Raka tidak juga membalas sms dari Moni. Entah kenapa Raka tiba-tiba tidak membalas sms dari Moni. Yang jelas, Moni kesal dan marah sekali dengan itu.
BAB 12
Keesokkan harinya, Raka tidak masuk sekolah. Padahal,dia sudah menunggu-nunggu cowok itu dan siap mengintrogasinya. Tapi rupanya memang Moni harus bersabar. Dia mpun menunggu keesokkan harinya lagi. Ya… mungkin saja Raka akan datang ke sekolah dan disituah cewek itu siap untuk memarahinya. Tentunya karena Raka tidak membalas sms, yang dianggap Moni sangat penting sekali.
Tapi sayangnya, Raka tidak masuk sekolah lagi untuk kedua kalinya. Dan itu berlanjut sampai satu minggu. Moni mulai bertanya-tanya kemana Raka selama dia tidak masuk. Kalau memang sakit, kenapa sampai begitu lama. Dan memang sepertinya Raka tidak sakit, karena Pak Bono hanya minta kepada sekertaris kelas yang mengabsen anak-anak yang hadir untuk menuliskan ijin untuk Raka.
Hari senin berikutnya, yang merupakan ujian kenaikan kelas, barulah Raka muncul. Dengan gayanya yang khas, yaitu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, cowok itu duduk di bangku urut sesuai dengan nomer peserta ujian.
Kali ini, Moni dan Raka tidak lagi duduk bersebelahan. Moni mendapat tempat duduk nomer dua dari depan, sedangkan Raka nyaris duduk di bangku bagian belakang. Dan sejak cowok itu datang, pandangan Moni tak lepas dari cowok itu. Dia terus menatap Raka yang baginya sangat menyebalkan. Raka sadar banget dengan tatapan Moni yang tak lepas darinya. Dan akhirnya, cowok itu menatap balik Moni yang melihatnya dari bangku depan. Dan seperti biasa, Moni yang tertangkap basah oleh Raka karena diam-diam mencuri pandang ke arah Raka pun langsung mengalihkan pandangannya. Cewek itu berbalik badan dan tidak lagi membelakangi papan tulis. Dan Raka, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Moni.
Sementara itu, Moni yang sejak tadi megamati Raka, rupanya menangkap sesuatu yang lain dari diri Raka. Entahlah itu hanya perasaannya saja, atau memang benar ada yang berbeda dari cowok itu. Raka terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Padahal, katanya Raka selama seminggu tidak sakit tapi hanya pergi ke luar kota atau malah ke luar negeri. But, whatever-lah… Raka sakit atau nggak toh bukan urusannya sama sekali. Moni langsung membuang jauh-jauh rasa penasarannya dan dia mau melupakan kejadian malam itu. Dia nggak akan bertanya-tanya kenapa Raka tidak membalas pesannya. Never!! Cowok itu pasti akan jadi besar kepala!! Batinnya.
Kring!! Tanda masuk telah berbunyi. Waktunya ujian akan dimulai. Guru yang hari itu mengawas ujian Bahasa Indonesia pun telah datang dan bersiap membagikan kertas ujian beserta soalnya. Kertas ujian dibagikan oleh Bu Hana dengan memberikannya kepada barisan yang paling depan. Setelah semua siswa mendapat kertas masing-masing, semua siswa mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan.
***
“Mon, sorry… waktu itu gue nggak bales sms dari lo…” Raka menarik lengan Moni ketika Moni akan pergi ke kantin.
Huh… kenapa baru minta maaf sekarang? Nggak sekalian aja tahun depan!! Udah basi banget tauuu…. Teriak Moni dalam hati. “Ohhh… gue nggak marah kok!! Lo kira gue marah??” kata Moni jutek. Moni melepaskan lengannya dari genggaman tangan Raka. Dan setelah lengannya terlepas dari genggaman Raka, Moni langsung melangkahkan kakinya kembali menuju kantin.
Raka tidak menahan Moni lagi. Dia malah berjalan mengekor di belakang Moni. “Ohh… nggak mau tau ya gue dapet nomer lo siapa?” tanya Raka geli.
“Nggak!!” jawab Moni singkat.
Raka tidak membalas perkataan Moni. Dia diam saja dan sedikit berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas Raka terlihat tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Lalu, Raka dikagetkan dengan suara Moni yang tiba-tiba saja membuyarkan segalanya. “Lo ngapain sih ngikutin gue?” kata Moni kesal.
“Emangnya gue ngikutin lo?” tanya Raka datar. Tiba-tiba saja, semangatnya hilang. Dia ingin kembali seperti biasanya. Menggoda Moni, menjawab pertanyaan cewek itu dengan santai, dan membuat cewek itu kesal. Tapi… dia sedang dalam keadaan, dimana dirinya tidak lagi bisa tersenyum geli melihat amarah yang tiba-tiba muncul di dalam diri Moni. Dia bisa melakukannya. But, he’s just pretending!!
“Iya… dari tadi lo ngikutin gue…” jawab Moni lagi-lagi dengan nada kesal. Moni membaca sesuatu di raut wajah Raka. Ada yang berbeda. Batinnya.
Tapi sesaat kemudian, Raka kembali tersenyum tipis. Kali ini, dia mulai bisa mengkondisikan kebiasaannya seperti sedia kala. Dan kali ini, tidak berbeda. Batin Moni.
“Ya udah… sekarang lo tunjukin sama gue jalan kea rah kantin selain jalan ini…” balas Raka yang mebuat Moni kalah telak. Ya, karena Raka memang benar. Nggak ada lagi jalan menuju kantin, selain jalan yang sedang dilalui mereka berdua.
Moni diam tanpa mengatakan apapun. Dia bingung mau menjawab apa.
“Ke kantin cuma lewat sini doang kan??” tanya Raka dengan senyum tipisnya lagi. Dan senyum tipis Raka yang sebenarnya senyuman iklas, bagi Moni senyum itu adalah senyuman picik nan liciknya Raka. Pasti cowok itu merasa menang!!! Batin Moni.
Moni membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Raka. Terserah cowok itu mau ke kantin lewat mana saja. Yang penting sekarang, Moni ingin segera sampai ke kantin dengan jarak yang agak jauh dari Raka.
***
Ujian semester kenaikan kelas telah berakhir. Kini hanya tinggal penentuan bagi semua anak apakah akan naik kelas atau tidak. Dan hari itu, merupakan hari yang sangat penting bagi Moni. hari dimana keputusan Bunda untuk memberangkatkannya ke Singapore atau tidak. Jika nilai raportnya baik, maka Moni akan terbang ke Singapore. Tapi kalau tidak, ya… mungkin Moni harus lebih bersabar lagi.
Hari itu, Bunda menyempatkan waktunya untuk mengambil raport Moni di sekolahnya. Bunda mengenakan batik modern yang sangat cantik. Sementara Moni, tetap dengan seragam putih abu-abunya.
Terlihat semua wali murid sudah berkumpul di depan kelas Moni beserta anak-anaknya. Termasuk juga mama Raka yang sudah menunggu di depan pintu kelas yang masih tertutup. Pandangan Moni langsung jatuh kepada ibu dan anak tersebut. Begitupun dengan Raka yang merasa sadar kalau ada seorang cewek yang tengah menatapnya.
Mama Raka menangkap sesuatu dari tatapan Raka yang tertuju ke suatu arah. Dan setelah dirinya mencoba menatap kea rah yang dituju oleh Raka, mama Raka langsung mengerti. Beliau lalu mengajak Raka menghampiri Moni yang sedang mengobrol dengan Rani dan mamanya.
“Moni…” sapa mama Raka.
Moni menoleh kea rah suara berasal. Begitupun dengan Bunda, Rani dan mama Rani yang juga ikut menoleh kea rah suara itu berasal. “Tante…” balas Moni dengan senyumannya.
“Kamu apa kabar?” tanya mama Raka dengan ramah.
“Baik Tante…” Moni mengerti dengan tatapan Bundanya yang seolah bertanya-tanya siapa wanita cantik yang tengah mengajaknya bicara itu. “Ohh iya, Bunda ini mamanya Raka, temen aku… Tante, ini Bunda aku…” kata Moni mencoba memperkenalkan. “Ini Rani, dan ini mama Rani…”
Raka nggak nyangkan kalau Moni akan bilang bahwa dia adalah temannya. Selama ini, gadis itu selalu membencinya. Itu yang dilihat olehnya. Walaupun Raka tau benar, Moni itu tulus dan baik.
Sambil menunggu pintu kelas dibuka oleh wali kelas, Bunda beserta mama Raka dan Rani berbincang-bincang. Begitupun dengan Moni dan Rani yang juga berbincang-bincang dengan obrolan seputar hal-hal yang nggak penting. Apapun bisa jadi bahan obrolan. Selama waktu menunggu tidak membosankan. Sementara itu, Raka lebih memilih mengotak-atik ponselnya daripada ikut ngerumpi. Ya… jelas saja, dia kan cowok sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Pak Bono datang dengan membawa tumpukkan raport yang siap dibagikan kepada wali murid-muridnya. Tentunya, bukan hanya raport saja yag dibawa olehnya. Semalam suntuk, Pak Bono pasti sudah mempersiapkan apa saja yang akan menjadi bahan tambahan yang akan disampaikan kepada wali murid. Tentu aja omelan bagi murid yang nilainya turun, ancur, jelek, banyak merahnya, apalagi sampai nggak naik kelas.
Semua wali murid yang hadir duduk secara acak dimana saja ada bangku kosong. Termasuk Moni dan Bundanya yang duduk di bangku tengah. Pembagian raport dimulai berdasarkan abjad. Dan, yang pertama kali dipanggil adalah Anton yang no urut absennya pertama. Tampak raut wajah bingung yang diperlihatkan oleh Anton. Mungkin saja, cowok itu takut kalau dia nggak naik kelas. Ya, memang dia agak sedikit bandel di kelas.
Beberapa murid yang no urut absennya lebih dulu sudah dipanggil oleh Pak Bono. Meskipun ada saja murid yang namanya dilewati lantaran orangtuanya belum datang. Sebentar lagi, nama Moni akan dipanggil. Hanya tinggal menunggu tiga nama murid yang no urutnya diatas Moni saja. Jantung Moni berdegub kencang. Tak seperti biasanya. Ini pertaruhan!! Batinnya.
Tiba-tiba, ponsel Bunda berbunyi. Bunda langsung merasa nggak enak, kala ponselnya berbunyi nyaring dan menjadi pusat perhatian. Beliau langsung meminta ijin untuk keluar dan mengangkat telpon dari nomer yang tidak dikenal olehnya.
“Halo…” terdengar suara seorang cewek. Suara cewek itu bergetar dan seperti orang bingung. Bunda langsung menanyakan siapa cewek itu. Dan setelah Bunda tau apa yang telah terjadi, Bunda tak lagi bisa berkutik.
Bunda masuk ke dalam kelas Moni dan meminta waktu sebentar kepada Pak Bono. Setelah Pak Bono mengijinkannya, dia meminta Moni untuk mengambil raportnya sendiri dan menyusulnya ke Rumah Sakit Pelita. Moni bingung dan nggak mengerti. Tapi Bundanya enggan menjelaskan, karena beliau terburu-buru. Moni pun menahan rasa penasarannya hingga nanti pulang sekolah. Walaupun sebenarnya, dia khawatir dan gelisah.
Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Moni. Tapi juga oleh Rani dan Raka yang juga ikut bersimpati. Walaupun mereka nggak tau pasti apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Bunda terlihat sangat panik dan khawatir.
Canon in Love (Bab 9 & Bab 10)
Canon in Love (Bab 13 & Bab 14)
Tampilkan postingan dengan label sinetron. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinetron. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Mei 2011
Canon in Love Bab 11 & 12
Sabtu, 05 Maret 2011
Canon in Love (Bab 1 & Bab 2)
BAB 1
Siang itu, langit begitu mendung dan segera membasahi bumi. Tapi, seorang cewek yang tengah duduk di bawah pohon di sebuah taman itu tidak bergegas untuk pergi. Dia tetap duduk di bawah pohon, tanpa menghiraukan hujan yang kini mulai rintik-rintik.
Cewek bernama Monita itu telah memutuskan untuk tidak pergi meninggalkan taman itu. Moni – panggilan Monita – nggak mau melewatkan sedikitpun hari itu di taman yang menjadi salah satu tempat bersejarah baginya.
Taman pelangi… begitulah Moni memberi nama taman itu. Tiga tahun yang lalu, ada sebuah kenangan indah di taman itu. Sebuah kenangan yang sangat dirindukannya. Ada hal yang membuatnya harus kembali ke taman itu. Seseorang akan menemuinya di taman itu untuk bertemu dengannya. Untuk menepati janjinya untuk bertemu dengan Moni.
Tapi… setelah hampir lima jam Moni menunggu di taman itu, tak ada seorangpun yang datang. Raka, seorang yang ditunggu olehnya, belum juga datang untuk menepati janjinya. Mungkin dia sedikit telat. Pikir Moni yang mencoba menenangkan hatinya.
Raka memang tidak pernah bilang akan menemuinya di taman itu pada pukul berapa. Tapi Moni memutuskan untuk datang lebih pagi ke taman itu. Untuk itu, Moni tidak sedikitpun bergegas pergi dari taman itu, meskipun hujan kini mulai deras.
Ada perasaan rindu yang mendalam di dalam diri cewek itu. Dia sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Raka. Tiga tahun yang lalu, Raka bilang akan menghubunginya ketika dia sudah sampai di Amerika. Tapi… semenjak saat itu, Raka nggak pernah menghubunginya. Ada rasa kehilangan tapi juga ada pengharapan di dalam dirinya. Dia yakin Raka akan kembali dan menemuinya.
Moni mulai meneteskan air matanya. Air mata yang bercampur dengan hujan yang saat itu… seolah-olah ikut merasakan kesedihan di dalam hatinya. Tapi… sekali lagi Moni yakin, bahwa ini adalah air mata untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, dia pasti akan tersenyum dan bahagia. Ya… dia nggak sabar untuk tertawa lagi bersama Raka.
***
Ketika pulang sekolah, Moni langsung pergi dari sekolahnya. Tanpa mengajak Rani – sahabatnya – pulang bersama seperti biasanya. Ya, Moni melupakan itu. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah cepat sampai di ‘BoomBiim Videos’. Sebuah toko kaset, CD, VCD, sampai DVD. Moni nggak mau kehilangan sebuah DVD yang sudah diincarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, Moni harus menabung untuk membeli DVD itu.
Sebuah film yang sejak pertama film itu keluar, Moni sudah yakin sekali kalau film itu bagus. ‘Canon in Love’ ya… sebuah film yang ingin sekali ditontonnya. Tapi film itu tidak diputar di bioskop. Film itu hanya beredar di toko-toko kaset. Untuk itu, perlu banyak uang untuk mendapatkan film yang berasal dari negeri gingseng.
Moni sudah membaca referensi film tersebut di majalah dan internet. Semenjak saat itu, dia yakin sekali kalau film itu pasti keren. Apalagi, soundtrack-nya lagu klasik kesukaan Moni. Yup… Canon in D major yang diaransemen ulang menjadi background music di film tersebut. Semakin jadilah keinginan Moni untuk menonton film tersebut.
Dan setelah Moni sampai di depan toko kaset yang selalu menjadi incaran matanya ketika dia melintas di jalan tersebut, Moni langsung masuk dan cepat-cepat berjalan menuju rak DVD yang sudah diincarnya.
Tiga bulan yang lalu, ketika Moni masuk ke toko itu, masih cukup banyak DVD film ‘Canon in Love’ di toko itu. Lalu, hampir setiap minggu, Moni datang ke toko itu untuk sekedar mengecek apakah DVD itu masih ada atau sudah habis. Dan minggu kemarin, DVD itu hanya bersisa tiga buah. Moni harap-harap cemas. Berharap, DVD itu masih ada.
ADA!! Teriak Moni dalam hati. Tinggal satu lagi… teriak Moni lagi. Dan Moni bergegas mengambil DVD itu. Tapi ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk mengambil DVD itu, ada seseorang yang sudah lebih cepat darinya dan mengambil DVD itu.
Moni menoleh ke arah seorang cowok yang berani-beraninya merebut DVD incarannya itu. Tapi cowok itu cuek dan mengabaikan tatapan gahar Moni ke arahnya. Dia malah dengan santainya pergi meninggalkan Moni dan menuju kasir. Tapi Moni nggak diam begitu saja. Dia harus mendapatkan DVD itu. Batinnya.
“Tunggu…” teriak Moni sambil meraih lengan cowok yang hampir menjauh darinya.
Cowok yang juga masih mengenakan seragam sekolah itupun menoleh ke arah Moni dengan wajah tak berdosa. Sebenarnya, dia tau maksud cewek itu apa. Tapi… dia hanya berpura-pura nggak mengetahui apa-apa. “Kenapa?” tanyanya singkat.
“Itu…” Moni menunjuk ke arah DVD yang dipegang cowok itu. “Gue duluan yang liat!!” kata Moni jutek.
Cowok itu memandangi DVD yang ada dalam genggamannya dan beralih pandang ke arah Moni yang menatapnya dengan wajah penuh kekesalan. “Tapi gue duluan yang ambil…” jawab cowok itu santai dan bergegas pergi.
“Nggak bisa gitu…” balas Moni yang berusaha mencegah kepergian cowok menyebalkan itu. “Gue duluan yang mau beli film itu… udah dari dulu. Dari pertama kali film itu keluar dan masuk ke Indonesia… terus… Gue udah lama nabung buat beli DVD itu. Jadi lo nggak bisa seenaknya ngambil DVD yang udah lama mau gue beli…” kata Moni setengah teriak.
Cowok itu agak sedikit terkesan mendengar perkataan Moni. Dia jadi kasihan dengan cewek itu. Tapi… dia juga penasaran dengan film itu dan ingin menontonnya. “Terus… emangnya ada tulisan di sini kalo DVD ini udah jadi inceran lo dan gue atau orang lain nggak boleh beli gitu…” katanya sambil melirik ke arah lengan kanan Moni.
Moni makin kesal dengan cowok itu. Tapi dia nggak boleh nyerah. Tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul begitu saja di otaknya. Tapi entahlah ide itu bisa berhasil atau tidak. “Gini aja… gimana kalau DVD itu gue beli dan kalau lo mau gue bisa pinjemin ke lo… jadi lo nggak perlu ngeluarin uang kan?”
Cowok itu tersenyum tipis. “Makasih deh…” katanya bergegas pergi.
NYEBELIN!!! Teriak Moni dalam hati. Dia tidak menyangka kalau hari ini dia akan bertemu dengan cowok yang super nyebelin. Huh,, rasanya ingin sekali Moni menangis saat itu. Ya… usahanya selama ini gagal. Dia tidak jadi menonton film yang sudah sejak lama diinginkan olehnya.
***
Raka mematikan DVD-nya setelah film yang baru saja ditontonnya selesai. Film yang mengharukan, yang ceritanya tentang seorang cowok yang berusaha menghilangkan kemunafikan di dalam dirinya dan juga menghilangkan kemunafikan cewek yang dicintainya. Film dimana seorang cowok tersebut berjuang keras melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dan ada satu pelajaran yang dapat diambil oleh Raka. Dari film itu, dia tau bahwa penderitaan yang sedang kita alami harusnya bukan menjadi alasan untuk menjadi lemah. Justru sebaliknya… menjadi kuat dan berusaha bangkit di sisa umurnya. Di film itu, si cowok membuat hidupnya yang mungkin terasa tidak berarti menjadi lebih berarti. Sampai akhirnya, cowok itu berhasil mendapatkan cewek yang dicintainya dan mereka berdua sepakat untuk membuat hidup si cowok lebih berarti.
Meskipun ceritanya tidak berakhir dengan kematian, tapi ceritanya sangat mengharukan. Si cowok yang suka bermain piano pun membuat aransemen baru dari sebuah lagu klasik karya Johann Pachelbel yang sangat terkenal. Lagu tersebut ditujukan untuk cewek yang dicintainya.
Dan setelah Raka menonton film itu, Raka jadi ingat dengan cewek yang tadi sempat memohon agar dia tidak jadi membeli DVD itu. Raka tersenyum geli mengingat kejadian tadi siang. Cewek itu bilang, dia sudah lama sekali ingin menonton film itu. Tapi dia harus menabung dulu untuk membeli film itu.
Sebenarnya Raka bukanlah cowok cengeng yang hobi menonton film romantic yang mengharukan. Tapi… karena dia tidak sengaja mencari sebuah artikel di internet dan ada sebuah blog yang memaparkan tentang synopsis cerita dari film tersebut, Raka jadi penasaran dan ingin menontonnya. Dan benar saja… selain film itu bagus, film itu juga membuatnya mengalami kejadian luar biasa. Bertemu dengan cewek yang terobsesi berat ingin menonton film itu.
Sementara itu, Moni terdiam di kamarnya. Dia memandangi semua uang yang berhasil dikumpulkan olehnya. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk membeli sebuah DVD film ‘Canon in Love’. Tapi usahanya sia-sia. Dia kehabisan DVD itu. Dan tadi siang ketika dia mencari DVD itu di toko lain pun sudah sold out alias habis.
Alhasil, dia hanya murung di kamarnya dan sejak pulang dari mencari DVD film itu, dia tidak keluar dari kamarnya untuk makan ataupun mandi. Yup, Moni ngambek berat dan kesal sekali dengan cowok tadi siang.
“Mon…” terdengar suara Bundanya yang mengetuk pintu kamarnya.
Moni membukakan pintu untuk Bundanya. “Ada apa Bun?” tanyanya datar.
“Moni… kok dari tadi siang kamu nggak keluar kamar sih? Kamu sakit?” tanya Bundanya sedikit cemas.
Moni menggelengkan kepalanya. “Nggak Bunda… aku nggak kenapa-kenapa kok…” katanya sambil menuju ranjangnya.
“Terus… kenapa nggak keluar untuk makan?” tanya Bundanya sambil melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul 7 malam.
“Aku udah kenyang Bunda…” kata Moni berbohong. Padahal, hari ini dia baru mengisi perutnya dengan siomay di kantin sekolahnya.
“Oya?” tanya Bundanya tak percaya. “Kalau mandi??” tanya Bundanya lagi.
Moni membelalakan kedua bola matanya. Sangking kesalnya dengan cowok tadi, dia sampai lupa makan dan mandi. “Hehehe… iya. Udah juga Bunda…” katanya sambil nyengir.
“Kapan?” tanya Bundanya heran. “Bunda nggak liat kamu keluar kamar dan mandi…” lanjut Bundanya.
“Tadi pagi Bunda…” kata Moni sambil tertawa lebar.
Bunda tersenyum melihat putrinya. “Ya udah… sekarang kamu mandi dulu sana..” perintah Bundanya.
“Iya Bunda…” Moni bergegas keluar dari kamarnya.
Dan setelah mandi, Moni berkumpul bersama Bunda dan Kakaknya yang tengah menonton acara TV. Moni memang hanya tinggal bertiga dengan Bunda dan Kakaknya. Sementara ayahnya, bekerja di luar negeri.
Lagi-lagi, malam itu Moni tidak bisa melupakan kejadian tadi siang. Dia masih saja cemberut dan kesal.
“Loh kamu kenapa Mon? kok cemberut gitu?” tanya Bunda kepada anak perempuannya itu. “Gimana DVD nya? Udah beli?” tanya Bundanya lagi yang makin membuat Moni kesal.
“Itu Bunda masalahnya…” Moni menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi siang kepada Bunda dan kakaknya.
“Hahaha… keren donk Dek. Jadi kayak di sinetron gitu dek…” goda Kak Farant kepada adiknya.
“Ihh Kak Farant tuh apaan sih Kak… aku kesel nih…” ujar Moni kesal.
Farant malah makin geli melihat wajah adiknya yang terlipat seperti kertas. “Ya udah berdoa aja biar kamu bisa ketemu dengan cowok itu lagi dek…”
Moni menatap kakaknya kesal. Untuk apa dia bertemu dengan cowok menyebalkan itu lagi. Satu kali saja dia bertemu dengan cowok tadi siang sudah membuatnya naik darah. Apalagi harus bertemu dengan cowok itu untuk yang kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya. “Biar apa gitu kak? Biar kayak sinetron gitu kak?” tanyanya jutek.
“Biar kamu bisa pinjem DVD nya sama dia lah dek…” kata Farant sambil tertawa geli. “Terus ajak kenalan dan minta nomer HP nya… Hahaha…”
“Ihhh…. Kak Farant nyebelin!!!” Moni memukul-mukul tubuh kakaknya yang hampir saja terjatuh dari sofa.
Bunda mencoba menghentikan pertengkaran antara adik dan kakak itu. “Sudah… sudah…”
Cewek bernama Monita itu telah memutuskan untuk tidak pergi meninggalkan taman itu. Moni – panggilan Monita – nggak mau melewatkan sedikitpun hari itu di taman yang menjadi salah satu tempat bersejarah baginya.
Taman pelangi… begitulah Moni memberi nama taman itu. Tiga tahun yang lalu, ada sebuah kenangan indah di taman itu. Sebuah kenangan yang sangat dirindukannya. Ada hal yang membuatnya harus kembali ke taman itu. Seseorang akan menemuinya di taman itu untuk bertemu dengannya. Untuk menepati janjinya untuk bertemu dengan Moni.
Tapi… setelah hampir lima jam Moni menunggu di taman itu, tak ada seorangpun yang datang. Raka, seorang yang ditunggu olehnya, belum juga datang untuk menepati janjinya. Mungkin dia sedikit telat. Pikir Moni yang mencoba menenangkan hatinya.
Raka memang tidak pernah bilang akan menemuinya di taman itu pada pukul berapa. Tapi Moni memutuskan untuk datang lebih pagi ke taman itu. Untuk itu, Moni tidak sedikitpun bergegas pergi dari taman itu, meskipun hujan kini mulai deras.
Ada perasaan rindu yang mendalam di dalam diri cewek itu. Dia sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Raka. Tiga tahun yang lalu, Raka bilang akan menghubunginya ketika dia sudah sampai di Amerika. Tapi… semenjak saat itu, Raka nggak pernah menghubunginya. Ada rasa kehilangan tapi juga ada pengharapan di dalam dirinya. Dia yakin Raka akan kembali dan menemuinya.
Moni mulai meneteskan air matanya. Air mata yang bercampur dengan hujan yang saat itu… seolah-olah ikut merasakan kesedihan di dalam hatinya. Tapi… sekali lagi Moni yakin, bahwa ini adalah air mata untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, dia pasti akan tersenyum dan bahagia. Ya… dia nggak sabar untuk tertawa lagi bersama Raka.
***
Ketika pulang sekolah, Moni langsung pergi dari sekolahnya. Tanpa mengajak Rani – sahabatnya – pulang bersama seperti biasanya. Ya, Moni melupakan itu. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah cepat sampai di ‘BoomBiim Videos’. Sebuah toko kaset, CD, VCD, sampai DVD. Moni nggak mau kehilangan sebuah DVD yang sudah diincarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, Moni harus menabung untuk membeli DVD itu.
Sebuah film yang sejak pertama film itu keluar, Moni sudah yakin sekali kalau film itu bagus. ‘Canon in Love’ ya… sebuah film yang ingin sekali ditontonnya. Tapi film itu tidak diputar di bioskop. Film itu hanya beredar di toko-toko kaset. Untuk itu, perlu banyak uang untuk mendapatkan film yang berasal dari negeri gingseng.
Moni sudah membaca referensi film tersebut di majalah dan internet. Semenjak saat itu, dia yakin sekali kalau film itu pasti keren. Apalagi, soundtrack-nya lagu klasik kesukaan Moni. Yup… Canon in D major yang diaransemen ulang menjadi background music di film tersebut. Semakin jadilah keinginan Moni untuk menonton film tersebut.
Dan setelah Moni sampai di depan toko kaset yang selalu menjadi incaran matanya ketika dia melintas di jalan tersebut, Moni langsung masuk dan cepat-cepat berjalan menuju rak DVD yang sudah diincarnya.
Tiga bulan yang lalu, ketika Moni masuk ke toko itu, masih cukup banyak DVD film ‘Canon in Love’ di toko itu. Lalu, hampir setiap minggu, Moni datang ke toko itu untuk sekedar mengecek apakah DVD itu masih ada atau sudah habis. Dan minggu kemarin, DVD itu hanya bersisa tiga buah. Moni harap-harap cemas. Berharap, DVD itu masih ada.
ADA!! Teriak Moni dalam hati. Tinggal satu lagi… teriak Moni lagi. Dan Moni bergegas mengambil DVD itu. Tapi ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk mengambil DVD itu, ada seseorang yang sudah lebih cepat darinya dan mengambil DVD itu.
Moni menoleh ke arah seorang cowok yang berani-beraninya merebut DVD incarannya itu. Tapi cowok itu cuek dan mengabaikan tatapan gahar Moni ke arahnya. Dia malah dengan santainya pergi meninggalkan Moni dan menuju kasir. Tapi Moni nggak diam begitu saja. Dia harus mendapatkan DVD itu. Batinnya.
“Tunggu…” teriak Moni sambil meraih lengan cowok yang hampir menjauh darinya.
Cowok yang juga masih mengenakan seragam sekolah itupun menoleh ke arah Moni dengan wajah tak berdosa. Sebenarnya, dia tau maksud cewek itu apa. Tapi… dia hanya berpura-pura nggak mengetahui apa-apa. “Kenapa?” tanyanya singkat.
“Itu…” Moni menunjuk ke arah DVD yang dipegang cowok itu. “Gue duluan yang liat!!” kata Moni jutek.
Cowok itu memandangi DVD yang ada dalam genggamannya dan beralih pandang ke arah Moni yang menatapnya dengan wajah penuh kekesalan. “Tapi gue duluan yang ambil…” jawab cowok itu santai dan bergegas pergi.
“Nggak bisa gitu…” balas Moni yang berusaha mencegah kepergian cowok menyebalkan itu. “Gue duluan yang mau beli film itu… udah dari dulu. Dari pertama kali film itu keluar dan masuk ke Indonesia… terus… Gue udah lama nabung buat beli DVD itu. Jadi lo nggak bisa seenaknya ngambil DVD yang udah lama mau gue beli…” kata Moni setengah teriak.
Cowok itu agak sedikit terkesan mendengar perkataan Moni. Dia jadi kasihan dengan cewek itu. Tapi… dia juga penasaran dengan film itu dan ingin menontonnya. “Terus… emangnya ada tulisan di sini kalo DVD ini udah jadi inceran lo dan gue atau orang lain nggak boleh beli gitu…” katanya sambil melirik ke arah lengan kanan Moni.
Moni makin kesal dengan cowok itu. Tapi dia nggak boleh nyerah. Tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul begitu saja di otaknya. Tapi entahlah ide itu bisa berhasil atau tidak. “Gini aja… gimana kalau DVD itu gue beli dan kalau lo mau gue bisa pinjemin ke lo… jadi lo nggak perlu ngeluarin uang kan?”
Cowok itu tersenyum tipis. “Makasih deh…” katanya bergegas pergi.
NYEBELIN!!! Teriak Moni dalam hati. Dia tidak menyangka kalau hari ini dia akan bertemu dengan cowok yang super nyebelin. Huh,, rasanya ingin sekali Moni menangis saat itu. Ya… usahanya selama ini gagal. Dia tidak jadi menonton film yang sudah sejak lama diinginkan olehnya.
***
Raka mematikan DVD-nya setelah film yang baru saja ditontonnya selesai. Film yang mengharukan, yang ceritanya tentang seorang cowok yang berusaha menghilangkan kemunafikan di dalam dirinya dan juga menghilangkan kemunafikan cewek yang dicintainya. Film dimana seorang cowok tersebut berjuang keras melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dan ada satu pelajaran yang dapat diambil oleh Raka. Dari film itu, dia tau bahwa penderitaan yang sedang kita alami harusnya bukan menjadi alasan untuk menjadi lemah. Justru sebaliknya… menjadi kuat dan berusaha bangkit di sisa umurnya. Di film itu, si cowok membuat hidupnya yang mungkin terasa tidak berarti menjadi lebih berarti. Sampai akhirnya, cowok itu berhasil mendapatkan cewek yang dicintainya dan mereka berdua sepakat untuk membuat hidup si cowok lebih berarti.
Meskipun ceritanya tidak berakhir dengan kematian, tapi ceritanya sangat mengharukan. Si cowok yang suka bermain piano pun membuat aransemen baru dari sebuah lagu klasik karya Johann Pachelbel yang sangat terkenal. Lagu tersebut ditujukan untuk cewek yang dicintainya.
Dan setelah Raka menonton film itu, Raka jadi ingat dengan cewek yang tadi sempat memohon agar dia tidak jadi membeli DVD itu. Raka tersenyum geli mengingat kejadian tadi siang. Cewek itu bilang, dia sudah lama sekali ingin menonton film itu. Tapi dia harus menabung dulu untuk membeli film itu.
Sebenarnya Raka bukanlah cowok cengeng yang hobi menonton film romantic yang mengharukan. Tapi… karena dia tidak sengaja mencari sebuah artikel di internet dan ada sebuah blog yang memaparkan tentang synopsis cerita dari film tersebut, Raka jadi penasaran dan ingin menontonnya. Dan benar saja… selain film itu bagus, film itu juga membuatnya mengalami kejadian luar biasa. Bertemu dengan cewek yang terobsesi berat ingin menonton film itu.
Sementara itu, Moni terdiam di kamarnya. Dia memandangi semua uang yang berhasil dikumpulkan olehnya. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk membeli sebuah DVD film ‘Canon in Love’. Tapi usahanya sia-sia. Dia kehabisan DVD itu. Dan tadi siang ketika dia mencari DVD itu di toko lain pun sudah sold out alias habis.
Alhasil, dia hanya murung di kamarnya dan sejak pulang dari mencari DVD film itu, dia tidak keluar dari kamarnya untuk makan ataupun mandi. Yup, Moni ngambek berat dan kesal sekali dengan cowok tadi siang.
“Mon…” terdengar suara Bundanya yang mengetuk pintu kamarnya.
Moni membukakan pintu untuk Bundanya. “Ada apa Bun?” tanyanya datar.
“Moni… kok dari tadi siang kamu nggak keluar kamar sih? Kamu sakit?” tanya Bundanya sedikit cemas.
Moni menggelengkan kepalanya. “Nggak Bunda… aku nggak kenapa-kenapa kok…” katanya sambil menuju ranjangnya.
“Terus… kenapa nggak keluar untuk makan?” tanya Bundanya sambil melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul 7 malam.
“Aku udah kenyang Bunda…” kata Moni berbohong. Padahal, hari ini dia baru mengisi perutnya dengan siomay di kantin sekolahnya.
“Oya?” tanya Bundanya tak percaya. “Kalau mandi??” tanya Bundanya lagi.
Moni membelalakan kedua bola matanya. Sangking kesalnya dengan cowok tadi, dia sampai lupa makan dan mandi. “Hehehe… iya. Udah juga Bunda…” katanya sambil nyengir.
“Kapan?” tanya Bundanya heran. “Bunda nggak liat kamu keluar kamar dan mandi…” lanjut Bundanya.
“Tadi pagi Bunda…” kata Moni sambil tertawa lebar.
Bunda tersenyum melihat putrinya. “Ya udah… sekarang kamu mandi dulu sana..” perintah Bundanya.
“Iya Bunda…” Moni bergegas keluar dari kamarnya.
Dan setelah mandi, Moni berkumpul bersama Bunda dan Kakaknya yang tengah menonton acara TV. Moni memang hanya tinggal bertiga dengan Bunda dan Kakaknya. Sementara ayahnya, bekerja di luar negeri.
Lagi-lagi, malam itu Moni tidak bisa melupakan kejadian tadi siang. Dia masih saja cemberut dan kesal.
“Loh kamu kenapa Mon? kok cemberut gitu?” tanya Bunda kepada anak perempuannya itu. “Gimana DVD nya? Udah beli?” tanya Bundanya lagi yang makin membuat Moni kesal.
“Itu Bunda masalahnya…” Moni menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi siang kepada Bunda dan kakaknya.
“Hahaha… keren donk Dek. Jadi kayak di sinetron gitu dek…” goda Kak Farant kepada adiknya.
“Ihh Kak Farant tuh apaan sih Kak… aku kesel nih…” ujar Moni kesal.
Farant malah makin geli melihat wajah adiknya yang terlipat seperti kertas. “Ya udah berdoa aja biar kamu bisa ketemu dengan cowok itu lagi dek…”
Moni menatap kakaknya kesal. Untuk apa dia bertemu dengan cowok menyebalkan itu lagi. Satu kali saja dia bertemu dengan cowok tadi siang sudah membuatnya naik darah. Apalagi harus bertemu dengan cowok itu untuk yang kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya. “Biar apa gitu kak? Biar kayak sinetron gitu kak?” tanyanya jutek.
“Biar kamu bisa pinjem DVD nya sama dia lah dek…” kata Farant sambil tertawa geli. “Terus ajak kenalan dan minta nomer HP nya… Hahaha…”
“Ihhh…. Kak Farant nyebelin!!!” Moni memukul-mukul tubuh kakaknya yang hampir saja terjatuh dari sofa.
Bunda mencoba menghentikan pertengkaran antara adik dan kakak itu. “Sudah… sudah…”
BAB 2
Dua hari kemudian…
Moni terlambat datang ke sekolah. Dia kesiangan hari itu. Pasalnya, tadi malam dia sempat lembur karena harus mengerjakan PR matematika yang sangat banyak. Alhasil, dia ditinggal oleh Farant yang sudah berangkat lebih dulu ke kampus. Dan terpaksa, Moni harus rela naik bus dan telat.
Setelah sampai di sekolah pintu gerbang sudah hampir ditutup karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Hampir saja Pak Sutomo – satpam sekolah Moni – mengunci pintu gerbang sekolahnya. Untunglah, Moni diberi kesempatan oleh Pak Sutomo yang baik hati untuk masuk ke sekolah.
Dan setelah Moni sampai di kelasnya…
“Maaf Pak saya telat…” katanya reflek.
Semua teman-teman memandang Moni yang penuh dengan keringat. Termasuk Pak Bono dan seorang cowok yang tengah berdiri di depan kelas.
Cowok itu anak baru. Dia baru saja memperkenalkan dirinya di depan kelas. Tapi perkenalannya terpotong, lantaran Moni mengganggunya. Dan betapa terkejutnya Moni saat dilihatnya siapa cowok itu.
“Raka…” tegur Pak Bono. “Kamu boleh duduk… di bangku yang masih kosong…” Pak Bono mempersilakan Raka untuk duduk di bangku yang masih kosong. “Kamu Moni… ke sini kamu…” Pak Bono menyuruh Moni mengekornya ke meja guru.
Moni masih terbengong melihat cowok yang bernama Raka itu ada di sekolahnya. Bahkan dia menuju tempat duduk Moni. Wah,, masa dia mau duduk di bangku gue sih? Batin Moni. Tapi Moni tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalya dia sudah tau kalau Pak Bono akan mengintrogasinya. Dan… entah berapa lama Pak Bono akan mengomelinya.
Dan setelah Pak Bono selesai bertanya-tanya kepada Moni, Pak Bono langsung mempersilakan moni untuk duduk di bangkunya. Dengan perasaan kesal, Moni menghampiri bangkunya yang tak lagi kosong. Tapi ada penghuni baru di sana. Penghuni yang membuatnya kesal sekali.
“Ini bangku gue…” terangnya sambil mengusir Raka secara tidak langsung.
“Ini bangku punya sekolah… bukan punya lo!” balas Raka.
Moni geram mendengar perkataan Raka. Cowok itu benar-benar menyebalkan. Kemarin, Raka membuatnya kesal dengan merebut DVD yang sudah menjadi incarannya sejak beberapa bulan lalu. Dan sekarang, Raka membuatnya lagi-lagi kesal dengan merebut bangkunya. Benar-benar nyebelin. Teriak Moni dalam hati. “Tapi gue duluan yang duduk di sini… kenapa lo nggak duduk di situ aja…” kata Moni sambil menunjuk sebuah bangku yang masih kosong di samping bangkunya.
“Tapi sekarang yang duduk duluan di sini gue duluan…” balas Raka lagi.
“Ihhh… lo nyebelin banget tau nggak!!” teriak Moni yang membuat Pak Bono dan anak-anak lainnya menatap Moni aneh.
“Moni…” tegur Pak Bono. “Apa-apaan kamu!! Sudah terlambat, buat masalah lagi… Ada apa?” tanya Pak Bono galak.
“Ini tempat duduk saya Pak… dia nggak mau pindah…” katanya sambil melirik ke arah Raka.
“Kamu kan terlambat. Jadi kamu harusnya mengalah! Kalau kamu tidak mau bangkunmu di tempati oleh orang lain, kenapa kamu tidak datang lebih awal…” kata Pak Bono.
Moni berdecak kesal. Apalagi dilihatnya Raka yang tengah tersenyum mengejek. Dan juga tatapan jutek Vanda cs yang memang sok artis. Moni yakin sekali, kalau Vanda cs langsung klepek-klepek begitu melihat Raka. Dan sudah pasti, Moni bakal disudutkan karena berani melawan cowok keren di sekolahnya.
Moni menarik nafas dalam-dalam dan bergegas duduk di bangku yang masih kosong.
***
Kring!! Bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Moni kembali menatap jutek ke arah Raka. Dia mengamati cowok yang duduk di bangkunya. Cowok itu, boleh aja keren… tapi nyebelin. Jadi… sudah pasti Vanda, Keyla, dan Ovi langsung carper dengan anak baru itu.
Raka yang sadar banget kalau dirinya menjadi perhatian cewek di sampingnya pun hanya bisa terenyum geli. Dan Raka membalas tatapan Moni. Tapi ketika dia melepaskan pandangannya ke arah Moni, Moni langsung memalingkan wajahnya. “Ada yang mau lo omongin ke gue?” tanya Raka kemudian.
Moni geram mendengar perkataan Raka barusan. Dia pun kembali menatap Raka dengan tatapan jutek. “Ngapain? Mendingan gue ngajak ngomong monyet daripada ngomong sama lo…” kata Moni kesal.
Raka tertawa kecil mendengar jawaban Moni. “Terus kenapa lo ngeliatin gue terus?” tanya Raka lagi.
“Siapa yang ngeliatin lo… sok keren banget sih!!” tuding Moni.
“Ohh gue keren… makasih deh…” canda Raka.
Moni menjulurkan lidahnya. Dia muak sekali mendengar perkataan Raka barusan. Dibilang sok keren malah GR. Emang nyebelin tuh cowok. Batin Moni.
Tiba-tiba… Vanda cs datang menghampiri Raka.
“Hai Raka…” sapa Vanda sok manis. Moni dan Rani geli sekali melihat tingkah cewek itu yang selalu cari-cari perhatian kepada cowok-cowok keren di sekolahnya.
Raka bingung melihat cewek itu. Dia enggan membalas sapaan cewek itu. Tapi dia menggantinya dengan tersenyum tipis.
“Kenalin… gue Vanda…” katanya lagi-lagi sok manis sambil menjulurkan tangan kanannya. Raka membalas uluran tangan Vanda. Sementara itu, Moni dan Rani yang saat itu duduk dengan dipisahkan oleh Raka yang duduk di tengah-tengah antara Moni dan Rani pun tertawa geli melihat kelakuan Vanda.
“Gue Ovi…” serang Ovi yang nggak mau kalah.
Keyla yang juga ada di sana pun nggak mau kalah dan meminta agar Vanda dan Ovi menyingkir. “Gue Keyla…” katanya sambil menyunggingkan senyum termanisnya – bagi Keyla loh.
Dan saat itu, Bu Nay datang dan segera menyuruh anak-anak untuk duduk di bangkunya masing-masing. Inilah saat-saat yang ditunggu oleh Moni. Kedatangan Bu Nay yang merupakan guru favorite-nya. Tentunya banyak alasan mengapa Bu Nay masuk ke dalam kategori guru favorite Moni. Itu disebabkan karena Bu Nay mengajar mata pelajaran seni musik yang merupakan pelajaran kesukaan Moni. Selain itu, Bu Nay juga sangat baik dan ramah. So, No wonder, If she likes her.
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita tidak belajar di kelas… kita akan ke gedung seni musik..” kata Bu Nay menjelaskan.
Moni makin semangat mendengar ajakan Bu Nay untuk belajar di gedung seni music. Dia bergegas memberesakan semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
***
“Baiklah anak-anak… sebelum kita mulai belajar, ibu ingin berkenalan dulu dengan anak baru di kelas ini…” Bu Nay menatap Raka yang sudah mulai membaur dengan anak-anak cowok di kelas XI IPS 2. “Ayo perkenalkan dirimu..” pinta Bu Nay.
Raka berdiri dari tempat duduknya dan memperkenalkan dirinya. “Nama saya Raka Putra. Saya pindahan dari SMA Teladan…” katanya menjelaskan.
“Kenapa kamu pindah ke sini Raka?” tanya Bu Nay yang bingung kenapa Raka pindah di tengah-tengah semester ganjil.
“Saya bosan Bu. Ingin mencari suasana baru dan… ada hal penting yang membuat saya pindah ke sini…” katanya mencoba menjelaskan alasan kepindahannya dari SMA Teladan ke SMA Bakti Negara.
Di benak Moni terlintas negative thinkin’. Dia yakin sekali kalau Raka itu dikeluarkan dari sekolah karena mungkin Raka itu di luar saja kelihatan baik tapi… mungkin aslinya lebih buruk. Dan orangtuanya yang tentunya kaya raya, bisa saja membuat sekolahnya menerima keberadaan anak nakal itu. Tentunya dengan sejumlah sumbangan ini dan itu… pikir Moni.
“Oke! Bisa bermain alat musik?” tanya Bu Nay kemudian.
Raka tersenyum tipis. “Sedikit…” katanya lagi.
Bu Nay tersenyum. “Bisa tunjukkan ke teman-temanmu?” tanyanya.
Raka tersenyum tipis dan segera melangkahkan kakinya menuju sebuah gitar akustik. Raka lalu mengambil satu bangku kosong yang tidak begitu jauh darinya dan duduk di bangku tersebut. Lalu, dia mulai memetik gitarnya perlahan.
Dari petikan pertama yang dimainkan oleh Raka, Moni sudah bisa menebak lagu apa yang akan dimainkan oleh cowok itu. Yup, Raka memainkan lagu Canon in D major versi akustik. Dan saat itu, Moni tertegun dengan kepiawaian Raka memainkan gitar.
Semua yang ada di kelas saat itu terhanyut dengan permainan gitar yang indah dari Raka. Termasuk Bu Nay yang juga kagum dengan permainan gitar Raka. Kelas yang tadinya berisik, kini hening. Hanya terdengar dentingan gitar yang dimainkan Raka. Semuanya menikmatinya. Termasuk Moni. Yang tanpa disadari olehnya, kalau dia tengah mengagumi cowok itu.
Dan saat tatapan Raka jatuh kepada Moni, Moni langsung kaget dan memalingkan pandangannya. Dia menyesal karena sudah menatap cowok itu dengan lekat. Pasti dia GR! Batin Moni. Benar kan… batin Moni membenarkan ketika dilihatnya Raka tersenyum licik ke arahnya.
Tepukan tangan keras dari semua yang ada dikelas itu, termasuk Bu Nay, membuyarkan lamunan Moni. Raka telah menyelesaikan sebuah lagu klasik yang dimainkannya dengan gitar akustik. Semua anak bersorak sambil bertepuk tangan. Tapi hanya Moni yang tidak melakukannya. Bahkan Rani heran kenapa sohibnya itu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-temannya yang lain. Padahal, Rani tau benar kalau Moni itu pecinta music klasik. Terlebih lagi, dia sangat menyukai lagu Canon in D major. Jadi… mungkin Moni masih kesal dengan Raka karena sudah merebut bangkunya. Rani nggak tau apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kedua orang itu. Moni membenci Raka bukan saja karena Raka telah merebut bangkunya. Tapi juga merebut DVD yang ingin dibelinya sejak lama.
Rani menyenggol lengan Moni dan menyuruhnya untuk ikut bertepuk tangan. Moni ogah sekali melakukannya. Tapi… pada akhirnya dia bertepuk tangan dengan malas.
Canon in Love (Bab 3 & Bab 4)
Moni terlambat datang ke sekolah. Dia kesiangan hari itu. Pasalnya, tadi malam dia sempat lembur karena harus mengerjakan PR matematika yang sangat banyak. Alhasil, dia ditinggal oleh Farant yang sudah berangkat lebih dulu ke kampus. Dan terpaksa, Moni harus rela naik bus dan telat.
Setelah sampai di sekolah pintu gerbang sudah hampir ditutup karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Hampir saja Pak Sutomo – satpam sekolah Moni – mengunci pintu gerbang sekolahnya. Untunglah, Moni diberi kesempatan oleh Pak Sutomo yang baik hati untuk masuk ke sekolah.
Dan setelah Moni sampai di kelasnya…
“Maaf Pak saya telat…” katanya reflek.
Semua teman-teman memandang Moni yang penuh dengan keringat. Termasuk Pak Bono dan seorang cowok yang tengah berdiri di depan kelas.
Cowok itu anak baru. Dia baru saja memperkenalkan dirinya di depan kelas. Tapi perkenalannya terpotong, lantaran Moni mengganggunya. Dan betapa terkejutnya Moni saat dilihatnya siapa cowok itu.
“Raka…” tegur Pak Bono. “Kamu boleh duduk… di bangku yang masih kosong…” Pak Bono mempersilakan Raka untuk duduk di bangku yang masih kosong. “Kamu Moni… ke sini kamu…” Pak Bono menyuruh Moni mengekornya ke meja guru.
Moni masih terbengong melihat cowok yang bernama Raka itu ada di sekolahnya. Bahkan dia menuju tempat duduk Moni. Wah,, masa dia mau duduk di bangku gue sih? Batin Moni. Tapi Moni tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalya dia sudah tau kalau Pak Bono akan mengintrogasinya. Dan… entah berapa lama Pak Bono akan mengomelinya.
Dan setelah Pak Bono selesai bertanya-tanya kepada Moni, Pak Bono langsung mempersilakan moni untuk duduk di bangkunya. Dengan perasaan kesal, Moni menghampiri bangkunya yang tak lagi kosong. Tapi ada penghuni baru di sana. Penghuni yang membuatnya kesal sekali.
“Ini bangku gue…” terangnya sambil mengusir Raka secara tidak langsung.
“Ini bangku punya sekolah… bukan punya lo!” balas Raka.
Moni geram mendengar perkataan Raka. Cowok itu benar-benar menyebalkan. Kemarin, Raka membuatnya kesal dengan merebut DVD yang sudah menjadi incarannya sejak beberapa bulan lalu. Dan sekarang, Raka membuatnya lagi-lagi kesal dengan merebut bangkunya. Benar-benar nyebelin. Teriak Moni dalam hati. “Tapi gue duluan yang duduk di sini… kenapa lo nggak duduk di situ aja…” kata Moni sambil menunjuk sebuah bangku yang masih kosong di samping bangkunya.
“Tapi sekarang yang duduk duluan di sini gue duluan…” balas Raka lagi.
“Ihhh… lo nyebelin banget tau nggak!!” teriak Moni yang membuat Pak Bono dan anak-anak lainnya menatap Moni aneh.
“Moni…” tegur Pak Bono. “Apa-apaan kamu!! Sudah terlambat, buat masalah lagi… Ada apa?” tanya Pak Bono galak.
“Ini tempat duduk saya Pak… dia nggak mau pindah…” katanya sambil melirik ke arah Raka.
“Kamu kan terlambat. Jadi kamu harusnya mengalah! Kalau kamu tidak mau bangkunmu di tempati oleh orang lain, kenapa kamu tidak datang lebih awal…” kata Pak Bono.
Moni berdecak kesal. Apalagi dilihatnya Raka yang tengah tersenyum mengejek. Dan juga tatapan jutek Vanda cs yang memang sok artis. Moni yakin sekali, kalau Vanda cs langsung klepek-klepek begitu melihat Raka. Dan sudah pasti, Moni bakal disudutkan karena berani melawan cowok keren di sekolahnya.
Moni menarik nafas dalam-dalam dan bergegas duduk di bangku yang masih kosong.
***
Kring!! Bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Moni kembali menatap jutek ke arah Raka. Dia mengamati cowok yang duduk di bangkunya. Cowok itu, boleh aja keren… tapi nyebelin. Jadi… sudah pasti Vanda, Keyla, dan Ovi langsung carper dengan anak baru itu.
Raka yang sadar banget kalau dirinya menjadi perhatian cewek di sampingnya pun hanya bisa terenyum geli. Dan Raka membalas tatapan Moni. Tapi ketika dia melepaskan pandangannya ke arah Moni, Moni langsung memalingkan wajahnya. “Ada yang mau lo omongin ke gue?” tanya Raka kemudian.
Moni geram mendengar perkataan Raka barusan. Dia pun kembali menatap Raka dengan tatapan jutek. “Ngapain? Mendingan gue ngajak ngomong monyet daripada ngomong sama lo…” kata Moni kesal.
Raka tertawa kecil mendengar jawaban Moni. “Terus kenapa lo ngeliatin gue terus?” tanya Raka lagi.
“Siapa yang ngeliatin lo… sok keren banget sih!!” tuding Moni.
“Ohh gue keren… makasih deh…” canda Raka.
Moni menjulurkan lidahnya. Dia muak sekali mendengar perkataan Raka barusan. Dibilang sok keren malah GR. Emang nyebelin tuh cowok. Batin Moni.
Tiba-tiba… Vanda cs datang menghampiri Raka.
“Hai Raka…” sapa Vanda sok manis. Moni dan Rani geli sekali melihat tingkah cewek itu yang selalu cari-cari perhatian kepada cowok-cowok keren di sekolahnya.
Raka bingung melihat cewek itu. Dia enggan membalas sapaan cewek itu. Tapi dia menggantinya dengan tersenyum tipis.
“Kenalin… gue Vanda…” katanya lagi-lagi sok manis sambil menjulurkan tangan kanannya. Raka membalas uluran tangan Vanda. Sementara itu, Moni dan Rani yang saat itu duduk dengan dipisahkan oleh Raka yang duduk di tengah-tengah antara Moni dan Rani pun tertawa geli melihat kelakuan Vanda.
“Gue Ovi…” serang Ovi yang nggak mau kalah.
Keyla yang juga ada di sana pun nggak mau kalah dan meminta agar Vanda dan Ovi menyingkir. “Gue Keyla…” katanya sambil menyunggingkan senyum termanisnya – bagi Keyla loh.
Dan saat itu, Bu Nay datang dan segera menyuruh anak-anak untuk duduk di bangkunya masing-masing. Inilah saat-saat yang ditunggu oleh Moni. Kedatangan Bu Nay yang merupakan guru favorite-nya. Tentunya banyak alasan mengapa Bu Nay masuk ke dalam kategori guru favorite Moni. Itu disebabkan karena Bu Nay mengajar mata pelajaran seni musik yang merupakan pelajaran kesukaan Moni. Selain itu, Bu Nay juga sangat baik dan ramah. So, No wonder, If she likes her.
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita tidak belajar di kelas… kita akan ke gedung seni musik..” kata Bu Nay menjelaskan.
Moni makin semangat mendengar ajakan Bu Nay untuk belajar di gedung seni music. Dia bergegas memberesakan semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
***
“Baiklah anak-anak… sebelum kita mulai belajar, ibu ingin berkenalan dulu dengan anak baru di kelas ini…” Bu Nay menatap Raka yang sudah mulai membaur dengan anak-anak cowok di kelas XI IPS 2. “Ayo perkenalkan dirimu..” pinta Bu Nay.
Raka berdiri dari tempat duduknya dan memperkenalkan dirinya. “Nama saya Raka Putra. Saya pindahan dari SMA Teladan…” katanya menjelaskan.
“Kenapa kamu pindah ke sini Raka?” tanya Bu Nay yang bingung kenapa Raka pindah di tengah-tengah semester ganjil.
“Saya bosan Bu. Ingin mencari suasana baru dan… ada hal penting yang membuat saya pindah ke sini…” katanya mencoba menjelaskan alasan kepindahannya dari SMA Teladan ke SMA Bakti Negara.
Di benak Moni terlintas negative thinkin’. Dia yakin sekali kalau Raka itu dikeluarkan dari sekolah karena mungkin Raka itu di luar saja kelihatan baik tapi… mungkin aslinya lebih buruk. Dan orangtuanya yang tentunya kaya raya, bisa saja membuat sekolahnya menerima keberadaan anak nakal itu. Tentunya dengan sejumlah sumbangan ini dan itu… pikir Moni.
“Oke! Bisa bermain alat musik?” tanya Bu Nay kemudian.
Raka tersenyum tipis. “Sedikit…” katanya lagi.
Bu Nay tersenyum. “Bisa tunjukkan ke teman-temanmu?” tanyanya.
Raka tersenyum tipis dan segera melangkahkan kakinya menuju sebuah gitar akustik. Raka lalu mengambil satu bangku kosong yang tidak begitu jauh darinya dan duduk di bangku tersebut. Lalu, dia mulai memetik gitarnya perlahan.
Dari petikan pertama yang dimainkan oleh Raka, Moni sudah bisa menebak lagu apa yang akan dimainkan oleh cowok itu. Yup, Raka memainkan lagu Canon in D major versi akustik. Dan saat itu, Moni tertegun dengan kepiawaian Raka memainkan gitar.
Semua yang ada di kelas saat itu terhanyut dengan permainan gitar yang indah dari Raka. Termasuk Bu Nay yang juga kagum dengan permainan gitar Raka. Kelas yang tadinya berisik, kini hening. Hanya terdengar dentingan gitar yang dimainkan Raka. Semuanya menikmatinya. Termasuk Moni. Yang tanpa disadari olehnya, kalau dia tengah mengagumi cowok itu.
Dan saat tatapan Raka jatuh kepada Moni, Moni langsung kaget dan memalingkan pandangannya. Dia menyesal karena sudah menatap cowok itu dengan lekat. Pasti dia GR! Batin Moni. Benar kan… batin Moni membenarkan ketika dilihatnya Raka tersenyum licik ke arahnya.
Tepukan tangan keras dari semua yang ada dikelas itu, termasuk Bu Nay, membuyarkan lamunan Moni. Raka telah menyelesaikan sebuah lagu klasik yang dimainkannya dengan gitar akustik. Semua anak bersorak sambil bertepuk tangan. Tapi hanya Moni yang tidak melakukannya. Bahkan Rani heran kenapa sohibnya itu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-temannya yang lain. Padahal, Rani tau benar kalau Moni itu pecinta music klasik. Terlebih lagi, dia sangat menyukai lagu Canon in D major. Jadi… mungkin Moni masih kesal dengan Raka karena sudah merebut bangkunya. Rani nggak tau apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kedua orang itu. Moni membenci Raka bukan saja karena Raka telah merebut bangkunya. Tapi juga merebut DVD yang ingin dibelinya sejak lama.
Rani menyenggol lengan Moni dan menyuruhnya untuk ikut bertepuk tangan. Moni ogah sekali melakukannya. Tapi… pada akhirnya dia bertepuk tangan dengan malas.
Canon in Love (Bab 3 & Bab 4)
Langganan:
Postingan (Atom)



