THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

Canon in Love Bab 19 - End



BAB 19

            Rupanya cewek itu pergi ke warnet yang tak begitu jauh dari Paul Coffee Shop. Batin Nikson dalam hati. Dengan nafas terengah-engah karena kelelahan mengejar Moni, Nikson pun berjalan mencari dimana Moni. Ketemu!! Nikson langsung menghampiri Moni yang tengah tergesa-gesa membuka situs milik Raka. Lalu dia duduk di samping Moni untuk ikut mengetahui tentang isi dari blog tersebut.
            Sambil deg-degan, Moni dan Nikson menunggu halaman blog tersebut muncul di layar computer. Untung saja, koneksi internetnya lumayan cepat. Jadi tidak membuang waktu terlalu lama untuk menunggu.
            Pertama kali situs blog Raka yang muncul adalah halaman beranda. Raka mendesain blognya dengan rapih. Di bagian banner bertuliskan sebuah kalimat yang berbunyi ‘Welcome to my site’. Dan di halaman beranda itu, ada sebuah tulisan yang ditulis oleh Raka tiga tahun yang lalu. Tanggal yang tertera di blog itu adalah tanggal dimana Raka dan Moni mengukir kenangan indah untuk terakhir kalinya.
            Sebenarnya, blog ini nggak gue buka untuk umum. Tapi… kalau blog ini selamanya tersembunyi, nanti akan ada seorang cewek yang marah dan sedih karena penasaran dengan kepergian gue. Sepahit apapun, dia harus tau semua hal yang gue sembunyiin selama ini. Walaupun, gue nggak mau liat dia sedih. Tapi, semua ini adalah kenyataan yang nggak bisa dihindari.
            Blog ini, gue tujukan untuk cewek yang gue sayang dan juga buat sahabat gue yang gue sayang juga. Maafin gue karena gue bikin kalian nunggu gue. Gue harap… kalian berdua mengerti.
            Begitulah bunyi tulisan yang ditaruh di halaman berada. Di samping blog tersebut ada beberapa menu navigasi yang terdiri dari Beranda, Cinta dan Sahabat, dan About RK. Yang aneh, kenapa menu navigasi About RK malah ditaruh di paling bawah. Entahlah, mungkin Raka ingin mengurutkannya dari yang lebih penting terlebih dahulu.
            Moni membuka menu navigasi Cinta dan Sahabat terlebih dahulu. Dia membukanya berdasarkan urutannya. Mungkin saja memang itu maunya Raka. Di menu Cinta dan Sahabat, tidak terdapat banyak tulisan. Hanya ada sedikit tulisan yang berbunyi “Ini untuk cinta gue (MV) dan sahabat gue (NK)”. Hanya itulah yang tertulis di sana.
            Tapi ada sebuah video di bawah tulisan itu. Sebuah video yang dibuat oleh Raka sendiri. Moni dan Nikson saling berpandangan. Mereka bingung dengan apa sebenarnya isi video tersebut. Nikson menganggukkan kepalanya, meminta Moni untuk segera mengklik tombol play. Moni menurut dan mereka berdua siap untuk menyaksikan isi video tersebut.
Untuk cinta dan sahabat gue
Moni dan Nikson
            Begitulah awal video itu dimulai. Dengan sebuah judul yang menyelipkan nama Moni dan Nikson. Lalu, terlihat Raka di sana sedang duduk di sebuah tempat tidurnya dengan wajah lusuh dan pucat. Raka mengawalinya dengan melemparkan senyum tipis ke arah kamera dan memulai kalimatnya.
            Hai Mon, Hai Nik…
Begitulah bunyi kalimat pembuka dari Raka.
            Sebelumnya, gue mau minta maaf sama kalian, karena gue udah bohong sama kalian. Dengan lo juga Mon… maaf gue bohong sama lo. Dan lo Nik, sorry karena gue nggak cerita sama lo tentang masalah gue…
            Sebenernya…. Gue bingung mau mulai semuanya dari mana. Tapi… gue harus cerita sama kalian. Gue sakit… gue… gue sakit… kanker darah. Dari sebelum gue pindah ke sekolah lo Mon.
            Waktu itu, gue sakit. Tapi gue nggak pernah bilang sama siapapun, termasuk nyokap gue. Setelah gue berobat ke dokter, ternyata dokter bilang gue terserang kanker stadium I. Tapi, gue nggak mau bikin nyokap dan bokap gue sedih… karena Cuma gue yang mereka punya. Jadi… selama itu, gue diem dan nggak pernah cerita ke siapapun.
            Sampai… suatu ketika, gue temuin sebuah situs yang ngebahas tentang film kesukaan lo Mon. Pemeran utama di film itu, kayak gue… dia sakit juga. Dan gue, tertarik untuk nonton film cengeng.
            Sampai akhirnya kita ketemu… Awalnya, gue ngerasa lo hanya seperti angin yang berhembus. Akan hilang gitu aja… tapi, setelah gue nonton film itu, gue jadi punya keinginan untuk buat sisa hidup gue biar lebih berarti. Dan, selama ini, gue belum pernah jatuh cinta. Lo, cinta pertama gue Mon…
            Gue sengaja pindah ke sekolah lo Mon, dan ninggalin sahabat gue dari SMP Cuma buat nemuin lo. Karena gue pengen manfaatin waktu gue dengan ngebuatnya lebih indah. Dan ternyata, lo bisa buat hidup gue lebih indah. Cara lo memandang gue berbeda dengan orang lain. Nggak pernah ada cewek nyolot dan jutek kayak lo yang pernah gue temuin. Lo kasih hari-hari gue jadi lebih berwarna dan lebih indah… gue, selalu nantiin untuk berantem sama lo Mon… Maaf ya, kalo lo marah.
            Dan, waktu gue nggak masuk sekolah, gue nggak pernah bolos kok. Tapi… penyakit gue kambuh. Gue selalu antisipasi supaya gue nggak kambuh di sekolah. Saat itulah, Nyokap gue tau kalau gue sakit… Tapi kanker gue udah mencapai stadium II. Dari situ juga nyokap gue minta gue nggak main futsal lagi. Lo tau semuanya kan Mon…
            Nyokap dan Bokap gue, Cuma punya gue… jadi waktu mereka tau kalau gue sakit, mereka langsung ngusahain supaya gue bisa sembuh. Gue pikir, penyakit kanker nggak bisa sembuh, ternyata bisa…
            Ortu gue, mau bawa gue ke Amerika, tapi… gue nggak mau dan minta waktu ke mereka sampai kenaikan kelas Mon… gue pengen sama-sama lo. Awalnya, ortu gue nggak setuju, tapi akhirnya mengerti Mon… dan ngijinin gue untuk tinggal disini sampai kenaikan kelas. Dan gue, menjalani pengobatan seadanya…
            Sampai akhirnya, kenaikan kelas… gue harus pergi. Bahkan waktu liburan, nyokap gue langsung bawa gue ke Amerika dan nggak akan bawa gue pulang lagi ke Jakarta. Tapi… lagi-lagi gue minta waktu sama nyokap gue. Selama satu minggu… gue pengen liat lo Mon. Untuk terakhir kalinya Mon…
            Selama ini, gue nggak pernah bilang kalau gue sayang sama lo… Bukan karena gue takut Mon. gue nggak mau buat lo sedih… gue nggak mau buat lo terlibat terlalu jauh… gue nggak boleh egois dan buat lo cinta sama gue. Gue nggak tau, apa gue bisa bertahan hidup atau nggak.
            Mon… Nikson udah sampein semua kan sama lo… Gue sayang sama lo. Tapi, mungkin lebih baik lo lupain gue… Lo harus lupain gue… Lo pasti bisa dapetin seseorang yang lebih baik dari gue. Dan, makasih ya, lo udah buat gue seneng karena secara nggak sengaja lo pernah bilanng sayang kan ke gue… hehe… Itu kalimat yang paling gue seneng.
            Mon… sampai gue mati, gue nggak akan pernah lupain lo. Gue akan ingat semua kenangan yang pernah kita lewati Mon… Gue akan selalu inget kenangan kita. Kenangan waktu kita main piano berdua, kenangan waktu kita berdua mengejar pelangi supaya bisa ngeliat pelangi itu lebih jelas, kenangan waktu lo dateng untuk jemput gue buat tanding futsal, kenangan di halte… semua itu… hal yang paling gue suka. Gue nggak akan pernah lupain kenangan itu Mon… Karena gue sayang sama lo.
            Dan buat Nikson… gue juga sayang sama lo. Lo sahabat yang paling ngertiin gue. Lo sahabat yang nggak egois. Gue mohon sama lo, Lo jagain Moni ya… Gue mohon… Maafin gue juga karena gue nggak pernah certain ini sama lo. Gue nggak mau nyusahin siapapun Nik… Jujur gue kangen banget, nongkrong bareng minum kopi sama lo… Lo inget ya Nik, kurangin minum kopi. Lo bisa darah tinggi tau kalau lo terlalu banyak minum kopi. Gue nggak mau liat temen gue sakit….
            Kalau pengobatan gue berhasil dan gue sembuh… Gue pasti pulang. Tapi, kalau gue nggak pulang…
            Tiba-tiba Raka memutuskan kalimatnya. Ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Mungkin mamanya. Cepat-cepat Raka mematikan kamera dan… video itu selesai sampai disitu saja. Kalimat Raka terputus dan video itu tidak selesai…
            Moni menagis melihat isi video itu. Dia nggak menyangka kalau Raka ternyata sakit. Begitupun Nikson yang juga nggak percaya kalau sahabatnya itu sakit. Toh, selama ini Raka selalu terlihat baik-baik saja. Dia nggak pernah terlihat sakit. Dia selalu terlihat baik-baik saja.
            Moni teringat waktu Farant sakit. Sama seperti Raka, Farant pun menyembunyikan rasa sakitnya. Dia menahannya sendiri, sampai-sampai penyakitnya kronis. Dan saat itu ada satu kalimat Farant yang tiba-tiba terlintas di benak Moni. “Anak cowok memang gitu…” lalu… “Sifat-sifat dasar cowok… nggak mau dibilang lemah, cengeng, manja, dan nggak mau bikin Bunda dan adiknya khawatir berlebihan. Haha… percaya deh.. rata-rata anak cowok itu maunya dibilang kuat, hebat, mandiri, dan nggak cengeng…”
            Moni melepaskan tangisnya. Dia sudah nggak kuat lagi untuk melihat tulisan Raka. Dia menoleh kea rah Nikson. “Apa artinya… Raka…”
            Nikson terdiam. Dia tidak menjawab. Sementara Moni, dengan spontan menangis di pundak Nikson. Nikson membiarkan Moni melepas tangisnya. Sementara, dia melihat-lihat isi blog Raka lainnya.
            Di bagian menu About RK, tertulis tentang keseharian Raka dan tentang referensi penyakitnya. Dalam blog itu, Raka menceritakan kejadian tentang pertama kali dia mengetahui tentang penyakitnya, sampai dia menemukan cinta pertamanya dan memutuskan untuk pergi ke Amerika. Dia bilang, dia ingin sembuh dan ingin mengejar cintanya kalau dia berhasil sembuh. Di blog itu juga, Raka menceritakan tentang Moni, bagaimana Moni memperlakukannya, bagaimana agar Raka bisa berhubungan dengan Moni, dan semua kejadian yang dilaluinya bersama Moni. semua tertulis lengkap, beserta tanggal kejadian… dan semuanya ditulis antara tiga sampai empat tahun yang lalu.
            Tubuh Nikson tiba-tiba lemas. Dia juga sudah nggak kuat lagi membaca semua tulisan Raka. Dia nggak tau bagaimana keadaan Raka sekarang. Dia nggak percaya kalau Raka sudah nggak ada. Begitupun Moni, dia juga nggak percaya kalau Raka udah meninggal.
            “Gue nggak percaya… Gue nggak percaya… Raka masih hidup!!” teriak Moni sambil menggoncangkan tubuh Nikson.
            Nikson hanya terdiam. Yang ada dipikirannya saat ini adalah menjaga Moni untuk Raka. Tidak membiarkan cewek itu terluka sedikitpun, apalagi menderita. Akan melakukan segala hal yang pernah dilakukan Raka kepada cewek itu. Ya… dia akan melakukannya.

Rabu, 18 Mei 2011

Canon in Love Bab 11 & 12

BAB 11

Minggu pagi…
Farant dengan seriusnya menonton kartun kesukaannya. Tapi… tiba-tiba adik satu-satunya itu datang dan mengganggu acara santainya di hari libur. Alhasil, Farant langsung sentiment dengan adiknya yang sudah siap mengatakan sesuatu.
Farant tidak mempedulikan adiknya dan tetap saja menonton TV. Padahal, Moni sudah duduk di sampingnya dan hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Melihat kakaknya yang tidak peduli kepadanya, Moni berpindah posisi. Dia berjalan munuju TV dan berdiri tepat di depan TV. Alhasil, perhatian Farant sudah bukan lagi kea rah kartun yang sedang ditontonnya, melainkan kea rah adiknya yang tidak member sedikitpun celah agar dia bisa menonton.
“Aduhh Dek… awas donk!! Lagi seru tuh..” teriak Farant.
Moni makin menjadi. Dia nggak mau kakaknya menonton kartun itu. Tindakannya malah lebih menjadi lagi. Dia mematikan secara paksa TV tersebut dan melotot kea rah kakaknya.
“Aduhh Dek… kok dimatiin sih??” tanya Farant sambil bergegas menyalakan TV kembali. Tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya, lantaran Moni kini mulai cemberut dan memasang muka sedih. Tentu saja, Farant nggak tega melihat wajah adiknya yang super jelek itu. Dia pun mengalah dan dan mulai memberikan perhatian kepada adiknya.
“Kenapa sih??” tanya Farant kemudian.
“Aku mau ngomong…” jawab Moni kesal.
“Iyaaaa…. Iya… mau ngomong apa?” tanya Farant lagi.
Moni tersenyum puas karena akhirnya kakaknya mau bicara dengannya. “Kak… gimana kalo kita ajakin Bunda ke Singapore? Ngunjungin Ayah Kak…”
Wajah Farant berubah. Dia kini mulai bingung dengan perkataan adiknya itu. “Hah? Ke Singapore?” tanya Farant. Sementara Moni menganggukkan kepalanya. “Emm… emang kenapa Dek? Kamu kangen sama Ayah?” tanyanya kemudian.
Moni menganggukkan kepalanya lagi.
Farant berpikir sejenak. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Tapi kemudian, dia tersenyum dan menyetujui saran adiknya. “Boleh juga… ya udah nanti kakak bantuin ngomong sama Bunda ya…”
***
Moni harap-harap cemas menunggu jawaban Bundanya agar menuruti keinginannya untuk menemui Ayahnya di Singapore. Tadi, Farant sudah menjadi juru bicara untuknya dan menjelaskan keinginan Moni untuk bertemu ayahnya. Memang agak aneh rasanya, karena kakaknya itu bisa secara tiba-tiba dan secara cuma-cuma mau begitu saja membantunya. Padahal, biasanya… Farant tidak pernah memberikan jasa gratis kepada adiknya. Entah kenapa, Moni melihat sisi lain di dalam diri kakaknya yang mendadak serius.
Bunda sedikit tersentak dengan perkataan Farant. Dia menatap kedua anaknya secara bergantian dan penuh kebingungan. Tapi kemudian, dia berpikir sejenak dan segera memberikan jawaban.
“Bunda akan usahakan supaya ayah pulang Mon…” jawab Bunda mencoba memberikan kepastian kepada Moni.
“Tapi Bunda… udah berapa kali ayah bilang kalau mau pulang? Tapi ayah nggak pulang-pulang. Mungkin ayah sibuk… jadi, kenapa bukan kita yang kunjungin ayah?” kali ini Moni tak lagi diam.
Bunda berpikir lagi sejenak. Lalu menatap Farant seolah meminta Farant untuk membantunya.
“Moni bener Bunda… mungkin memang kita yang seharusnya memberikan waktu untuk ayah…” kata Farant seolah mengerti maksud tatapan Bundanya.
Bunda makin bingung dengan situasinya. Kalimat Farant yang baru saja keluar dari mulutnya, sama sekali tidak membantu. Tapi malah makin membuat Bunda berada dalam situasi tersulit.
“Iya Bunda…” rengek Moni.
Setengah ragu, Bunda kemudian memutuskan. Meskipun dengan berat hati. “Ya udah… kamu boleh pergi menemui ayah. Tapi… kalau raport kamu nilainya bagus… bisa?”
“Beneran Bunda??” Moni membelalakan kedua bola matanya. Akhirnya dia bisa melepas rindunya kepada ayah. “Asikkk……”
Farant tersenyum tipis melihat kegirangan adiknya. Dan menatap Bundanya yang juga menatapnya.
***
Malam itu, Moni merenung sendiri di kamarnya. Sebenarnya, dia kasihan dengan Bunda. Dia nggak tega melihat Bunda harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tiket dan memberi sejumlah uang untuk Moni agar bisa pergi ke Singapore. Moni, tau… mungkin hal itulah yang membuat Bunda mempertimbangkan secara matang.
Tapi Moni punya usul agar meminta ayahnya mengirimkan uang agar Moni bisa pergi ke Singapore. Dan jawaban Bunda hanya, “Nanti Bunda usahakan…”. Tidak begitu jelas maksud Bunda yang sebenarnya. Apakah akan mengusahakan sendiri, ataukah memintanya kepada ayah.
Dan Moni sangat sulit membayangkan, jika Bunda mengumpulkan sebagian uang gaji Bunda yang hanya seorang guru SMP. Tapi Bundanya berjanji akan memberangkatkan dirinya untuk menemui ayahnya. Dan… Bunda bilang, hanya Moni saja yang akan pergi ke Singapore. Itu yang sebenarnya membuat Moni bingung.
Tak lama kemudian, ponsel Moni berbunyi. Ada sms… desis Moni. Moni meraih ponselnya yang diletakkan di meja belajarnya. Dengan segera dia membaca sms yang masuk. Dan nomer yang tertera di layar ponselnya adalah nomer yang belum tersimpan di ponselnya.
Gimana? Lo baik-baik aja kan?
Begitulah bunyi pesan singkat dari seorang yang tidak dikenal oleh Moni. Tapi… sepertinya Moni tau siapa orang itu. Awalnya, Moni bingung akan membalas pesan dari orang itu atau nggak. Namun akhirnya dia penasaran juga dengan siapa orang yang mengirimkan pesan kepadanya. Tanpa basa-basi apalagi membalas pertanyaan orang tersebut, Moni pun membalas pesan orang tersebut yang berbunyi,
Siapa?
Pesan terkirim. Tak lama kemudian ponsel Moni berbunyi lagi. Rupanya balasan sms dari orang di sebrang.
Manusia…
Jawab orang itu asal. Sementara itu, Moni geram sekali dengan jawaban orang itu. Dia pun membalas sms orang itu dengan jutek dan kesal.
Gue kira monyet!!
Tak lama kemudian orang itu membalas sms Moni. Dan mata Moni terbelalak ketika dibacanya balasan sms dari orang di sebrang.
Hahaha… nggak jauh beda. Ternyata lo memang jutek ya… Gue Raka. Sori deh bikin lo kesel.
Huh!! Teriak Moni dalam hati. Dia memang sudah mengira kalau orang itu Raka. Mestinya tidak perlu dia membalas pesan itu.
Ngapain lo sms gue?
Tanya Moni lagi-lagi jutek.
Loh… tadi kan gue tanya sama lo, lo baik-baik aja or nggak. Trus juga sekalian gue mau tanya sama lo, gimana tentang bokap lo?
Dasar sok perhatian!! Batin Moni.
Gue baik-baik aja. Soal bokap gue, gue udah ngomong kok sama nyokap gue. Sekarang gentian gue yang tanya. Darimana lo dapetin nomer HP gue?
Raka tersenyum tipis membaca sms dari Moni.
Dari orang lah…
Membaca balasan sms dari Raka, Moni kembali kesal. Dia pun nggak mau kalah dan membalas lag isms untuk Raka.
Cepet deh lo bilang aja siapa yang ngasih nomer gue ke lo… Rani?
Tapi, Raka nggak lagi membalas sms dari Moni. Bermenit-menit, bahkan sampai hitungan jam, Raka tidak juga membalas sms dari Moni. Entah kenapa Raka tiba-tiba tidak membalas sms dari Moni. Yang jelas, Moni kesal dan marah sekali dengan itu.














BAB 12

Keesokkan harinya, Raka tidak masuk sekolah. Padahal,dia sudah menunggu-nunggu cowok itu dan siap mengintrogasinya. Tapi rupanya memang Moni harus bersabar. Dia mpun menunggu keesokkan harinya lagi. Ya… mungkin saja Raka akan datang ke sekolah dan disituah cewek itu siap untuk memarahinya. Tentunya karena Raka tidak membalas sms, yang dianggap Moni sangat penting sekali.
Tapi sayangnya, Raka tidak masuk sekolah lagi untuk kedua kalinya. Dan itu berlanjut sampai satu minggu. Moni mulai bertanya-tanya kemana Raka selama dia tidak masuk. Kalau memang sakit, kenapa sampai begitu lama. Dan memang sepertinya Raka tidak sakit, karena Pak Bono hanya minta kepada sekertaris kelas yang mengabsen anak-anak yang hadir untuk menuliskan ijin untuk Raka.
Hari senin berikutnya, yang merupakan ujian kenaikan kelas, barulah Raka muncul. Dengan gayanya yang khas, yaitu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, cowok itu duduk di bangku urut sesuai dengan nomer peserta ujian.
Kali ini, Moni dan Raka tidak lagi duduk bersebelahan. Moni mendapat tempat duduk nomer dua dari depan, sedangkan Raka nyaris duduk di bangku bagian belakang. Dan sejak cowok itu datang, pandangan Moni tak lepas dari cowok itu. Dia terus menatap Raka yang baginya sangat menyebalkan. Raka sadar banget dengan tatapan Moni yang tak lepas darinya. Dan akhirnya, cowok itu menatap balik Moni yang melihatnya dari bangku depan. Dan seperti biasa, Moni yang tertangkap basah oleh Raka karena diam-diam mencuri pandang ke arah Raka pun langsung mengalihkan pandangannya. Cewek itu berbalik badan dan tidak lagi membelakangi papan tulis. Dan Raka, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Moni.
Sementara itu, Moni yang sejak tadi megamati Raka, rupanya menangkap sesuatu yang lain dari diri Raka. Entahlah itu hanya perasaannya saja, atau memang benar ada yang berbeda dari cowok itu. Raka terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Padahal, katanya Raka selama seminggu tidak sakit tapi hanya pergi ke luar kota atau malah ke luar negeri. But, whatever-lah… Raka sakit atau nggak toh bukan urusannya sama sekali. Moni langsung membuang jauh-jauh rasa penasarannya dan dia mau melupakan kejadian malam itu. Dia nggak akan bertanya-tanya kenapa Raka tidak membalas pesannya. Never!! Cowok itu pasti akan jadi besar kepala!! Batinnya.
Kring!! Tanda masuk telah berbunyi. Waktunya ujian akan dimulai. Guru yang hari itu mengawas ujian Bahasa Indonesia pun telah datang dan bersiap membagikan kertas ujian beserta soalnya. Kertas ujian dibagikan oleh Bu Hana dengan memberikannya kepada barisan yang paling depan. Setelah semua siswa mendapat kertas masing-masing, semua siswa mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan.
***
“Mon, sorry… waktu itu gue nggak bales sms dari lo…” Raka menarik lengan Moni ketika Moni akan pergi ke kantin.
Huh… kenapa baru minta maaf sekarang? Nggak sekalian aja tahun depan!! Udah basi banget tauuu…. Teriak Moni dalam hati. “Ohhh… gue nggak marah kok!! Lo kira gue marah??” kata Moni jutek. Moni melepaskan lengannya dari genggaman tangan Raka. Dan setelah lengannya terlepas dari genggaman Raka, Moni langsung melangkahkan kakinya kembali menuju kantin.
Raka tidak menahan Moni lagi. Dia malah berjalan mengekor di belakang Moni. “Ohh… nggak mau tau ya gue dapet nomer lo siapa?” tanya Raka geli.
“Nggak!!” jawab Moni singkat.
Raka tidak membalas perkataan Moni. Dia diam saja dan sedikit berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas Raka terlihat tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Lalu, Raka dikagetkan dengan suara Moni yang tiba-tiba saja membuyarkan segalanya. “Lo ngapain sih ngikutin gue?” kata Moni kesal.
“Emangnya gue ngikutin lo?” tanya Raka datar. Tiba-tiba saja, semangatnya hilang. Dia ingin kembali seperti biasanya. Menggoda Moni, menjawab pertanyaan cewek itu dengan santai, dan membuat cewek itu kesal. Tapi… dia sedang dalam keadaan, dimana dirinya tidak lagi bisa tersenyum geli melihat amarah yang tiba-tiba muncul di dalam diri Moni. Dia bisa melakukannya. But, he’s just pretending!!
“Iya… dari tadi lo ngikutin gue…” jawab Moni lagi-lagi dengan nada kesal. Moni membaca sesuatu di raut wajah Raka. Ada yang berbeda. Batinnya.
Tapi sesaat kemudian, Raka kembali tersenyum tipis. Kali ini, dia mulai bisa mengkondisikan kebiasaannya seperti sedia kala. Dan kali ini, tidak berbeda. Batin Moni.
“Ya udah… sekarang lo tunjukin sama gue jalan kea rah kantin selain jalan ini…” balas Raka yang mebuat Moni kalah telak. Ya, karena Raka memang benar. Nggak ada lagi jalan menuju kantin, selain jalan yang sedang dilalui mereka berdua.
Moni diam tanpa mengatakan apapun. Dia bingung mau menjawab apa.
“Ke kantin cuma lewat sini doang kan??” tanya Raka dengan senyum tipisnya lagi. Dan senyum tipis Raka yang sebenarnya senyuman iklas, bagi Moni senyum itu adalah senyuman picik nan liciknya Raka. Pasti cowok itu merasa menang!!! Batin Moni.
Moni membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Raka. Terserah cowok itu mau ke kantin lewat mana saja. Yang penting sekarang, Moni ingin segera sampai ke kantin dengan jarak yang agak jauh dari Raka.
***
Ujian semester kenaikan kelas telah berakhir. Kini hanya tinggal penentuan bagi semua anak apakah akan naik kelas atau tidak. Dan hari itu, merupakan hari yang sangat penting bagi Moni. hari dimana keputusan Bunda untuk memberangkatkannya ke Singapore atau tidak. Jika nilai raportnya baik, maka Moni akan terbang ke Singapore. Tapi kalau tidak, ya… mungkin Moni harus lebih bersabar lagi.
Hari itu, Bunda menyempatkan waktunya untuk mengambil raport Moni di sekolahnya. Bunda mengenakan batik modern yang sangat cantik. Sementara Moni, tetap dengan seragam putih abu-abunya.
Terlihat semua wali murid sudah berkumpul di depan kelas Moni beserta anak-anaknya. Termasuk juga mama Raka yang sudah menunggu di depan pintu kelas yang masih tertutup. Pandangan Moni langsung jatuh kepada ibu dan anak tersebut. Begitupun dengan Raka yang merasa sadar kalau ada seorang cewek yang tengah menatapnya.
Mama Raka menangkap sesuatu dari tatapan Raka yang tertuju ke suatu arah. Dan setelah dirinya mencoba menatap kea rah yang dituju oleh Raka, mama Raka langsung mengerti. Beliau lalu mengajak Raka menghampiri Moni yang sedang mengobrol dengan Rani dan mamanya.
“Moni…” sapa mama Raka.
Moni menoleh kea rah suara berasal. Begitupun dengan Bunda, Rani dan mama Rani yang juga ikut menoleh kea rah suara itu berasal. “Tante…” balas Moni dengan senyumannya.
“Kamu apa kabar?” tanya mama Raka dengan ramah.
“Baik Tante…” Moni mengerti dengan tatapan Bundanya yang seolah bertanya-tanya siapa wanita cantik yang tengah mengajaknya bicara itu. “Ohh iya, Bunda ini mamanya Raka, temen aku… Tante, ini Bunda aku…” kata Moni mencoba memperkenalkan. “Ini Rani, dan ini mama Rani…”
Raka nggak nyangkan kalau Moni akan bilang bahwa dia adalah temannya. Selama ini, gadis itu selalu membencinya. Itu yang dilihat olehnya. Walaupun Raka tau benar, Moni itu tulus dan baik.
Sambil menunggu pintu kelas dibuka oleh wali kelas, Bunda beserta mama Raka dan Rani berbincang-bincang. Begitupun dengan Moni dan Rani yang juga berbincang-bincang dengan obrolan seputar hal-hal yang nggak penting. Apapun bisa jadi bahan obrolan. Selama waktu menunggu tidak membosankan. Sementara itu, Raka lebih memilih mengotak-atik ponselnya daripada ikut ngerumpi. Ya… jelas saja, dia kan cowok sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Pak Bono datang dengan membawa tumpukkan raport yang siap dibagikan kepada wali murid-muridnya. Tentunya, bukan hanya raport saja yag dibawa olehnya. Semalam suntuk, Pak Bono pasti sudah mempersiapkan apa saja yang akan menjadi bahan tambahan yang akan disampaikan kepada wali murid. Tentu aja omelan bagi murid yang nilainya turun, ancur, jelek, banyak merahnya, apalagi sampai nggak naik kelas.
Semua wali murid yang hadir duduk secara acak dimana saja ada bangku kosong. Termasuk Moni dan Bundanya yang duduk di bangku tengah. Pembagian raport dimulai berdasarkan abjad. Dan, yang pertama kali dipanggil adalah Anton yang no urut absennya pertama. Tampak raut wajah bingung yang diperlihatkan oleh Anton. Mungkin saja, cowok itu takut kalau dia nggak naik kelas. Ya, memang dia agak sedikit bandel di kelas.
Beberapa murid yang no urut absennya lebih dulu sudah dipanggil oleh Pak Bono. Meskipun ada saja murid yang namanya dilewati lantaran orangtuanya belum datang. Sebentar lagi, nama Moni akan dipanggil. Hanya tinggal menunggu tiga nama murid yang no urutnya diatas Moni saja. Jantung Moni berdegub kencang. Tak seperti biasanya. Ini pertaruhan!! Batinnya.
Tiba-tiba, ponsel Bunda berbunyi. Bunda langsung merasa nggak enak, kala ponselnya berbunyi nyaring dan menjadi pusat perhatian. Beliau langsung meminta ijin untuk keluar dan mengangkat telpon dari nomer yang tidak dikenal olehnya.
“Halo…” terdengar suara seorang cewek. Suara cewek itu bergetar dan seperti orang bingung. Bunda langsung menanyakan siapa cewek itu. Dan setelah Bunda tau apa yang telah terjadi, Bunda tak lagi bisa berkutik.
Bunda masuk ke dalam kelas Moni dan meminta waktu sebentar kepada Pak Bono. Setelah Pak Bono mengijinkannya, dia meminta Moni untuk mengambil raportnya sendiri dan menyusulnya ke Rumah Sakit Pelita. Moni bingung dan nggak mengerti. Tapi Bundanya enggan menjelaskan, karena beliau terburu-buru. Moni pun menahan rasa penasarannya hingga nanti pulang sekolah. Walaupun sebenarnya, dia khawatir dan gelisah.
Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Moni. Tapi juga oleh Rani dan Raka yang juga ikut bersimpati. Walaupun mereka nggak tau pasti apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Bunda terlihat sangat panik dan khawatir.

Canon in Love (Bab 9 & Bab 10)
Canon in Love (Bab 13 & Bab 14)

Canon in Love Bab 9 & 10

-->

BAB 9

            “Gue heran deh… kenapa gitu Raka lebih suka dengan lo ketimbang gue?” tanya Vanda kepada Moni yang berhasil ‘diculik’ olehnya dan dibawanya ke belakang sekolah.
            “Padahal…” lanjutnya sambil memandangi Moni dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Lo tuh biasa banget…” katanya merendahkan Moni.
            Moni cemberut. Dalam hatinya kesal sekali kepada tiga cewek sirik di hadapannya itu. Dia tidak membalas perkataan Vanda. Tapi dia hanya menatap ketiga cewek itu secara bergantian dengan tatapan sinis dan tajam.
            “Iya… bener banget Van…” kata Keyla menambahkan. “Seleranya Raka kok rendah gitu ya…” sindirnya sambil memandangi Moni yang memang baginya sangat biasa. Dengan rambut dikuncir asal dan dengan wajah polos tanpa make up sedikitpun.
            Vanda berpikir sejenak. Lalu dia menemukan dugaan dari hasil pemikirannya. “Ahh… jangan-jangan, lo pelet Raka ya??” tuduhnya sembarangan.
            Moni mulai geram. Sembarangan sekali Vanda menuduhnya yang bukan-bukan. Pelet? Emangnya gue segitu jeleknya apa? Sampe Raka agaknya bersalah banget kalo deket sama gue… batin Moni kesal. “Enak aja… Siapa juga yang melet Raka? Lo aja sana pelet dia… lo kan naksir berat sama dia…” serang Moni.
            Vanda tersindir. Sementara Ovi dan Keyla kesal mendengar perkataan Moni. “Ehh… gue juga suka Raka…” balas Ovi yang kesal melihat perkataan Moni yang mengarah ke Vanda.
            “Gue juga…” kata Keyla nggak mau kalah.
            “Tapi Raka bakalan jadi cowok gue…” balas Ovi sambil melotot ke arah Keyla.
            “Nggak bisa… gue pokoknya…” balas Keyla lagi.
            Moni heran menatap kedua orang yang sedang berebut satu orang cowok yang belum tentu menginginkan mereka berdua. Ditambah lagi dengan Vanda yang terlihat mulai kesal dengan kedua temannya tersebut.
            “Kalian nggak usah berantem!! Mau kalian suka kek sama Raka… tetep gue yang harus dapetin dia…” katanya menegaskan.
            Ovi dan Keyla saling berpandangan. Mereka kesal setengah mampus kepada Vanda yang terlalu otoriter. “APA??” kata Keyla dan Ovi bersamaan.
            Vanda membalas keterkejutan Keyla dan Ovi dengan tatapan sinisnya. Yang akhirnya memaksa Keyla dan Ovi untuk berhenti bertengkar dan berhenti memperebutkan Raka. Karena yaa… mereka berdua memang selalu mengalah dengan ketua genk mereka.
            “Lo kasih tau gue kenapa Raka sering deket-deket lo? Atau jangan-jangan… lo udah jadian sama Raka??” tanya Vanda kembali mengintrogasi Moni.
            “Ihh… gue jadian sama Raka? Nggak tuh…” jawab Moni jutek. “Terus… kalo masalah Raka sering deket-deket gue, bukannya deket-deket dengan kalian bertiga… lo tanya langsung aja sama Raka. Tapi… mungkin karena gue itu nggak centil dan…” Moni memutuskan kalimatnya sambil menahan geli.
            “Dan apa??” tanya Vanda cs bersamaan.
            “Dan… kerena gue… alami. Alias nggak kebanyakan dempul kayak kalian…” katanya sambil tertawa lebar.
            Ketiga cewek itu langsung kaget mendengar pernyataan Moni. Bagi mereka, musibah sekali kalau ada yang bilang dandan dan style mereka itu jelek. Karena ehh karena… butuh waktu berjam-jam untuk dandan keren sebelum berangkat sekolah. So, berani-beraninya Moni berkata seperti itu.
            “MONIIIIIII………..!!!!” ketiga cewek itu siap menerkam Moni yang telah berani mengejek mereka. Tapi Moni sudah lebih cepat melarikan diri dari hadapan mereka bertiga. Alhasil, ketiga cewek tersebut hanya berdecak kesal dan mengumpat dalam hati. Mereka berjanji akan membalas perbuatan Moni kepada mereka bertiga.
***
            Tepuk tangan meriah mengakhiri sebuah pertunjukkan paduan suara SMA Bhakti Negara. Semua yang hadir terharu dengan persembahan dari klub padus tersebut. Dilanjutkan dengan pertunjukkan piano klasik yang dimainkan oleh Moni.
            Raka mengamati gadis itu dengan lekat. Sejak awal, sebenarnya memang ada perasaan lain yang disimpannya untuk Moni. Tapi… dia belum berani untuk mengungkapkannya. Entah sejak kapan dia mulai merasakan ada hal lain yang menyangkut di hatinya. Dia bingung… walau awalnya dia enggan mengakuinya, tapi… perasaan memang nggak bisa bohong. Sekeras apapun dia tidak mengakuinya, tapi tetap saja perasaan yang disimpannya untuk Moni berbeda. Lebih dari sekedar teman. Itu yang lebih tepat.
            Lagi-lagi, tepuk tangan meriah sebagai pernghargaan kepada Moni yang telah berhasil memainkan lagunya dengan indah. Moni tersenyum senang melihat pemandangan dari atas panggung. Dia melihat semua orang begitu antusias memberikan applause kepadanya. Malam itu, dia telah berhasil membuat suasana sekolah menjadi lebih indah dengan permainan pianonya. Dia memberikan penghormatan kepada semua orang dan segera turun dari atas panggung.
            Di bawah sana, ada banyak mata yang menatapnya kagum. Termasuk Raka yang juga kagum dengan cewek itu. Tapi… seperti biasa, Vanda cs sangat tidak senang melihat kesuksesan Moni yang sudah berhasil menarik simpatik Raka lebih dalam lagi.
            Mereka pernah berjanji akan membalas dendam kepada Moni. Dan sejak sebelum datang ke sekolah, Vanda cs memang sudah berencana untuk membuat Moni menderita. Apapun dan bagaimanapun caranya.
            Moni berjalan menghampiri Rani yang tengah berkumpul dengan teman-teman sekelas lainnya. Dari tempat yang tersembunyi dan tidak terjangkau oleh Moni, Vanda cs mengamati Moni yang tengah berjalan. Mereka tau ke arah mana Moni akan pergi. Dengan langkah cepat, Keyla berjalan mendekati sebuah meja yang penuh dengan minuman dan kue. Dan dengan cepat juga dia meletakkan sebuah kulit pisang di dekat meja tersebut. Kemudian cewek itu bersembunyi lagi di tempat yang sama.
            Karena ingin segera sampai ke tempat Rani berdiri, Moni tidak menyadari kalau dirinya ada dalam bahaya. Dia terus saja melangkah, tanpa memperhatikan kulit pisang yang tergeletak di lantai.
            Dan benar saja, kaki Moni yang baru saja menyentuh kulit pisang tersebut, membuatnya lengah dan terjatuh. Moni mencoba menahan tubuhnya dengan memegang sebuah meja yang penuh dengan minuman dan kue yang ada di sampingnya, tapi tindakannya itu malah membuatnya makin menderita. Beberapa gelas jatuh dan jelas mengundang perhatian banyak orang. Moni malu sekali. Dia tidak menyangka kalau ini akan terjadi padanya. Sementara Vanda cs tertawa licik melihat Moni.
            Moni mencoba berdiri, tapi saat itu tubuhnya goyah lagi akibat tabrakan kasar dari Vanda yang membuat tubuhnya kembali jatuh. Bahkan, Vanda dengan sengaja menumpahkan segelas sirup ke wajah Moni. Begitupun Ovi dan Keyla yang ikut andil menumpahkan kue dengan krim ke gaun Moni.
            “Ups… sorry…” kata Vanda dengan ekspresi bersalah yang dibuat-buat.
            Dan kejadian itu membuat semua mata memandang ke arah mereka. Moni hampir menangis. Terjadi lagi. Batinnya. Dulu dia juga sempat dipermalukan di kantin sekolahnya. Dan sekarang, dia juga dipermalukan di depan orang banyak.
            Sekeras apapun Moni menahan tangisnya, tapi air matanya tetap jatuh di pipinya. Dengan cepat Moni menghapus air matanya. Dia sudah tidak kuat lagi. Dia tidak berusaha berdiri, tapi malah terdiam di lantai yang jadi hantaman empuk bokongnya.
            “Uwahh… dia… alami!!” teriak Ovi mengejek. “Tapi jorok banget!!” lanjutnya sambil tertawa puas bersama kedua temannya.
            “Berenti!!” teriak Raka yang datang bersama Rani.
            Raka dan Rani mendekat ke arah Moni. Raka membantu Moni untuk membersihkan tubuh Moni yang basah dengan sapu tangannya. Mulai dari menghapus air mata yang mengalir di pipi Moni dan membersihkan seluruh tubuhnya yang kotor akibat kelakuaan vanda cs.
            Rani tidak terima dengan sikap Vanda cs yang berlebihan. Dia melayangkan tangannya dan menampar Vanda. Rani nggak peduli, saat itu dia ada dimana. Dia sudah kesal sekali dengan perlakuan Vanda cs.
            “Elo…” Vanda ingin membalas tamparan Rani. Tapi Raka langsung menahan tangan cewek itu dan menghempaskannya. Dia menatap Vanda dengan tatapan jutek. Lalu dia menggamit lengan Moni dan memeluknya erat. Moni terkejut. Dia ingin melepaskan pelukan Raka. Tapi Raka menahannya tanpa mengatakan apapun.
            Pemandangan itu… membuat semua mata mengarah kepada Raka yang mencoba melindungi Moni. Dan pemandangan itu, membuat Vanda cs gusar, cemburu, dan sakit hati. Niat mereka yang sebelumnya ingin membuat Moni menderita malah berbalik arah. Sekarang hati Vanda lah yang menderita. Cintanya kepada Raka jelas bertepuk sebelah tangan. Dengan kesal Vanda pergi meninggalkan tempat itu. Kini semua anak menyerang Vanda cs. Mereka mendapat teriakan-teriakan tidak senang dari semua anak yang hadir.











BAB 10

            Setelah kejadian yang menimpa Moni, Raka mengajak Moni untuk pergi dari sekolah. Niatnya, Raka ingin mengantar Moni pulang. Tapi… Moni malah menolak untuk pulang ke rumah. Bundanya pasti bertanya-tanya kenapa dirinya pulang lebih cepat dari waktu yang sudah dijadwalkan. Moni malah meminta Raka untuk membawanya pergi sampai jam bubar acara perpisahan.
            Saat Raka sedang memboncengnya dengan motornya, mendadak hujan turun. Raka mengajak Moni untuk berteduh di sebuah halte bus. Dia memberhentikan motornya dan memarkirnya di dekat halte bus.
            Raka duduk di bangku halte paling ujung. Dia menatap geli ke arah Moni yang tidak ikut duduk, tapi malah berdiri. Raka menepuk lengan Moni dengan halus dan menyuruh Moni untuk duduk di sampingnya. Moni menurut. Tapi dia tidak duduk tepat di sampingnya, melainkan duduk di sisi ujung bangku halte yang satunya.
            Jarak yang cukup jauh. Mungkin, satu meter lebih. Raka hanya tersenyum menatap Moni. Moni yang hanya terdiam, yang mungkin sekarang perasaannya sedang hancur, sakit, dan kesal.
            Entah sadar atau tidak kalau cowok di sebelahnya sedang mengamatinya, yang pasti Moni hanya diam dan memandangi hujan yang mulai deras. Lalu sesaat kemudian, Moni melemparkan tatapan ke arah Raka yang masih mengamatinya. Tatapan mereka bertabrakan. Dan itu terjadi dalam beberapa detik. Detik berikutnya, Moni berpaling memandangi kembali hujan yang membuat tubuhnya kedinginan.
            Moni mengusap-usap tubuhnya. Dia menggigil. Dan Raka bisa membaca itu. Dia melepaskan Vest-nya dan memberikannya kepada Moni. Moni sempat menolak, tapi Raka memaksanya. Dan pada akhirnya, Moni menurut dan memakai Vest millik Raka.
            Malam itu, meskipun hujan membasahi bumi. Tapi… bagi Raka, terasa hangat berada di samping Moni meski dengan jarak yang cukup jauh. Di halte itu, hanya ada mereka berdua. Dan Raka mencoba mencuri-curi pandangannya kepada Moni. Moni tau itu. Tapi dia pura-pura tidak melihat. Terkadang Raka menggoda Moni untuk menatapnya. Tapi Moni tidak ingin membalas pandangan cowok itu. Dia malah menutupi wajahnya dengan lengannya yang membuat Raka tertawa geli.
            Tapi sesaat kemudian, Moni terlihat murung. Mungkin ingat dengan kejadian tadi. Atau ada hal lain yang membuatnya bersedih.
            “Jangan sedih lagi donk…” Raka mencoba memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
            Moni mengabaikan perkataan Raka. Dia malah makin sedih dan ingin rasanya menangis. Raka merasa bersalah dengan ucapannya. Mestinya, dia tidak boleh melarang cewek itu menangis kalau itu bisa membuatnya lega. “Maaf… lo boleh nangis kok… Tapi, gue boleh tau nggak??” tanya Raka.
            Moni tidak menjawab, tapi hanya menatap Raka dan menunggu kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut Raka.
            “Ada masalah apa sih lo sama Vanda?” tanya Raka hati-hati.
            Moni terdiam. Dia malah menitikkan air matanya lagi. Kenapa dia jadi sangat mudah menjatuhkan air matanya di hadapan cowok itu. Padahal selama ini, dia jarang sekali menangis di depan orang lain. Tapi kenapa sekarang dia menjadi lebih cengeng dari sebelumnya?
            Raka menunggu jawaban dari Moni dengan sabar. Dia pun ikut merasakan kesedihan di hati Moni. Raka mencoba lebih dekat sedikit agar bisa mengusap air mata Moni dengan tangannya. Setelah tangannya sampai ke pipi Moni, dia tidak berusaha lebih dekat dengan Moni. Karena dia tau, yang Moni inginkan adalah jarak diantara mereka berdua.
            Moni menatap Raka yang begitu lembut mengusapkan air matanya yang terjatuh. Dan, Moni mencoba menjelaskan apa yang membuatnya menjadi sasaran kejahatan Vanda cs. “Gue… juga nggak tau kenapa mereka kejam banget… tapi yang pasti, Vanda… Vanda…” Moni ragu melanjutkan kalimatnya.
            Raka tidak sabar mendengar lanjutan kalimat Moni. “Vanda kenapa?” tanyanya penasaran.
            “Vanda… emm… Vanda naksir lo…” katanya jutek.
            Raka malah tertawa mendengar kalimat Moni. Tapi kemudian dia sadar kalau tawanya membuat Moni marah. Apalagi Moni kini memukul tubuhnya dengan kesal. “Kok lo ketawa sih? Gara-gara lo tau nggak gue tuh menderita… terus juga, lo ngapain meluk-meluk gue sembarangan, Hah??”
            Raka menghentikan tawanya. Dia mulai serius dan menatap Moni lekat. Lalu… “Maaf Mon… tadi gue emang sengaja meluk lo. Gue udah tau kok kalo Vanda naksir berat sama gue…” kata Raka narsis. “Ya… biar dia lebih menderita lagi dari lo…” kata Raka.
            Moni berdesis kesal. Sok ganteng!! Batin Moni.
            “Cuma itu aja masalah lo sama Vanda? Nggak ada hal lain??” tanya Raka serius. Moni menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Raka tersenyum menatap cewek itu dan membelai lembut rambut Moni. Sebenarnya Moni kaget. Tapi… entah kenapa dia membiarkan saja Raka melakukannya. “Ya udah… kalo gitu lo jangan nangis lagi ya… sekarang dia pasti lebih menderita dari lo…” kata Raka mencoba meyakinkan Moni.
            Moni menggelengkan kepalanya dengan kesal. “Emang siapa yang nangis karena dia??” teriak Moni ditengah-tengah hujan yang mulai sedikit mereda.
            Sementara itu, Raka bingung. Dia mengernyitkan kedua alisnya dan mengirimkan sinyal kebingungan untuk Moni. Berharap Moni mengerti kalau dirinya seolah ingin bertanya.
            “Gue… gue… kangen Ayah…” kata Moni kemudian. Setelah mengucapkan kalimat itu, ada perasaan sesal yang tiba-tiba saja datang. Kenapa dirinya harus mengatakan hal itu kepada Raka, sementara dengan Bunda dan Kak Farant pun tidak.
            “Kenapa?” tanya Raka dengan hati-hati.
            Moni diam sejuta bahasa. Sebenarnya, sudah lama sekali dia merindukan Ayahnya yang bekerja di Singapore. Tapi, dia nggak pernah menceritakannya kepada siapapun. Dia hanya nggak ingin terlihat sedih oleh siapapun. Apalagi oleh Bundanya. Apalagi, ayahnya sudah hampir setahun tidak pulang. Dan Moni merasakan ada yang kurang. Suasana rumahnya itu… ya… suasananya terasa sepi dan kurang berisi.
            Melihat sikap Moni yang lebih memilih diam daripada menjawab pertanyaannya, Raka pun mengerti. Dia memandangi langit yang gelap. Saat itu, hujan sudah mulai reda. Dia ingin segera membawa cewek itu pergi dari halte. “Mungkin memang lo punya rahasia sendiri… ya udah nggak apa-apa. Kita pulang aja yuk!” ajak Raka.
            Moni menahan lengan Raka untuk yang pertama kalinya. Raka benar-benar terkejut dengan sentuhan tangan Moni. Selama ini, selalu dirinya yang melakukan hal itu. Tapi kali ini… keadaan berbalik. “Ayah di Singapore… udah hampir setahun Ayah nggak pulang. Gue kangen…” Moni mulai menitikan air matanya. “Gue juga sedih ngeliat Bunda yang selalu sendirian…”
            Raka mengurungkan niatnya untuk melangkah. Dia malah kembali duduk. Dan kali ini, dia duduk tepat di samping Moni. “Mon… kenapa lo nggak coba bilang sama Ayah lo?” tanya Raka pelan.
            “Gue pikir… Ayah sibuk. Dan gue nggak mau buat Ayah kepikiran…” jawab Moni sambil mengusap air matanya. Lagi-lagi, dia baru sadar kenapa dia bisa terbuka dengan cowok itu.
            “Ya mungkin lo bener Mon… mungkin Ayah lo emang sibuk. Tapi… gue yakin kok, pasti ayah lo juga kangen sama lo…” kata Raka mencoba menenangkan Moni. “Kenapa lo nggak coba cari waktu untuk dateng ke Singapore dengan nyokap lo Mon? Kalo ayah lo sulit buat kasih waktu untuk ngunjungin lo, kenapa bukan lo yang coba ngasih waktu buat ayah lo?” saran Raka kemudian.
            Moni berpikir sejenak. Benar juga. Selama ini dia selalu berharap ayahnya lah yang pulang ke rumah. Tapi dia belum sempat memikirkan untuk mengunjungi ayahnya di Singapore. Mungkin dia perlu bicara dengan Bundanya. Ya… mestinya begitu. “Iya… mungkin gue akan coba ngomong sama Bunda…” kata Moni sedikit lebih tenang.
            Raka tersenyum melihat keadaan Moni yang mulai membaik. “Ya udah… sekarang gue anter lo pulang ya… kayaknya lo lebih baik istirahat deh…”
            “Tapi ini kan baru jam 9… gue bilang sama Bunda acaranya selesai jam 11…” kata Moni sambil melirik arloji yang melingkar di lengan Raka.
            “Emangnya wajib pulang jam 11 apa?” tanya Raka menyadarkan Moni. “Lo istirahat aja ya…”
            Moni pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengekor Raka menuju motornya.