THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label sma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Canon in Love Bab 15 & 16

BAB 15

Moni berlari tanpa arah. Pikirannya melayang jauh. Dia nggak sadar lagi kalau dirinya tengah berlari menjauh dari rumahnya. Dan entah sudah seberapa jauh dirinya berlari tanpa arah. Tiba-tiba Moni merasakan kakinya mulai lemah. Dia menghentikan aksi lari tanpa arahnya. Sambil mengusap air mata dan peluh keringat yang mengalir di keningnya, Moni pun kembali melanjutkan aksi larinya.
Moni nggak sadar kalau dirinya tengah berlari di pusat keramaian. Dia malah terus berlari tanpa arah. Dan saat itu, seolah-olah langit berduka dan ikut berempati akan kesedihannya. Siang itu, hujan turun dengan derasnya. Seolah merasakan kepedihan hati Moni.
Dia kehilangan ayahnya. Bahkan juga akan kehilangan Raka. Raka akan pergi. Entah mengapa baginya dunia seolah-olah sangat tak bersahabat baginya. Dia mendengar berita yang membuat hatinya hancur dalam waktu yang bersamaan.
Tiba-tiba langkah Moni menabrak sesorang di depannya. Itu disebabkan karena dirinya sudah tak lagi mengontrol emosinya. Dia membiarkan tubuhnya berlari tanpa arah hingga menabrak tubuh jangkung di depannya. Seseorang yang juga basah kuyub karena bermandikan hujan.
“Moni?” seorang cowok yang menabrak Moni itu heran dengan Moni yang berlari sampai menabraknya. Apalagi, Moni masih mengenakan seragam sekolahnya.
“Raka?” Moni juga sama herannya dengan Raka. Dia melihat cowok itu juga masih mengenakan seragam sekolahnya. Kenapa bisa mereka berdua bertemu di tempat itu.
Raka terlihat khawatir dengan keadaan Moni. Dia pun memegang pundak Moni dan menatap cewek itu lekat-lekat. “Lo kenapa? Dan, lo ngapain di sini?”
Moni tidak menjawab pertanyaan Raka. Dia sudah nggak bisa lagi menahan diri untuk terlihat kuat. Lagi-lagi, Moni membiarkan dirinya menangis di hadapan Raka. Padahal, cowok itu sudah nggak lagi perhatian dengannya. Cowok itu sudah berubah semenjak masuk sekolah. Entah apa alasannya.
Raka membiarkan Moni menangis. Dia meraih lengan Moni dan mengajaknya berteduh di halte bus yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Raka membiarkan Moni menangis agar cewek itu lebih tenang. Dia nggak mau terlalu banyak bertanya sebelum Moni sedikit lebih tenang, karena itu pasti akan membebani Moni.
Setelah Moni lebih tenang, barulah Raka membuka mulutnya. Dia mencoba bertanya kepada Moni tentang apa yang telah terjadi. Dengan sangat hati-hati. “Mon… apa ada masalah?”
Moni terdiam. Dia masih belum bisa mengeluarkan kata-kata. Tapi… entah mengapa, dia sedikit tenang setelah Raka ada di sampingnya. Mungkin memang Raka orang yang bisa membuatnya lebih tenang. Mungkin… batinnya.
“Kalo memang rahasia… nggak apa-apa. Tapi, lo boleh kok kalo memang mau nangis di depan gue… gue siap liat lo nangis…” kata Raka yang kini mulai kembali seperti dulu lagi.
Moni mencibir. Dia mulai lagi… batinnya. Tapi ada perasaan senang di dalam hati Moni karena Raka kembali seperti dulu. Hal-hal yang dibenci Moni dari Raka, seperti mengganggunya sampai bercanda tentang hal yang nggak penting, sudah kembali. “Nyebelin!!”
Raka tersenyum geli. Ternyata dia memang nggak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia nggak tahan kalau harus terus-menerus bersikap jutek dengan cewek itu. “Maaf…” katanya lembut. Raka mengusap air mata yang tersisa di pipi Moni. Dan melanjutkan dengan mengusap kepala Moni. “Lo kenapa sih?”
Moni terdiam sejenak. Dia bingung apakah akan menceritakan hal itu kepada Raka atau nggak. Tapi, dia memang butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Dan, mungkin orang yang bisa mengerti adalah Raka. Jadi… nggak ada salahnya untuk menceritakannya kepada Raka kan? “Bunda sama Ayah gue bercerai…”
Raka terkejut mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Moni. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Moni saat itu. Dan dia mengerti sekali, kenapa Moni sampai begitu sedihnya. Meskipun dia nggak mengalami hal yang sama dengan Moni.
Moni menceritakan semua yang ingin diceritakan olehnya. Mulai dari ketika dirinya pulang sekolah dan mendengar percakapan antara Bunda dan Farant. Dan lagi-lagi, karena dia membagi cerita itu dengan Raka, dia pun kembali merasakan kepahitan.
“Gue ngerti Mon…” kata Raka setelah Moni menyelesaikan ceritanya. “Tapi… lo harus ingat satu hal. Suatu saat, kita pasti akan kehilangan orang yang kita sayangin.. Dan, masalah Bunda dan Ayah lo bercerai, mungkin itu yang terbaik Mon..”
Moni tau itu. Mungkin memang perceraian kedua orangtuanya memang jalan yang terbaik. Tapi, dia bingung dengan kalimat Raka sebelumnya. Raka bilang, suatu saat kita pasti akan kehilangan orang yang kita sayangin. Apa maksudnya? “Kenapa lo bilang gitu? Gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayangin…”
Raka terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Moni. Tapi malah melemparkan senyum tipis ke Moni. Lalu, pandangannya tertuju pada satu arah. Pelangi!! Dia menunjukkan pelangi yang terlukis indah di atas langit kepada Moni. “Liat…”
Moni menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Raka. Dia tercengang. Meskipun pelangi itu terlihat begitu jauh, tapi terlihat sangat indah. “Sayang banget nggak begitu keliatan…” teriak Moni girang.
“Ayo ikut gue…” Raka menggandeng tangan Moni.
“Kemana?” tanya Moni bingung.
Raka tidak menjawab. Dia menggenggam tangan Moni dan membawanya menuju motor miliknya yang diparkir tak jauh. Setelah sampai di depan motornya, Raka pun memberitahu kemana mereka akan pergi. “Kita cari tempat yang paling dekat dengan pelangi itu…” katanya sambil memakai helmnya.
***
Setelah mengendarai motor sambil mengikuti arah pelangi, Raka dan Moni sampai di sebuah taman. Di taman itulah pelangi yang mereka kejar terlihat sangat jelas dan sangat dekat. Moni tak habis-habisnya berdecak kagum melihat keindahan pelangi tersebut. Sampai Moni terlupakan akan kesedihannya sendiri.
Raka tersenyum menatap Moni. Dia senang karena Moni bisa kembali tersenyum. Tapi, tidak dengan dirinya. Raka tidak sebahagia Moni. Meskipun dia mencoba untuk tersenyum, tapi dia merasakan kepedihan di dalam hatinya.
Moni menarik Raka dan membawanya untuk duduk di samping sebuah pohon yang rindang. Mereka berdua begitu menikmati keindahan pelangi tersebut. Tapi, tiba-tiba Moni teringat sesuatu. “Raka… lo…” Moni ragu untuk bertanya kepada Raka. “Lo… lo beneran mau pindah?”
Raka tersentak. Dia nggak menyangka kalau Moni menanyakan hal itu. Hal yang sedang mengganggu pikirannya. “Bisa iya… bisa nggak…”
“Gue serius…” kata Moni kesal. Tapi… tiba-tiba dia ingat dengan perkataan Raka di halte bus tadi. “Apa ini yang lo maksud? Kita pasti akan kehilangan orang yang kita sayang??” kata Moni tanpa sadar.
Raka nyaris tertawa mendengar kalimat Moni. “Berarti lo sayang sama gue donk? Gue juga…” katanya.
Wajah Moni memerah. Dia baru sadar kalau kalimatnya tadi salah besar. Dengan dirinya mengatakan hal itu kepada Raka, itu artinya sama saja dia menyatakan cinta kepada Raka. Aduhhh!! Teriaknya. “Ihh apaan sih… ya udah lo pergi aja sana!!” teriak Moni.
Raka berpikir sejenak. Sesaat kemudian, dia menatap Moni lekat. “Semua orang… pasti akan mati kan??”
Moni tersentak. Iyalah!! Batinnya. Ohh… dia mengerti maksud Raka. Jadi itu maksudnya. Raka ingin membuka pikiran Moni. Sekeras apapun kita ingin mempertahankan orang yang kita sayang, suatu saat kita pasti akan kehilangan orang tersebut. Begitupun dengan orang yang kita sayang. Jadi, kalau Moni kehilangan ayahnya… itu masih lebih baik karena ayahnya masih bisa terlihat. “Iya…. Gue ngerti maksud lo…” katanya.
Raka tersenyum tipis. Lalu, senyum tipisnya berubah menjadi tawaan geli. “Jadi… kita berdua jadian donk?” tanyanya geli.
Wajah Moni memerah. Dia malu sekali. Tapi, saat itu dia melihat raut wajah Raka berubah jadi lebih serius. “Apaan sih…” katanya sambil memukul pundak Raka.
“Bukannya tadi lo nembak gue??” kata Raka sambil bercanda lagi. Tapi sesaat kemudian berubah jadi lebih serius. “kalo gitu gue yang nembak deh… Mon gue…”
Moni memotong kalimat Raka. “Gimana kalo taman ini kita kasih nama Taman Pelangi?” katanya.
Raka tersenyum tipis. Dia nggak protes karena kalimatnya diputus. Dia malah sadar kalau dirinya nggak boleh melakukan itu. “Iya… Taman Pelangi… boleh juga…”
Moni tersenyum. Tiba-tiba, dia sadar harusnya dia biarkan saja Raka meneruskan kalimatnya. Tapi kenapa malah memotongnya. Uhh… bodoh!! “Tadi… lo mau ngomong apa?” Moni memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Ya… dia sudah lelah berpura-pura terus.
Raka mengeryitkan keningnya. “Yang mana? Gue lupa…” katanya sambil berdiri dan berjalan menjauh dari Moni.










BAB 16

Pagi itu, Moni datang ke sekolah agak terlambat. Pasalnya, tadi malam Moni sempat tidak bisa tidur memikirkan Bunda dan Ayahnya. Tapi, Moni sudah memutuskan untuk tidak memusuhi Bundanya dalam waktu yang lama. Moni tau, apa yang dilakukan Bunda semata-mata hanya untuk membuat Moni tidak bersedih. Meskipun masih berat, tapi Moni sudah mau bicara dengan Bundanya.
Dan, selain memikirkan Bunda dan Ayahnya, rupanya ada hal lain yang membuat Moni nggak bisa tidur. Dia juga memikirkan Raka beserta semua kata-kata yang keluar dari bibir Raka. Semalaman, dia dibuat bingung oleh perasaannya yang bercampur. Sampai dibuat bingung dengan berita yang sampai ke telinganya. Apakah Raka akan benar-benar pindah ke Amerika atau nggak. Malah, Raka tidak memberikan jawaban pasti kepadanya ketika kemarin Moni bertanya akan hal itu. Dan itu, membuat Moni makin bingung dan sibuk memikirkannya semalam suntuk.
Dan ketika Moni sampai di kelasnya, ternyata hampir semua teman-teman sekelasnya sudah datang. Tapi… Raka nggak ada. Cowok itu belum datang! Batin Moni. Kecemasan Moni sedikit terjawab. Dia melihat Ana, Nunik, Ria, dan cewek-cewek sekelas lainnya terlihat sedih dan sedikit menangis. Apa maksudnya?
Moni menjatuhkan tasnya di meja dan menguping pembicaraan cewek-cewek sekelasnya yang tengah berkumpul di tempat duduk Ana. Tiba-tiba Naima datang dan langsung menyambar kelompok cewek-cewek itu.
“Kenapa? Kenapa?” tanya Naima heran.
“Raka pergi…” jawab Ana.
Moni tersentak. Dia membisu dan tubuhnya terasa kaku. Raka pergi? Kenapa secepat itu? Batin Moni.
“Apa? Jadi Raka udah pergi ke Amerika?” tanya Naima yang juga ikut sedih.
“Tadi Raka sempet pamitan sama kita… tapi dia buru-buru, jadi nggak bisa nunggu semua teman-teman kita dateng. Terus, dia pergi ke kantor guru untuk pamitan. Sekarang nggak tau Raka udah pergi atau belum…” cerita Nunik.
Moni nggak bisa lagi menahan diri. Dia nggak bisa membiarkan Raka pergi. Dia tau dia nggak bisa terus-terusan menyembunyikan perasaannya. Ya… dia menyukai Raka. Itulah yang sebenarnya terjadi. Jadi, dia harus berbuat sesuatu.
“Raka nggak akan pergi!!” teriak Moni. Dia lalu berlari untuk mencari Raka. Semua teman-temannya yang ada di kelas itu terkejut dengan sikap Moni. Mereka mengerti dengan maksud Moni. Pasti cewek itu ingin mencegah kepergian Raka. Lalu, teman sekelas Moni – cewek ataupun cowok – mengikuti Moni dan akan berusaha membuat Raka tidak pergi ke Amerika.
Pencarian Moni dan teman-temannya di mulai dari ruangan guru. Tapi, rupanya Raka sudah pergi. Raka sudah tidak ada di ruang guru. Dan, guru-guru yang tengah menunggu jam masuk bilang kalau Raka sudah pergi. Pak Bono yang melihat anak-anak menyerbu ruang guru pun menyuruh semua anak untuk kembali ke kelas karena tinggal beberapa menit lagi akan masuk sekolah. Tapi, Moni dan anak-anak yang lainnya bukannya menuruti Pak Bono malah melanjutkan pencarian mereka.
Moni lalu berlari menuju gerbang sekolah diikuti teman-temannya yang setia mengekornya di belakang. Dan benar saja, di depan gerbang sekolah masih ada Raka di sana. Cowok itu mengamati sekolahnya dengan teliti, seolah dia nggak mau pergi dari sekolah itu.
Saat itu, Raka yang tengah mengamati sekolahnya dan mengabadikannya di dalam pikirannya pun menatap Moni yang tengah menghampirinya. Dia melihat Moni yang memperlambat langkahnya. Dan juga melihat teman-temannya yang sangat terlihat sedih.
“Moni…” desis Raka.
Moni terdiam. Dia nggak bisa melakukan apapun. Tadi, dia begitu semangatnya ingin menahan kepergian Raka. Tapi sekarang, kenapa dia malah membeku? Dia bingung harus berbuat apa. Dia juga masih mengikuti egonya untuk munafik. Harusnya itu nggak perlu. Dia harus melakukan sesuatu. Sementara, teman-teman yang lain hanya menatap Raka seolah dengan tatapan itu, Raka bisa mengerti agar tidak pergi ke Amerika.
“Lo… Lo… Lo nggak jadi kan pergi ke Amerika?” tanya Moni pada akhirnya dengan suara berat. “Bilang iya Ka… lo nggak jadi kan ke Amerika?” tanyanya sambil menahan air mata yang hampir menetes.
Raka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Kalian… kenapa? Ini udah masuk kan?” tanyanya datar.
Semua anak tidak menjawab pertanyaan Raka. Mereka membisu dan tidak mampu mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Mereka seolah mengerti dan akan membiarkan Moni saja yang melakukannya.
“Raka… lo nggak bakal pergi kan?” tanya Moni sekali lagi dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
Raka terdiam. Dia menatap Moni lekat. Dia nggak bisa melihat cewek yang disayanginya menangis. Tapi, dia juga nggak bisa memutuskan untuk tidak pergi ke Amerika. “Mon…” Raka menggenggam tangan Moni. “Maaf Mon… tapi… gue harus pergi…” katanya sambil menatap Moni.
“Kenapa Ka..?” tanya Moni sambil mengguncang-guncangkan pundak Raka. “Lo… kenapa harus pergi? Gue.. gue nggak mau lo pergi… Gue.. nggak mau keilangan lo…”
Raka semakin nggak tahan melihat Moni menangis. Dia benar-benar tidak bermaksud membuat cewek itu menangis. Tapi, lagi-lagi dia tidak bisa membatalkan kepergiannya ke Amerika. Dia harus pergi… sepahit apapun kenyataan yang akan diterima dirinya maupun Moni… tapi dia harus pergi.
“Mon… gue nggak mau ninggalin lo… tapi…” Raka menghapus air mata di pipi Moni. Dia bingung harus bagaimana agar membuat Moni mengerti dan berhenti menangis. “Gue harus pergi…”
Moni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memegang tangan Raka yang menyentuh pipinya. “Kenapa harus sekarang… paling nggak sampe lulus Ka…” pinta Moni dengan sangat memohon.
Raka tidak lagi bisa membalas perkataan Moni. Dia malah memeluk cewek itu erat-erat dan membiarkan dirinya meneteskan air mata. Juga membiarkan semua teman-temannya menyaksikan hal itu. Bahkan, mungkin juga dengan Pak Gatot yang menunggu Raka dengan setianya di dalam mobil ikut menyaksikannya. Benar atau nggak tindakannya itu, Raka nggak peduli. Dia hanya ingin melepas kepedihannya. Hari itu… hari terkahir dia akan melihat Moni. Dia akan ke Amerika dan tidak lagi bertemu dengan cewek itu.
Raka melepaskan pelukannya dan kembali mengusap air mata yang mengalir di pipi Moni. saat itu juga dilihatnya dari arah belakang, Bu Yanti – guru yang hari itu mengajar kelas Moni –, bersama Pak Bono datang dan menyuruh semua anak masuk kelas. Tapi… semua teman sekelas Raka tidak mau masuk malah terus menunggu Raka.
Lalu… “Raka jangan pergi…” teriak Ana.
Semua anak berpandangan. Termasuk Moni yang juga ikut memandang Ana. Lalu dia beralih pandang kea rah Raka. Memohon dengan tatapannya agar cowok itu tidak pergi.
“Raka jangan pergi…” kata Nunik mengikuti teriakan Ana.
“Raka jangan pergi… Raka jangan pergi…” dan perlahan-lahan semua anak meneriakan kalimat itu.
Meski bingung dan sedikit kesal, Pak Bono dan Bu Yanti akhirnya membiarkan anak-anak melakukan itu. Karena, sebenarnya mereka berdua juga kehilangan Raka.
“Raka jangan pergi…” Moni pun juga mengikuti kalimat itu sambil tidak berhenti menangis.
Sementara itu, Raka tidak bisa berbuat apapun. Dia kaku dan membisu. Perlahan… Raka melepaskan genggamannya dari tangan Moni. Meski sempat tertahan, genggaman Raka pun terlepas dan Raka siap pergi. Pak Gatot sudah membukakan pintu mobil untuk Raka. Saat itulah Moni berteriak… “Raka!! Jangan pergiiiiiii…..”
“Mon… maaf…” hanya kata itu yang mampu terucapkan oleh Raka. Dan… “Gue… akan kembali tiga tahun lagi… gue harap… gue bisa liat lo di tempat waktu itu… dan, gue… akan menghubungi lo Mon…” kalimat itu mengakhiri segalanya. Mengakhiri perjuangan Moni dan teman-temannya untuk menahan Raka.
Moni berusaha mengejar mobil Raka yang hampir jauh darinya. Sambil berteriak, “Raka!!!” Tapi Nunik menahannya dan memeluk Moni. Nunik mengerti sekali kalau Moni terpukul. Untuk itu, Nunik membiarkan Moni memeluknya erat dan menangis sejadinya.
Hari itu, Raka pergi dan berjanji akan kembali tiga tahun lagi. Di tempat waktu itu… Dia membawa sejuta kenangan indahnya bersama Moni. Dan menyisakan kesedihan di hati Moni. Entah mengapa Moni sangat berat melepas Raka. Dia takut tidak bisa bertemu dengan Raka lagi. Takut sekali…

Canon in Love (Bab 13 & Bab 14)
Canon in Love (Bab 17 & Bab 18)

Canon in Love Bab 13 & 14

BAB 13

Bunda melamun di depan pintu kamar rumah sakit bersama beberapa teman Farant. Tadi sewaktu di kampus, Farant tiba-tiba pingsan. Teman-teman dekatnya, langsung membawa Farant ke rumah sakit karena kondisi Farant yang tidak memungkinkan. Dan dokter bilang, Farant menderita usus buntu kronis.
Farant harus segera dioperasi. Tapi biaya untuk melakukan operasi tidaklah sedikit. Selama ini, Bunda memang sudah mengumpulkan sejumlah uang untuk memberangkatkan Moni ke Singapore. Tapi… Bunda nggak tega mengambil uang itu untuk keperluan operasi. Bunda sudah janji akan menginjinkan Moni pergi ke Singapore untuk bertemu ayahnya.
Selama ini, Farant tidak pernah mengeluhkan sakit sedikitpun. Mungkin dia menyembunyikannya. Karena sering kali Farant terlihat pucat dan terdiam. Mungkin Farant nggak ingin membuat Bundanya khawatir dan terlalu memikirkannya.
Tak lama kemudian, Moni yang memang ditunggu-tunggu oleh Bunda sudah datang. Dengan peluh keringat yang mengalir di tubuhnya, Moni langsung menghampiri Bunda yang menyembunyikan kesedihannya. Semua teman-teman Farant yang tadi sempat menemani Bunda berpamitan untuk pulang. Setelah mengijinkan teman-teman Farant untuk pulang, Bunda mengajak Moni ke dalam kamar tempat Farant di rawat.
Sebelumnya, Bunda terlebih dahulu menceritakan semuanya kepada Moni. Moni jadi semakin sedih. Dia nggak pernah tau kalau kakaknya sakit. Dan Moni sudah memutuskan untuk membuag jauh-jauh keinginannya untuk bertemu sang ayah. Walaupun Bunda sempat menolak, tapi Moni memutuskan untuk menggunakan uang tersebut untuk keperluan operasi kakaknya.
“Kak…” sapa Moni dengan suara lirih.
Farant yang tengah memandangi selang yang menusuk lengannya, merasa surprice dengan kehadiran adiknya. Tapi, Farant jadi bingung melihat adiknya yang menangis menatapnya.
“Jelek… ngapain kamu nangis??” ledek Farant sambil tersenyum mengusap-usap kepala adiknya.
“Masa aku mau ketawa ngeliat kakak aku sakit…” balas Moni sambil mengusap air matanya.
Farant tersenyum terharu melihat adiknya. “Gimana nilai raport kamu? Pasti bagus kan??” tanya Farant.
Moni tidak bersuara. Dia hanya menjawab pertanyaan kakaknya dengan menganggukkan kepalanya.
“Ohh… bagus deh… berarti adikku sayang bakal jalan-jalan nih… jangan lupa oleh-olehnya ya dek…” kata Farant lagi-lagi sambil mengusap kepala adiknya.
Moni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan itu membuat Farant bingung. Dia menatap Bundanya yang seolah-olah bertanya. Tapi Bunda tak memberi jawaban apapun. Bunda malah tertunduk dan terdiam.
“Nggak Kak… aku nggak akan pergi..” kata Moni yang mulai mengembangkan senyuman di bibirnya.
“Apa?” desis Farant. Dia kembali menatap Bunda yang malah pergi meninggalkan kamar Farant.
“Kak…uang itu buat operasi kakak. Memangnya kakak nggak mau sembuh??” tanya Moni kesal.
Farant mengernyitkan keningnya. Dia, terharu sekali dengan keputusan adiknya. “Dek…Kakak nggak apa-apa kok!! Kakak baik-baik aja Dek…”
“Kakak udah divonis usus buntu kronis, masih bilang nggak apa-apa?” tanya Moni. “Selama ini, kenapa kakak nggak pernah ngeluh. Dan aku nggak pernah liat kakak kelihatan sakit… Kakak sembunyiin semuanya ya?”
Farant tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia membenarkan kalimat adiknya itu. memang selama ini, dia sering merasa sakit di bagian ususnya. Tapi, dia pikir hanya sakit perut biasa. Dia memang tidak pernah bilang dengan Bunda dan adiknya. Karena, tentu saja dia nggak ingin melihat Bundanya khawatir secara berlebihan. “Emm… mungkin, anak cowok memang begitu Dek…”
“Apa?” tanya Moni penasaran.
“Sifat-sifat dasar cowok… nggak mau dibilang lemah, cengeng, manja, dan nggak mau bikin Bunda dan adiknya khawatir berlebihan. Haha… percaya deh.. rata-rata anak cowok itu maunya dibilang kuat, hebat, mandiri, dan nggak cengeng…” kata Farant mencoba menjelaskan.
Moni mencibir. Dia nggak percaya tuh dengan kata-kata kakaknya. Ya mungkin memang benar yang dibilang kakaknya. Tapi… dia pikir, nggak semua anak cowok seperti apa yang dikatakan kakaknya.
Tiba-tiba, Raka dan Rani muncul dari balik pintu kamar rumah sakit dan langsung menghampiri Moni dan Farant. Moni terharu dengan kehadiran Rani. Dan juga terharu dengan kehadiran Raka.
“Kak Farant… bisa sakit juga ternyata…” canda Rani yang membuat Farant tersenyum. “Kapan operasinya kak?”
“Mungkin secepatnya…” jawab Farant singkat. Lalu, Farant menatap adiknya yang tiba-tiba jadi kaku dan tidak berkata-kata. Hmm, it looks so weird. Moni isn’t Moni. Yup… cause she’s talkative girl. And now, she’s being taciturn girl. Ohh… look that clumsy girl! Ohh… rupa-rupanya di samping Moni tengah berdiri cowok keren nan ganteng toh!! Batin Farant.
“Nama kamu siapa?” tanya Farant kepada Raka.
Raka langsung menyodorkan tangan kanannya dan menjabat tangan Farant. “Raka Kak…”
Farant langsung tersenyum geli melihat adiknya yang kini berubah jadi cemberut girl. Hehe… “Ohhh, gue tau!! Lo Raka yang minjemin DVD film Canon in Love itu kan??” tanya Farant jail.
Moni melotot mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut kakaknya itu. “Kakak…”
“Hehehe… Kok kakak tau…” balas Raka.
“Tau donk… Moni sering nyeritain lo tuh…” kata Farant yang mulai nganclong.
Moni memukul tubuh kakaknya yang baru saja mengatakan hal yang tidak pernah dilakukannya. Memang dia pernah bercerita tentang Raka waktu itu. Tapi tidak sering kan??
“Aduhh… sakit Mon… wah kamu nggak mau kakak sembuh ya…” teriak Farant.
















BAB 14

Keputusan Moni untuk menunda kepergiannya ke Singapore, baginya adalah yang terbaik. Meskipun dia kangen sekali dengan Ayahnya, tapi baginya kakaknya harus sembuh. Dan itu lebih penting ketimbang dia mengikuti egonya sendiri.
Dan keputusannya itu juga diperkuat dengan alasan Bunda yang nggak mau memberatkan Ayahnya untuk meminta sejumlah uang untuk biaya operasi Farant. Entah mengapa Moni merasa ada sesuatu yang aneh. Bunda dan Ayah adalah keluarga. Tapi kenapa dia merasa mereka begitu jauh.
Selama liburan, Moni hanya menghabiskan waktunya di rumah. Moni jarang sekali keluar rumah hanya untuk sekedar melihat-lihat. Paling-paling hanya sesekali saja dia keluar rumah. Moni lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca komik ataupun menonton koleksi film-film terdahulunya.
Sementara itu, Rani memilih berlibur ke rumah neneknya di Surabaya. Sedangkan Raka, tidak terdengar lagi kabarnya. Selama liburan, Raka tidak pernah sekalipun menghubungi Moni. Entah kemana cowok itu pergi. Dan entah kenapa, kadang Moni sering berharap kalau cowok itu akan menghubunginya. Tapi, kenyataannya tidak pernah.
Sampai pada akhirnya ketika tahun pelajaran baru dimulai. Hari itu, hari pertama Moni masuk sekolah. Hari itu Moni datang lebih pagi. Dia ingin tau apakah tahun ini dia akan sekelas lagi dengan Raka atau tidak. Sebenarnya, dalam hati Moni protes abis-abisan kenapa bisa dirinya berharap akan sekelas dengan Raka. Tapi itulah yang terjadi. Dan dia sudah lelah bersembunyi terus menerus.
Dan tahun ini, dia sudah tidak lagi sekelas dengan Rani. Karena Moni kini menjadi bagian dari kelas XII IPS 1. Sedangkan Rani, berpindah ke XII IPS 3. Hanya tinggal Raka saja yang tidak diketahui olehnya akan masuk di kelas mana. Ya, selama liburan dirinya tidak pernah mendengar kabar dari Raka. Dan dia malu untuk menghubungi Raka lebih dulu.
Tapi, sampai ketika jam masuk kelas, cowok bernama Raka yang diharapkannya datang dan masuk ke kelasnya tidak muncul. Mungkin Raka tidak sekelas dengannya lagi. Ya, mungkin saja Raka ada di kelas lain. Dalam pikirannya, Moni berencana akan mencari cowok itu diam-diam. Karena dia penasaran sekali dengan cowok itu. Entahlah… yang pasti ini kali pertamanya penasaran dengan orang. Dan orang itu adalah Raka yang dibencinya.
Dan ketika pulang sekolah, Moni benar-benar mencari dimana Raka sebenarnya. Secara diam-diam dan dengan terburu-buru karena takut semua anak sudah pulang, dia melirik semua kelas XII IPS dan mencari-cari dimana Raka. Pertama, dia mencari cowok tiu di kelas XII IPS 2. Tapi cowok itu nggak terlihat. Dan begitupun sampai dia tiba di kelas paling ujung XII IPS 4. Cowok itu masih tidak terlihat. Sangat tidak mungkin kalau Moni berubah haluan dengan mencari Raka di kelas XII IPA. Karena cowok itu nggak akan pernah mungkin terdepak ke kelas anak-anak sains.
Keesokkannya pun, Raka masih tidak terlihat. Entah kemana cowok itu. Setelah kamarin selama liburan dia menghilang. Dan sekarangpun menghilang. Apa mungkin dia pindah sekolah. Tapi nggak ada yang bilang kalau Raka itu pindah. Bukannya selama ini, apa saja yang menyangkut tentang cowok itu, teman-temannya selalu membicarakannya? Dan sekarang berita tentang kepindahan Raka sama sekali tidak terdengar.
Tapi kekhawatiran Moni terjawab. Hari itu, dia meminjam absen kelas yang dipegang oleh Linda – sekertaris kelas XII IPS 1. Dan ketika itulah, Moni mencari-cari nama Raka. Dan benar saja cowok itu memang sekelas dengannya. Syukurlah!! Batin Moni. Walaupun Raka belum juga masuk, tapi paling enggak, ada kemungkinan Raka masih tetap sekolah di sekolahnya.
***
Dua hari kemudian…
Pagi itu, Moni dikagetkan dengan seorang cowok yang duduk sendirian di bangku miliknya. Saat itu, suasana kelas masih sepi, karena hari itu Moni jadi orang pertama… ohh bukan tapi jadi orang kedua yang baru saja datang.
Dan Moni dikejutkan dengan seorang cowok yang duduk di bangkunya. Seorang cowok yang baru saja merebut bangku miliknya. Dalam hati Moni berkata, kenapa cowok itu suka sekali merebut bangku miliknya. Huh…
“Ini bangku gue…” kata Moni seolah mengusir Raka dari bangkunya.
Raka nggak menatap cewek itu. tapi dia membalas perkataan cewek itu. “Bukan!! Ini bukan bangku lo… ini bangku punya sekolah!!”
Moni mencibir. “Tapi gue duluan yang duduk di sini… kenapa lo nggak duduk di tempat lain aja sih??”
“Tapi sekarang gue duluan yang duduk di sini…” jawab Raka santai.
Moni malas berargumen dengan cowok itu. Baru saja Raka masuk, tapi sudah membuatnya kesal. Dan Moni menyesal sekali kenapa kemarin-kemarin dia sibuk mencari-cari cowok itu. Mungkin juga lebih baik tidak perlu sekelas dengan cowok nyebelin itu.
Moni akhirnya mengalah dan pindah tempat duduk. Dan dia duduk di bangku yang belum ada penghuninya. Di belakang Raka. Huh!! Sebel!!! Teriak Moni dalam hati.
Dan, Moni terus berpikir. Sepertinya Raka berubah. Raka tidak lagi sering menatapnya, menegurnya, dan Raka jadi lehib jutek. Sikapnya sama seperti pertama kali Raka datang dan membuatnya kesal. Bukan seperti Raka yang ramah dan selalu sabar meskipun Moni jutek kepadanya.
Ketika jam pelajaran sedang berlangsung, maupun ketika jam istirahat, Raka tidak juga menyapanya. Dia hanya terlihat diam, jutek, dan angkuh. Kenapa dengannya? Batin Moni. Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah seperti itu?
***
Keesokkan harinya, ketika Moni datang ke sekolah, dia dikejutkan dengan teman-teman sekelasnya yang sedang membicarakan Raka. Hampir semua anak yang sudah datang tertarik untuk mendengarkan cerita tentang cowok popular itu.
Moni pikir, cowok itu belum datang. Tapi ternyata, Raka sudah datang. Tasnya sudah bertengger manis di atas mejanya. Hanya saja, Raka tidak ada di kelas. Mungkin… Raka sedang pergi ke kelas Chiko atau ke toilet.
Awalnya, Moni nggak tertarik mendengar cerita dari teman-temannya yang berkumpul di satu meja yang agak jauh dari tempat duduk Moni. Tapi kemudian Moni jadi tertarik mendengar cerita teman-temannya. Dari jarak yang agak jauh, Moni mencoba memasang telinganya tajam-tajam dan mendengarkan semua pembicaraan teman-temannya.
“Yahhh… masa sih Raka mau pindah ke Amerika??” tanya salah satu teman sekelas Moni yang bernama Nunik.
“Iya beneran… duhh sedih deh…” sahut Ana yang ngaku suka banget sama Raka.
Moni nggak percaya. Kenapa lagi Raka harus pindah ke Amerika? Dan kenapa baru sekarang? Moni benar-benar penasaran dengan alasan yang mendasari keputusan Raka untuk pindah ke Amerika.
Tiba-tiba, Rani datang menghampiri Moni dan duduk di bangku sebelah Moni. kedatangan Rani makin membuat Moni gusar. Rani malah ikut-ikutan bergosip tentang kepindahan Raka. “Udah denger??” tanya Rani.
“Apa??” tanya Moni pura-pura bego.
“Raka mau pindah ke Amerika…” kata Rani sambil menatap wajah temannya lekat-lekat.
Moni mengernyitkan kedua alisnya. “Ya udah biarin aja… dia mau pindah juga bukan urusan gue…”
Rani menatap Moni dalam-dalam. Saat itu, tak sedikitpun Moni menatap Rani. Rani tau benar kalau cewek itu menyembunyikan sesuatu. Mungkin sebenarnya, Moni memang sudah menaruh hati kepada Raka. Batinnya. “Hahaha… beneran lo? Ntar nyesel lagi…”
“Udah deh… nggak usah ngomongin Raka. Lo tau nggak? Raka itu Cuma cari sensasi doank! Tuh liat…” Moni menunjukkan teman-temannya yang masih saja memperbincangkan Raka yang akan pergi ke Amerika. “Mendingan lo gabung deh sama mereka…”
Rani cemberut. “Hmm… ya udah. Gue gabung dulu deh sama mereka…”
Moni bingung. Bingung dengan perasaannya, bingung dengan segalanya, dan bingung dengan apa yang harus dilakukan olehnya. Di lubuk hatinya mengatakan kalau sebenarnya dia takut sekali kalau Raka benar-benar akan pindah ke Amerika.
Kring!! Bel masuk berbunyi. Semua anak yang tadi berkumpul kini mulai menuju bangku mereka masing-masing. Termasuk Rani yang kembali ke kelasnya. Dan juga Raka, yang kembali entah dari mana.
Moni menatap Raka lekat-lekat. Tapi lagi-lagi Raka tidak membalas tatapannya. Raka malah duduk dengan santainya. Tapi… tak berapa lama kemudian, Raka menoleh ke belakang dan berkata, “Ada yang mau lo tanya ke gue??”
“Nggak!!” jawab Moni jutek.
***
Moni membuka pintu rumahnya dan segera masuk. Dia hendak menuju kamarnya. Tapi tiba-tiba langkahnya tertahan, kala dilihatnya pintu kamar Bundanya terbuka dan seperti ada pembicaraan di sana. Moni melangkahkan kakinya perlahan dan mengintip kamar Bundanya yang terbuka tidak begitu lebar. Dilihatnya, ada Farant dan Bundanya yang sedang berbicang dengan volume suara yang kecil. Bukan niat Moni menguping, tapi sepertinya dia mendengar namanya disebut-sebut dalam perbincangan itu. Jadi, dia memutuskan untuk memasang telinganya lebar-lebar dan melakukan hal yang sebenarnya tidak patut untuk ditiru.
“Tapi mau sampai kapan Bunda sembunyiin ini semua sama Moni??” tanya Farant sambil mencoba meyakinkan Bundanya.
Bunda hampir menangis. “Bunda nggak bisa kasih tau ini ke Moni. Moni pasti tepukul… Tolong Bunda… kamu jangan paksa Bunda untuk mengatakannya…”
Farant terdiam. Dia tidak tega melihat Bundanya yang sudah hapir menangis. “Bunda… Moni udah gede… dia pasti bisa menghadapinya…”
Moni nggak tahan melihat itu semua. Dia nggak mengerti dengan apa yang dibicarakan kakak dan Bundanya. Ada rahasia apa sebenarnya sampai-sampai Bunda ingin agar Moni tidak mengetahuinya.
“Iya Bunda… aku udah gede!!” kata Moni tiba-tiba masuk ke kamar Bundanya.
Bunda dan Farant kaget melihat Moni yang tiba-tiba muncul. “Moni…” kata Bunda dan Farant bersamaan.
“Apa sih yang Bunda sama Kak Farant rahasiain dari aku??” tanyanya penasaran.
Bunda dan Farant saling berpandangan. Bunda seolah meminta pendapat Farant dengan menatap Farant lekat-lekat. Tapi Farant diam saja. Dia tetap pada pendiriannya untuk memberi tau tentang rahasia yang disimpan olehnya dan Bundanya.
Bunda akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Farant. Ada benarnya apa yang dikatakan Farant. Moni harus bisa menerima kenyataan yang selama ini dipendam oleh Bunda dan Farant. Bahkan oleh Ayahnya juga. Moni harus bisa menerima kenyataan itu.
Moni mulai mendengarkan cerita Bundanya. Dengan hati-hati Bunda menceritakan semuanya kepada Moni. Bukan hanya terkejut, tapi Moni juga merasakan hancur di hatinya. Rupanya selama ini Bunda dan Ayahnya sudah bercerai setahun yang lalu. Pantas aja, setahun yang lalu, Ayah pergi meninggalkannya dengan alasan kalau Ayah akan pergi ke Singapore untuk pekerjaannya. Tapi ternyata, alasan Ayah yang sebenarnya bukan itu. Dan, itulah sebabnya juga kenapa Bunda mati-matian nggak mau membebankan Ayahnya sedikitpun.
Ayah dan Bunda memang belum bercerai secara hukum, tapi mereka berdua sudah bercerai secara agama. Hanya Farant yang tau kalau kedua orangtuanya sudah bercerai. Dan Moni, sengaja tidak diberitahu karena Bunda takut cewek itu terpukul. Walau sebenarnya, Farant benar-benar nggak setuju dengan keputusan Bunda untuk menyembunyikannya.
Itulah yang disayangkan oleh Moni. Kenapa selama ini Bundanya tega membohongi dirinya. Dia sangat terpukul dan menyayangkan tindakan Bundanya.
“Bunda… kenapa Bunda tega bohongin aku?? Dan kenapa Bunda harus bercerai dengan Ayah??” tanya Moni sambil menangis.
“Moni…” Bunda sedikit bingung menjelaskan kepada Moni. “Bunda dan Ayah udah nggak ada kecocokan lagi… dan ini keputusan yang terbaik Mon…”
Moni mentikkan air matanya. Dan Moni nggak lagi mendengarkan perkataan dan penjelasan Bundanya. Dia malah bangun dari tempat tidur Bunda dan bergegas pergi dari kamar Bunda. Moni berlari sekuat tenaganya sampai dia tidak lagi mendengar suara Bunda dan Farant yang memanggil-manggilnya dan mencoba untuk mencegahnya.

Canon in Love Bab 11 & 12

BAB 11

Minggu pagi…
Farant dengan seriusnya menonton kartun kesukaannya. Tapi… tiba-tiba adik satu-satunya itu datang dan mengganggu acara santainya di hari libur. Alhasil, Farant langsung sentiment dengan adiknya yang sudah siap mengatakan sesuatu.
Farant tidak mempedulikan adiknya dan tetap saja menonton TV. Padahal, Moni sudah duduk di sampingnya dan hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Melihat kakaknya yang tidak peduli kepadanya, Moni berpindah posisi. Dia berjalan munuju TV dan berdiri tepat di depan TV. Alhasil, perhatian Farant sudah bukan lagi kea rah kartun yang sedang ditontonnya, melainkan kea rah adiknya yang tidak member sedikitpun celah agar dia bisa menonton.
“Aduhh Dek… awas donk!! Lagi seru tuh..” teriak Farant.
Moni makin menjadi. Dia nggak mau kakaknya menonton kartun itu. Tindakannya malah lebih menjadi lagi. Dia mematikan secara paksa TV tersebut dan melotot kea rah kakaknya.
“Aduhh Dek… kok dimatiin sih??” tanya Farant sambil bergegas menyalakan TV kembali. Tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya, lantaran Moni kini mulai cemberut dan memasang muka sedih. Tentu saja, Farant nggak tega melihat wajah adiknya yang super jelek itu. Dia pun mengalah dan dan mulai memberikan perhatian kepada adiknya.
“Kenapa sih??” tanya Farant kemudian.
“Aku mau ngomong…” jawab Moni kesal.
“Iyaaaa…. Iya… mau ngomong apa?” tanya Farant lagi.
Moni tersenyum puas karena akhirnya kakaknya mau bicara dengannya. “Kak… gimana kalo kita ajakin Bunda ke Singapore? Ngunjungin Ayah Kak…”
Wajah Farant berubah. Dia kini mulai bingung dengan perkataan adiknya itu. “Hah? Ke Singapore?” tanya Farant. Sementara Moni menganggukkan kepalanya. “Emm… emang kenapa Dek? Kamu kangen sama Ayah?” tanyanya kemudian.
Moni menganggukkan kepalanya lagi.
Farant berpikir sejenak. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Tapi kemudian, dia tersenyum dan menyetujui saran adiknya. “Boleh juga… ya udah nanti kakak bantuin ngomong sama Bunda ya…”
***
Moni harap-harap cemas menunggu jawaban Bundanya agar menuruti keinginannya untuk menemui Ayahnya di Singapore. Tadi, Farant sudah menjadi juru bicara untuknya dan menjelaskan keinginan Moni untuk bertemu ayahnya. Memang agak aneh rasanya, karena kakaknya itu bisa secara tiba-tiba dan secara cuma-cuma mau begitu saja membantunya. Padahal, biasanya… Farant tidak pernah memberikan jasa gratis kepada adiknya. Entah kenapa, Moni melihat sisi lain di dalam diri kakaknya yang mendadak serius.
Bunda sedikit tersentak dengan perkataan Farant. Dia menatap kedua anaknya secara bergantian dan penuh kebingungan. Tapi kemudian, dia berpikir sejenak dan segera memberikan jawaban.
“Bunda akan usahakan supaya ayah pulang Mon…” jawab Bunda mencoba memberikan kepastian kepada Moni.
“Tapi Bunda… udah berapa kali ayah bilang kalau mau pulang? Tapi ayah nggak pulang-pulang. Mungkin ayah sibuk… jadi, kenapa bukan kita yang kunjungin ayah?” kali ini Moni tak lagi diam.
Bunda berpikir lagi sejenak. Lalu menatap Farant seolah meminta Farant untuk membantunya.
“Moni bener Bunda… mungkin memang kita yang seharusnya memberikan waktu untuk ayah…” kata Farant seolah mengerti maksud tatapan Bundanya.
Bunda makin bingung dengan situasinya. Kalimat Farant yang baru saja keluar dari mulutnya, sama sekali tidak membantu. Tapi malah makin membuat Bunda berada dalam situasi tersulit.
“Iya Bunda…” rengek Moni.
Setengah ragu, Bunda kemudian memutuskan. Meskipun dengan berat hati. “Ya udah… kamu boleh pergi menemui ayah. Tapi… kalau raport kamu nilainya bagus… bisa?”
“Beneran Bunda??” Moni membelalakan kedua bola matanya. Akhirnya dia bisa melepas rindunya kepada ayah. “Asikkk……”
Farant tersenyum tipis melihat kegirangan adiknya. Dan menatap Bundanya yang juga menatapnya.
***
Malam itu, Moni merenung sendiri di kamarnya. Sebenarnya, dia kasihan dengan Bunda. Dia nggak tega melihat Bunda harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tiket dan memberi sejumlah uang untuk Moni agar bisa pergi ke Singapore. Moni, tau… mungkin hal itulah yang membuat Bunda mempertimbangkan secara matang.
Tapi Moni punya usul agar meminta ayahnya mengirimkan uang agar Moni bisa pergi ke Singapore. Dan jawaban Bunda hanya, “Nanti Bunda usahakan…”. Tidak begitu jelas maksud Bunda yang sebenarnya. Apakah akan mengusahakan sendiri, ataukah memintanya kepada ayah.
Dan Moni sangat sulit membayangkan, jika Bunda mengumpulkan sebagian uang gaji Bunda yang hanya seorang guru SMP. Tapi Bundanya berjanji akan memberangkatkan dirinya untuk menemui ayahnya. Dan… Bunda bilang, hanya Moni saja yang akan pergi ke Singapore. Itu yang sebenarnya membuat Moni bingung.
Tak lama kemudian, ponsel Moni berbunyi. Ada sms… desis Moni. Moni meraih ponselnya yang diletakkan di meja belajarnya. Dengan segera dia membaca sms yang masuk. Dan nomer yang tertera di layar ponselnya adalah nomer yang belum tersimpan di ponselnya.
Gimana? Lo baik-baik aja kan?
Begitulah bunyi pesan singkat dari seorang yang tidak dikenal oleh Moni. Tapi… sepertinya Moni tau siapa orang itu. Awalnya, Moni bingung akan membalas pesan dari orang itu atau nggak. Namun akhirnya dia penasaran juga dengan siapa orang yang mengirimkan pesan kepadanya. Tanpa basa-basi apalagi membalas pertanyaan orang tersebut, Moni pun membalas pesan orang tersebut yang berbunyi,
Siapa?
Pesan terkirim. Tak lama kemudian ponsel Moni berbunyi lagi. Rupanya balasan sms dari orang di sebrang.
Manusia…
Jawab orang itu asal. Sementara itu, Moni geram sekali dengan jawaban orang itu. Dia pun membalas sms orang itu dengan jutek dan kesal.
Gue kira monyet!!
Tak lama kemudian orang itu membalas sms Moni. Dan mata Moni terbelalak ketika dibacanya balasan sms dari orang di sebrang.
Hahaha… nggak jauh beda. Ternyata lo memang jutek ya… Gue Raka. Sori deh bikin lo kesel.
Huh!! Teriak Moni dalam hati. Dia memang sudah mengira kalau orang itu Raka. Mestinya tidak perlu dia membalas pesan itu.
Ngapain lo sms gue?
Tanya Moni lagi-lagi jutek.
Loh… tadi kan gue tanya sama lo, lo baik-baik aja or nggak. Trus juga sekalian gue mau tanya sama lo, gimana tentang bokap lo?
Dasar sok perhatian!! Batin Moni.
Gue baik-baik aja. Soal bokap gue, gue udah ngomong kok sama nyokap gue. Sekarang gentian gue yang tanya. Darimana lo dapetin nomer HP gue?
Raka tersenyum tipis membaca sms dari Moni.
Dari orang lah…
Membaca balasan sms dari Raka, Moni kembali kesal. Dia pun nggak mau kalah dan membalas lag isms untuk Raka.
Cepet deh lo bilang aja siapa yang ngasih nomer gue ke lo… Rani?
Tapi, Raka nggak lagi membalas sms dari Moni. Bermenit-menit, bahkan sampai hitungan jam, Raka tidak juga membalas sms dari Moni. Entah kenapa Raka tiba-tiba tidak membalas sms dari Moni. Yang jelas, Moni kesal dan marah sekali dengan itu.














BAB 12

Keesokkan harinya, Raka tidak masuk sekolah. Padahal,dia sudah menunggu-nunggu cowok itu dan siap mengintrogasinya. Tapi rupanya memang Moni harus bersabar. Dia mpun menunggu keesokkan harinya lagi. Ya… mungkin saja Raka akan datang ke sekolah dan disituah cewek itu siap untuk memarahinya. Tentunya karena Raka tidak membalas sms, yang dianggap Moni sangat penting sekali.
Tapi sayangnya, Raka tidak masuk sekolah lagi untuk kedua kalinya. Dan itu berlanjut sampai satu minggu. Moni mulai bertanya-tanya kemana Raka selama dia tidak masuk. Kalau memang sakit, kenapa sampai begitu lama. Dan memang sepertinya Raka tidak sakit, karena Pak Bono hanya minta kepada sekertaris kelas yang mengabsen anak-anak yang hadir untuk menuliskan ijin untuk Raka.
Hari senin berikutnya, yang merupakan ujian kenaikan kelas, barulah Raka muncul. Dengan gayanya yang khas, yaitu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, cowok itu duduk di bangku urut sesuai dengan nomer peserta ujian.
Kali ini, Moni dan Raka tidak lagi duduk bersebelahan. Moni mendapat tempat duduk nomer dua dari depan, sedangkan Raka nyaris duduk di bangku bagian belakang. Dan sejak cowok itu datang, pandangan Moni tak lepas dari cowok itu. Dia terus menatap Raka yang baginya sangat menyebalkan. Raka sadar banget dengan tatapan Moni yang tak lepas darinya. Dan akhirnya, cowok itu menatap balik Moni yang melihatnya dari bangku depan. Dan seperti biasa, Moni yang tertangkap basah oleh Raka karena diam-diam mencuri pandang ke arah Raka pun langsung mengalihkan pandangannya. Cewek itu berbalik badan dan tidak lagi membelakangi papan tulis. Dan Raka, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Moni.
Sementara itu, Moni yang sejak tadi megamati Raka, rupanya menangkap sesuatu yang lain dari diri Raka. Entahlah itu hanya perasaannya saja, atau memang benar ada yang berbeda dari cowok itu. Raka terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Padahal, katanya Raka selama seminggu tidak sakit tapi hanya pergi ke luar kota atau malah ke luar negeri. But, whatever-lah… Raka sakit atau nggak toh bukan urusannya sama sekali. Moni langsung membuang jauh-jauh rasa penasarannya dan dia mau melupakan kejadian malam itu. Dia nggak akan bertanya-tanya kenapa Raka tidak membalas pesannya. Never!! Cowok itu pasti akan jadi besar kepala!! Batinnya.
Kring!! Tanda masuk telah berbunyi. Waktunya ujian akan dimulai. Guru yang hari itu mengawas ujian Bahasa Indonesia pun telah datang dan bersiap membagikan kertas ujian beserta soalnya. Kertas ujian dibagikan oleh Bu Hana dengan memberikannya kepada barisan yang paling depan. Setelah semua siswa mendapat kertas masing-masing, semua siswa mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan.
***
“Mon, sorry… waktu itu gue nggak bales sms dari lo…” Raka menarik lengan Moni ketika Moni akan pergi ke kantin.
Huh… kenapa baru minta maaf sekarang? Nggak sekalian aja tahun depan!! Udah basi banget tauuu…. Teriak Moni dalam hati. “Ohhh… gue nggak marah kok!! Lo kira gue marah??” kata Moni jutek. Moni melepaskan lengannya dari genggaman tangan Raka. Dan setelah lengannya terlepas dari genggaman Raka, Moni langsung melangkahkan kakinya kembali menuju kantin.
Raka tidak menahan Moni lagi. Dia malah berjalan mengekor di belakang Moni. “Ohh… nggak mau tau ya gue dapet nomer lo siapa?” tanya Raka geli.
“Nggak!!” jawab Moni singkat.
Raka tidak membalas perkataan Moni. Dia diam saja dan sedikit berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas Raka terlihat tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Lalu, Raka dikagetkan dengan suara Moni yang tiba-tiba saja membuyarkan segalanya. “Lo ngapain sih ngikutin gue?” kata Moni kesal.
“Emangnya gue ngikutin lo?” tanya Raka datar. Tiba-tiba saja, semangatnya hilang. Dia ingin kembali seperti biasanya. Menggoda Moni, menjawab pertanyaan cewek itu dengan santai, dan membuat cewek itu kesal. Tapi… dia sedang dalam keadaan, dimana dirinya tidak lagi bisa tersenyum geli melihat amarah yang tiba-tiba muncul di dalam diri Moni. Dia bisa melakukannya. But, he’s just pretending!!
“Iya… dari tadi lo ngikutin gue…” jawab Moni lagi-lagi dengan nada kesal. Moni membaca sesuatu di raut wajah Raka. Ada yang berbeda. Batinnya.
Tapi sesaat kemudian, Raka kembali tersenyum tipis. Kali ini, dia mulai bisa mengkondisikan kebiasaannya seperti sedia kala. Dan kali ini, tidak berbeda. Batin Moni.
“Ya udah… sekarang lo tunjukin sama gue jalan kea rah kantin selain jalan ini…” balas Raka yang mebuat Moni kalah telak. Ya, karena Raka memang benar. Nggak ada lagi jalan menuju kantin, selain jalan yang sedang dilalui mereka berdua.
Moni diam tanpa mengatakan apapun. Dia bingung mau menjawab apa.
“Ke kantin cuma lewat sini doang kan??” tanya Raka dengan senyum tipisnya lagi. Dan senyum tipis Raka yang sebenarnya senyuman iklas, bagi Moni senyum itu adalah senyuman picik nan liciknya Raka. Pasti cowok itu merasa menang!!! Batin Moni.
Moni membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Raka. Terserah cowok itu mau ke kantin lewat mana saja. Yang penting sekarang, Moni ingin segera sampai ke kantin dengan jarak yang agak jauh dari Raka.
***
Ujian semester kenaikan kelas telah berakhir. Kini hanya tinggal penentuan bagi semua anak apakah akan naik kelas atau tidak. Dan hari itu, merupakan hari yang sangat penting bagi Moni. hari dimana keputusan Bunda untuk memberangkatkannya ke Singapore atau tidak. Jika nilai raportnya baik, maka Moni akan terbang ke Singapore. Tapi kalau tidak, ya… mungkin Moni harus lebih bersabar lagi.
Hari itu, Bunda menyempatkan waktunya untuk mengambil raport Moni di sekolahnya. Bunda mengenakan batik modern yang sangat cantik. Sementara Moni, tetap dengan seragam putih abu-abunya.
Terlihat semua wali murid sudah berkumpul di depan kelas Moni beserta anak-anaknya. Termasuk juga mama Raka yang sudah menunggu di depan pintu kelas yang masih tertutup. Pandangan Moni langsung jatuh kepada ibu dan anak tersebut. Begitupun dengan Raka yang merasa sadar kalau ada seorang cewek yang tengah menatapnya.
Mama Raka menangkap sesuatu dari tatapan Raka yang tertuju ke suatu arah. Dan setelah dirinya mencoba menatap kea rah yang dituju oleh Raka, mama Raka langsung mengerti. Beliau lalu mengajak Raka menghampiri Moni yang sedang mengobrol dengan Rani dan mamanya.
“Moni…” sapa mama Raka.
Moni menoleh kea rah suara berasal. Begitupun dengan Bunda, Rani dan mama Rani yang juga ikut menoleh kea rah suara itu berasal. “Tante…” balas Moni dengan senyumannya.
“Kamu apa kabar?” tanya mama Raka dengan ramah.
“Baik Tante…” Moni mengerti dengan tatapan Bundanya yang seolah bertanya-tanya siapa wanita cantik yang tengah mengajaknya bicara itu. “Ohh iya, Bunda ini mamanya Raka, temen aku… Tante, ini Bunda aku…” kata Moni mencoba memperkenalkan. “Ini Rani, dan ini mama Rani…”
Raka nggak nyangkan kalau Moni akan bilang bahwa dia adalah temannya. Selama ini, gadis itu selalu membencinya. Itu yang dilihat olehnya. Walaupun Raka tau benar, Moni itu tulus dan baik.
Sambil menunggu pintu kelas dibuka oleh wali kelas, Bunda beserta mama Raka dan Rani berbincang-bincang. Begitupun dengan Moni dan Rani yang juga berbincang-bincang dengan obrolan seputar hal-hal yang nggak penting. Apapun bisa jadi bahan obrolan. Selama waktu menunggu tidak membosankan. Sementara itu, Raka lebih memilih mengotak-atik ponselnya daripada ikut ngerumpi. Ya… jelas saja, dia kan cowok sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Pak Bono datang dengan membawa tumpukkan raport yang siap dibagikan kepada wali murid-muridnya. Tentunya, bukan hanya raport saja yag dibawa olehnya. Semalam suntuk, Pak Bono pasti sudah mempersiapkan apa saja yang akan menjadi bahan tambahan yang akan disampaikan kepada wali murid. Tentu aja omelan bagi murid yang nilainya turun, ancur, jelek, banyak merahnya, apalagi sampai nggak naik kelas.
Semua wali murid yang hadir duduk secara acak dimana saja ada bangku kosong. Termasuk Moni dan Bundanya yang duduk di bangku tengah. Pembagian raport dimulai berdasarkan abjad. Dan, yang pertama kali dipanggil adalah Anton yang no urut absennya pertama. Tampak raut wajah bingung yang diperlihatkan oleh Anton. Mungkin saja, cowok itu takut kalau dia nggak naik kelas. Ya, memang dia agak sedikit bandel di kelas.
Beberapa murid yang no urut absennya lebih dulu sudah dipanggil oleh Pak Bono. Meskipun ada saja murid yang namanya dilewati lantaran orangtuanya belum datang. Sebentar lagi, nama Moni akan dipanggil. Hanya tinggal menunggu tiga nama murid yang no urutnya diatas Moni saja. Jantung Moni berdegub kencang. Tak seperti biasanya. Ini pertaruhan!! Batinnya.
Tiba-tiba, ponsel Bunda berbunyi. Bunda langsung merasa nggak enak, kala ponselnya berbunyi nyaring dan menjadi pusat perhatian. Beliau langsung meminta ijin untuk keluar dan mengangkat telpon dari nomer yang tidak dikenal olehnya.
“Halo…” terdengar suara seorang cewek. Suara cewek itu bergetar dan seperti orang bingung. Bunda langsung menanyakan siapa cewek itu. Dan setelah Bunda tau apa yang telah terjadi, Bunda tak lagi bisa berkutik.
Bunda masuk ke dalam kelas Moni dan meminta waktu sebentar kepada Pak Bono. Setelah Pak Bono mengijinkannya, dia meminta Moni untuk mengambil raportnya sendiri dan menyusulnya ke Rumah Sakit Pelita. Moni bingung dan nggak mengerti. Tapi Bundanya enggan menjelaskan, karena beliau terburu-buru. Moni pun menahan rasa penasarannya hingga nanti pulang sekolah. Walaupun sebenarnya, dia khawatir dan gelisah.
Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Moni. Tapi juga oleh Rani dan Raka yang juga ikut bersimpati. Walaupun mereka nggak tau pasti apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Bunda terlihat sangat panik dan khawatir.

Canon in Love (Bab 9 & Bab 10)
Canon in Love (Bab 13 & Bab 14)

Canon in Love Bab 9 & 10

-->

BAB 9

            “Gue heran deh… kenapa gitu Raka lebih suka dengan lo ketimbang gue?” tanya Vanda kepada Moni yang berhasil ‘diculik’ olehnya dan dibawanya ke belakang sekolah.
            “Padahal…” lanjutnya sambil memandangi Moni dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Lo tuh biasa banget…” katanya merendahkan Moni.
            Moni cemberut. Dalam hatinya kesal sekali kepada tiga cewek sirik di hadapannya itu. Dia tidak membalas perkataan Vanda. Tapi dia hanya menatap ketiga cewek itu secara bergantian dengan tatapan sinis dan tajam.
            “Iya… bener banget Van…” kata Keyla menambahkan. “Seleranya Raka kok rendah gitu ya…” sindirnya sambil memandangi Moni yang memang baginya sangat biasa. Dengan rambut dikuncir asal dan dengan wajah polos tanpa make up sedikitpun.
            Vanda berpikir sejenak. Lalu dia menemukan dugaan dari hasil pemikirannya. “Ahh… jangan-jangan, lo pelet Raka ya??” tuduhnya sembarangan.
            Moni mulai geram. Sembarangan sekali Vanda menuduhnya yang bukan-bukan. Pelet? Emangnya gue segitu jeleknya apa? Sampe Raka agaknya bersalah banget kalo deket sama gue… batin Moni kesal. “Enak aja… Siapa juga yang melet Raka? Lo aja sana pelet dia… lo kan naksir berat sama dia…” serang Moni.
            Vanda tersindir. Sementara Ovi dan Keyla kesal mendengar perkataan Moni. “Ehh… gue juga suka Raka…” balas Ovi yang kesal melihat perkataan Moni yang mengarah ke Vanda.
            “Gue juga…” kata Keyla nggak mau kalah.
            “Tapi Raka bakalan jadi cowok gue…” balas Ovi sambil melotot ke arah Keyla.
            “Nggak bisa… gue pokoknya…” balas Keyla lagi.
            Moni heran menatap kedua orang yang sedang berebut satu orang cowok yang belum tentu menginginkan mereka berdua. Ditambah lagi dengan Vanda yang terlihat mulai kesal dengan kedua temannya tersebut.
            “Kalian nggak usah berantem!! Mau kalian suka kek sama Raka… tetep gue yang harus dapetin dia…” katanya menegaskan.
            Ovi dan Keyla saling berpandangan. Mereka kesal setengah mampus kepada Vanda yang terlalu otoriter. “APA??” kata Keyla dan Ovi bersamaan.
            Vanda membalas keterkejutan Keyla dan Ovi dengan tatapan sinisnya. Yang akhirnya memaksa Keyla dan Ovi untuk berhenti bertengkar dan berhenti memperebutkan Raka. Karena yaa… mereka berdua memang selalu mengalah dengan ketua genk mereka.
            “Lo kasih tau gue kenapa Raka sering deket-deket lo? Atau jangan-jangan… lo udah jadian sama Raka??” tanya Vanda kembali mengintrogasi Moni.
            “Ihh… gue jadian sama Raka? Nggak tuh…” jawab Moni jutek. “Terus… kalo masalah Raka sering deket-deket gue, bukannya deket-deket dengan kalian bertiga… lo tanya langsung aja sama Raka. Tapi… mungkin karena gue itu nggak centil dan…” Moni memutuskan kalimatnya sambil menahan geli.
            “Dan apa??” tanya Vanda cs bersamaan.
            “Dan… kerena gue… alami. Alias nggak kebanyakan dempul kayak kalian…” katanya sambil tertawa lebar.
            Ketiga cewek itu langsung kaget mendengar pernyataan Moni. Bagi mereka, musibah sekali kalau ada yang bilang dandan dan style mereka itu jelek. Karena ehh karena… butuh waktu berjam-jam untuk dandan keren sebelum berangkat sekolah. So, berani-beraninya Moni berkata seperti itu.
            “MONIIIIIII………..!!!!” ketiga cewek itu siap menerkam Moni yang telah berani mengejek mereka. Tapi Moni sudah lebih cepat melarikan diri dari hadapan mereka bertiga. Alhasil, ketiga cewek tersebut hanya berdecak kesal dan mengumpat dalam hati. Mereka berjanji akan membalas perbuatan Moni kepada mereka bertiga.
***
            Tepuk tangan meriah mengakhiri sebuah pertunjukkan paduan suara SMA Bhakti Negara. Semua yang hadir terharu dengan persembahan dari klub padus tersebut. Dilanjutkan dengan pertunjukkan piano klasik yang dimainkan oleh Moni.
            Raka mengamati gadis itu dengan lekat. Sejak awal, sebenarnya memang ada perasaan lain yang disimpannya untuk Moni. Tapi… dia belum berani untuk mengungkapkannya. Entah sejak kapan dia mulai merasakan ada hal lain yang menyangkut di hatinya. Dia bingung… walau awalnya dia enggan mengakuinya, tapi… perasaan memang nggak bisa bohong. Sekeras apapun dia tidak mengakuinya, tapi tetap saja perasaan yang disimpannya untuk Moni berbeda. Lebih dari sekedar teman. Itu yang lebih tepat.
            Lagi-lagi, tepuk tangan meriah sebagai pernghargaan kepada Moni yang telah berhasil memainkan lagunya dengan indah. Moni tersenyum senang melihat pemandangan dari atas panggung. Dia melihat semua orang begitu antusias memberikan applause kepadanya. Malam itu, dia telah berhasil membuat suasana sekolah menjadi lebih indah dengan permainan pianonya. Dia memberikan penghormatan kepada semua orang dan segera turun dari atas panggung.
            Di bawah sana, ada banyak mata yang menatapnya kagum. Termasuk Raka yang juga kagum dengan cewek itu. Tapi… seperti biasa, Vanda cs sangat tidak senang melihat kesuksesan Moni yang sudah berhasil menarik simpatik Raka lebih dalam lagi.
            Mereka pernah berjanji akan membalas dendam kepada Moni. Dan sejak sebelum datang ke sekolah, Vanda cs memang sudah berencana untuk membuat Moni menderita. Apapun dan bagaimanapun caranya.
            Moni berjalan menghampiri Rani yang tengah berkumpul dengan teman-teman sekelas lainnya. Dari tempat yang tersembunyi dan tidak terjangkau oleh Moni, Vanda cs mengamati Moni yang tengah berjalan. Mereka tau ke arah mana Moni akan pergi. Dengan langkah cepat, Keyla berjalan mendekati sebuah meja yang penuh dengan minuman dan kue. Dan dengan cepat juga dia meletakkan sebuah kulit pisang di dekat meja tersebut. Kemudian cewek itu bersembunyi lagi di tempat yang sama.
            Karena ingin segera sampai ke tempat Rani berdiri, Moni tidak menyadari kalau dirinya ada dalam bahaya. Dia terus saja melangkah, tanpa memperhatikan kulit pisang yang tergeletak di lantai.
            Dan benar saja, kaki Moni yang baru saja menyentuh kulit pisang tersebut, membuatnya lengah dan terjatuh. Moni mencoba menahan tubuhnya dengan memegang sebuah meja yang penuh dengan minuman dan kue yang ada di sampingnya, tapi tindakannya itu malah membuatnya makin menderita. Beberapa gelas jatuh dan jelas mengundang perhatian banyak orang. Moni malu sekali. Dia tidak menyangka kalau ini akan terjadi padanya. Sementara Vanda cs tertawa licik melihat Moni.
            Moni mencoba berdiri, tapi saat itu tubuhnya goyah lagi akibat tabrakan kasar dari Vanda yang membuat tubuhnya kembali jatuh. Bahkan, Vanda dengan sengaja menumpahkan segelas sirup ke wajah Moni. Begitupun Ovi dan Keyla yang ikut andil menumpahkan kue dengan krim ke gaun Moni.
            “Ups… sorry…” kata Vanda dengan ekspresi bersalah yang dibuat-buat.
            Dan kejadian itu membuat semua mata memandang ke arah mereka. Moni hampir menangis. Terjadi lagi. Batinnya. Dulu dia juga sempat dipermalukan di kantin sekolahnya. Dan sekarang, dia juga dipermalukan di depan orang banyak.
            Sekeras apapun Moni menahan tangisnya, tapi air matanya tetap jatuh di pipinya. Dengan cepat Moni menghapus air matanya. Dia sudah tidak kuat lagi. Dia tidak berusaha berdiri, tapi malah terdiam di lantai yang jadi hantaman empuk bokongnya.
            “Uwahh… dia… alami!!” teriak Ovi mengejek. “Tapi jorok banget!!” lanjutnya sambil tertawa puas bersama kedua temannya.
            “Berenti!!” teriak Raka yang datang bersama Rani.
            Raka dan Rani mendekat ke arah Moni. Raka membantu Moni untuk membersihkan tubuh Moni yang basah dengan sapu tangannya. Mulai dari menghapus air mata yang mengalir di pipi Moni dan membersihkan seluruh tubuhnya yang kotor akibat kelakuaan vanda cs.
            Rani tidak terima dengan sikap Vanda cs yang berlebihan. Dia melayangkan tangannya dan menampar Vanda. Rani nggak peduli, saat itu dia ada dimana. Dia sudah kesal sekali dengan perlakuan Vanda cs.
            “Elo…” Vanda ingin membalas tamparan Rani. Tapi Raka langsung menahan tangan cewek itu dan menghempaskannya. Dia menatap Vanda dengan tatapan jutek. Lalu dia menggamit lengan Moni dan memeluknya erat. Moni terkejut. Dia ingin melepaskan pelukan Raka. Tapi Raka menahannya tanpa mengatakan apapun.
            Pemandangan itu… membuat semua mata mengarah kepada Raka yang mencoba melindungi Moni. Dan pemandangan itu, membuat Vanda cs gusar, cemburu, dan sakit hati. Niat mereka yang sebelumnya ingin membuat Moni menderita malah berbalik arah. Sekarang hati Vanda lah yang menderita. Cintanya kepada Raka jelas bertepuk sebelah tangan. Dengan kesal Vanda pergi meninggalkan tempat itu. Kini semua anak menyerang Vanda cs. Mereka mendapat teriakan-teriakan tidak senang dari semua anak yang hadir.











BAB 10

            Setelah kejadian yang menimpa Moni, Raka mengajak Moni untuk pergi dari sekolah. Niatnya, Raka ingin mengantar Moni pulang. Tapi… Moni malah menolak untuk pulang ke rumah. Bundanya pasti bertanya-tanya kenapa dirinya pulang lebih cepat dari waktu yang sudah dijadwalkan. Moni malah meminta Raka untuk membawanya pergi sampai jam bubar acara perpisahan.
            Saat Raka sedang memboncengnya dengan motornya, mendadak hujan turun. Raka mengajak Moni untuk berteduh di sebuah halte bus. Dia memberhentikan motornya dan memarkirnya di dekat halte bus.
            Raka duduk di bangku halte paling ujung. Dia menatap geli ke arah Moni yang tidak ikut duduk, tapi malah berdiri. Raka menepuk lengan Moni dengan halus dan menyuruh Moni untuk duduk di sampingnya. Moni menurut. Tapi dia tidak duduk tepat di sampingnya, melainkan duduk di sisi ujung bangku halte yang satunya.
            Jarak yang cukup jauh. Mungkin, satu meter lebih. Raka hanya tersenyum menatap Moni. Moni yang hanya terdiam, yang mungkin sekarang perasaannya sedang hancur, sakit, dan kesal.
            Entah sadar atau tidak kalau cowok di sebelahnya sedang mengamatinya, yang pasti Moni hanya diam dan memandangi hujan yang mulai deras. Lalu sesaat kemudian, Moni melemparkan tatapan ke arah Raka yang masih mengamatinya. Tatapan mereka bertabrakan. Dan itu terjadi dalam beberapa detik. Detik berikutnya, Moni berpaling memandangi kembali hujan yang membuat tubuhnya kedinginan.
            Moni mengusap-usap tubuhnya. Dia menggigil. Dan Raka bisa membaca itu. Dia melepaskan Vest-nya dan memberikannya kepada Moni. Moni sempat menolak, tapi Raka memaksanya. Dan pada akhirnya, Moni menurut dan memakai Vest millik Raka.
            Malam itu, meskipun hujan membasahi bumi. Tapi… bagi Raka, terasa hangat berada di samping Moni meski dengan jarak yang cukup jauh. Di halte itu, hanya ada mereka berdua. Dan Raka mencoba mencuri-curi pandangannya kepada Moni. Moni tau itu. Tapi dia pura-pura tidak melihat. Terkadang Raka menggoda Moni untuk menatapnya. Tapi Moni tidak ingin membalas pandangan cowok itu. Dia malah menutupi wajahnya dengan lengannya yang membuat Raka tertawa geli.
            Tapi sesaat kemudian, Moni terlihat murung. Mungkin ingat dengan kejadian tadi. Atau ada hal lain yang membuatnya bersedih.
            “Jangan sedih lagi donk…” Raka mencoba memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
            Moni mengabaikan perkataan Raka. Dia malah makin sedih dan ingin rasanya menangis. Raka merasa bersalah dengan ucapannya. Mestinya, dia tidak boleh melarang cewek itu menangis kalau itu bisa membuatnya lega. “Maaf… lo boleh nangis kok… Tapi, gue boleh tau nggak??” tanya Raka.
            Moni tidak menjawab, tapi hanya menatap Raka dan menunggu kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut Raka.
            “Ada masalah apa sih lo sama Vanda?” tanya Raka hati-hati.
            Moni terdiam. Dia malah menitikkan air matanya lagi. Kenapa dia jadi sangat mudah menjatuhkan air matanya di hadapan cowok itu. Padahal selama ini, dia jarang sekali menangis di depan orang lain. Tapi kenapa sekarang dia menjadi lebih cengeng dari sebelumnya?
            Raka menunggu jawaban dari Moni dengan sabar. Dia pun ikut merasakan kesedihan di hati Moni. Raka mencoba lebih dekat sedikit agar bisa mengusap air mata Moni dengan tangannya. Setelah tangannya sampai ke pipi Moni, dia tidak berusaha lebih dekat dengan Moni. Karena dia tau, yang Moni inginkan adalah jarak diantara mereka berdua.
            Moni menatap Raka yang begitu lembut mengusapkan air matanya yang terjatuh. Dan, Moni mencoba menjelaskan apa yang membuatnya menjadi sasaran kejahatan Vanda cs. “Gue… juga nggak tau kenapa mereka kejam banget… tapi yang pasti, Vanda… Vanda…” Moni ragu melanjutkan kalimatnya.
            Raka tidak sabar mendengar lanjutan kalimat Moni. “Vanda kenapa?” tanyanya penasaran.
            “Vanda… emm… Vanda naksir lo…” katanya jutek.
            Raka malah tertawa mendengar kalimat Moni. Tapi kemudian dia sadar kalau tawanya membuat Moni marah. Apalagi Moni kini memukul tubuhnya dengan kesal. “Kok lo ketawa sih? Gara-gara lo tau nggak gue tuh menderita… terus juga, lo ngapain meluk-meluk gue sembarangan, Hah??”
            Raka menghentikan tawanya. Dia mulai serius dan menatap Moni lekat. Lalu… “Maaf Mon… tadi gue emang sengaja meluk lo. Gue udah tau kok kalo Vanda naksir berat sama gue…” kata Raka narsis. “Ya… biar dia lebih menderita lagi dari lo…” kata Raka.
            Moni berdesis kesal. Sok ganteng!! Batin Moni.
            “Cuma itu aja masalah lo sama Vanda? Nggak ada hal lain??” tanya Raka serius. Moni menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Raka tersenyum menatap cewek itu dan membelai lembut rambut Moni. Sebenarnya Moni kaget. Tapi… entah kenapa dia membiarkan saja Raka melakukannya. “Ya udah… kalo gitu lo jangan nangis lagi ya… sekarang dia pasti lebih menderita dari lo…” kata Raka mencoba meyakinkan Moni.
            Moni menggelengkan kepalanya dengan kesal. “Emang siapa yang nangis karena dia??” teriak Moni ditengah-tengah hujan yang mulai sedikit mereda.
            Sementara itu, Raka bingung. Dia mengernyitkan kedua alisnya dan mengirimkan sinyal kebingungan untuk Moni. Berharap Moni mengerti kalau dirinya seolah ingin bertanya.
            “Gue… gue… kangen Ayah…” kata Moni kemudian. Setelah mengucapkan kalimat itu, ada perasaan sesal yang tiba-tiba saja datang. Kenapa dirinya harus mengatakan hal itu kepada Raka, sementara dengan Bunda dan Kak Farant pun tidak.
            “Kenapa?” tanya Raka dengan hati-hati.
            Moni diam sejuta bahasa. Sebenarnya, sudah lama sekali dia merindukan Ayahnya yang bekerja di Singapore. Tapi, dia nggak pernah menceritakannya kepada siapapun. Dia hanya nggak ingin terlihat sedih oleh siapapun. Apalagi oleh Bundanya. Apalagi, ayahnya sudah hampir setahun tidak pulang. Dan Moni merasakan ada yang kurang. Suasana rumahnya itu… ya… suasananya terasa sepi dan kurang berisi.
            Melihat sikap Moni yang lebih memilih diam daripada menjawab pertanyaannya, Raka pun mengerti. Dia memandangi langit yang gelap. Saat itu, hujan sudah mulai reda. Dia ingin segera membawa cewek itu pergi dari halte. “Mungkin memang lo punya rahasia sendiri… ya udah nggak apa-apa. Kita pulang aja yuk!” ajak Raka.
            Moni menahan lengan Raka untuk yang pertama kalinya. Raka benar-benar terkejut dengan sentuhan tangan Moni. Selama ini, selalu dirinya yang melakukan hal itu. Tapi kali ini… keadaan berbalik. “Ayah di Singapore… udah hampir setahun Ayah nggak pulang. Gue kangen…” Moni mulai menitikan air matanya. “Gue juga sedih ngeliat Bunda yang selalu sendirian…”
            Raka mengurungkan niatnya untuk melangkah. Dia malah kembali duduk. Dan kali ini, dia duduk tepat di samping Moni. “Mon… kenapa lo nggak coba bilang sama Ayah lo?” tanya Raka pelan.
            “Gue pikir… Ayah sibuk. Dan gue nggak mau buat Ayah kepikiran…” jawab Moni sambil mengusap air matanya. Lagi-lagi, dia baru sadar kenapa dia bisa terbuka dengan cowok itu.
            “Ya mungkin lo bener Mon… mungkin Ayah lo emang sibuk. Tapi… gue yakin kok, pasti ayah lo juga kangen sama lo…” kata Raka mencoba menenangkan Moni. “Kenapa lo nggak coba cari waktu untuk dateng ke Singapore dengan nyokap lo Mon? Kalo ayah lo sulit buat kasih waktu untuk ngunjungin lo, kenapa bukan lo yang coba ngasih waktu buat ayah lo?” saran Raka kemudian.
            Moni berpikir sejenak. Benar juga. Selama ini dia selalu berharap ayahnya lah yang pulang ke rumah. Tapi dia belum sempat memikirkan untuk mengunjungi ayahnya di Singapore. Mungkin dia perlu bicara dengan Bundanya. Ya… mestinya begitu. “Iya… mungkin gue akan coba ngomong sama Bunda…” kata Moni sedikit lebih tenang.
            Raka tersenyum melihat keadaan Moni yang mulai membaik. “Ya udah… sekarang gue anter lo pulang ya… kayaknya lo lebih baik istirahat deh…”
            “Tapi ini kan baru jam 9… gue bilang sama Bunda acaranya selesai jam 11…” kata Moni sambil melirik arloji yang melingkar di lengan Raka.
            “Emangnya wajib pulang jam 11 apa?” tanya Raka menyadarkan Moni. “Lo istirahat aja ya…”
            Moni pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengekor Raka menuju motornya.

Selasa, 15 Maret 2011

Canon in Love (Bab 7 & 8)

BAB 7

 Atas kesepakatan dengan mamanya, Raka yang memang tidak pernah mau diantar oleh supir pun kali ini menuruti keinginan mamanya. Dia pergi dengan diantar oleh supir pribadinya. Sepanjang perjalanan Raka tersenyum geli menatap Moni yang hanya cemberut dan nggak sedikitpun mengeluarkan suara. Bahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Raka pun Moni ogah menjawabnya. Dia malah memilih untuk diam, diam, dan diam.
 Setelah sampai di SMA Yadika, Raka menahan tangan Moni yang ingin segera keluar dari mobil. Tapi Moni segera melepaskannya. Namun lagi-lagi Raka menahan tangan Moni dan menanyakan sesuatu kepadanya. “Tunggu… gue cuma mau nanya aja kok. Siapa yang nyuruh lo jemput gue??”
 Moni melepaskan genggaman tangan Raka dan keluar tanpa menjawab pertanyaan Raka. Tapi Raka masih penasaran. Dia pun mencoba bertanya lagi kepada Moni yang mulai mempercepat langkahnya. “Siapa Mon??” tanya Raka sambil menggamit lengan Moni.
 Moni menghentikan langkahnya. “Emangnya kenapa??” tanya Moni jutek.
 Raka menarik nafas panjang-panjang. “Tega…” desisnya. “Harusnya nggak perlu nyuruh lo kan? Siapa Mon? kenapa tega banget nyuruh lo jemput gue…” tanyanya mulai serius. Kali ini Raka jadi lebih serius. Sama seriusnya seperti ketika dia membela Moni di kantin waktu itu.
 “Nggak ada…” jawab Moni spontan.
 Raka terkejut. Dia nggak percaya dengan apa yang dikatakan Moni. Dia ingin menanyakan hal sama lagi, tapi Moni yang mengerti dengan maksud dari raut wajah Raka langsung menjawab lagi dengan jawaban yang sama. “Nggak ada yang nyuruh gue…” jelasnya.
 “Berarti… lo care donk sama gue??” tanya Raka sambil tersenyum.
 Moni nggak bisa menjawab. Dia mengalihkan keadaan dengan melihat jam tangannya. “Udah deh… nggak ada waktu lagi buat becanda…” ujar Moni.
 Raka menuruti Moni. Walau sebenarnya, dia nggak percaya dengan apa yang dikatakan Moni. Nggak ada yang menyuruh Moni untuk menjemputnya. Artinya… itu inisiatif dari Moni sendiri. Is that right?? Tanya Raka dalam hati.
***
 Pertandingan antara SMA Bhakti Negara melawan SMA 98 telah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Raka dan Moni baru saja sampai di SMA Yadika dan langsung menghampiri teman-teman yang lainnya.
 Pak Derry beserta beberapa supporter dan pemain cadangan tim futsal SMA Bhakti Negara sangat senang dengan kehadiran Raka. Raka langsung menggantikan posisi Arya di lapangan dan siap untuk bertanding.
 Rani tersenyum geli melihat kedatangan Moni beserta Raka. Dia sudah mengira kalau Moni akan bertindak. “Ehm…” dehem Rani saat Moni datang dan duduk di sampingnya.
 “Ehem juga…” balas Moni.
 Rani malah tertawa mendengar balasan dari Moni. Rupanya diantara bisingnya suara anak-anak yang tengah mendukung tim futsal dari sekolahnya, Moni masih bisa mendengar suara Rani. “Gimana ceritanya??” tanya Rani sambil tersenyum geli.
 “Panjaaaaaanggg…… bisa jadi novel kalo diceritain..” jawab Moni asal.
 “Hahaha….” Rani malah semakin geli dengan jawaban Moni. Dia sulit membayangkan bagaimana Moni menyeret Raka untuk sampai ke SMA Yadika. Bukannya selama ini dia anti sekali berurusan dengan Raka. Alias Moni itu benci sekali dengan Raka. Hmm… Rani mulai mencium sesuatu yang aneh. Mungkin,, Moni mulai simpatik dengan Raka? Mungkin… batinnya.
 “Goal!!!” suara para supporter mengagetkan Rani dari lamunannya. Tapi… yang lebih mengagetkan adalah suara Moni yang juga sama hebohnya dengan anak-anak lainnya. Dan, Rani menjadi lebih kaget lagi kala dia melihat siapa yang berhasil membobolkan gawang lawannya. Raka!!! Wow… kenapa Moni jadi seneng berat melihat Raka mencetak goal. Hmm… bener-bener tanda cinta. Batin Rani.
 Seolah membaca kecurigaan di wajah Rani, Moni pun menghentikan aksi hebohnya. Dia berubah menjadi diam dan tidak lagi merayakan kemenangan sementara yang dibuat oleh Raka. Moni mengganti ekspresi lebaynya dengan hanya melirik sana sini. Dan ketika pandangannya jatuh pada Raka, cowok itu tengah memandangnya dengan senyuman tipis. Entah maksudnya apa. Moni langsung sentiment dengan tatapan Raka kepadanya. Huh… pasti mau sombong karena udah berhasil mencetak goal. Kata Moni dalam hati mencurigai.
***
 Berkat Raka, tim fusal SMA Bhakti Negara berhasil masuk ke babak final yang akan dilaksanakan keesokkan harinya. Raka menyumbang sebanyak tiga goal untuk kemenangan 4-2. Sedangkan Hadika menyumbang satu goal.
 Di akhir pertandingan, Raka nggak lupa dengan pertanyaannya yang belum terjawab oleh Moni. Sebelum pulang, Raka menghampiri Moni untuk menanyakan kembali pertanyaan yang sempat membuatnya penasaran.
 “Mon… tunggu!!” kata Raka sambil menggamit lengan Moni. Raka juga menatap Rani dengan maksud memintanya untuk meninggalkannya berdua dengan Moni.
 Rani mengerti maksud Raka dan langsung meninggalkan kedua orang tersebut. Tapi Moni menarik lengan Rani dengan sigap. “Lo mau kemana sih??” tanyanya kesal.
 “Hehehe…. Gue mau pipis….” Kata Rani asal.
 “Ya udah gue ikut…” kata Moni segera ingin pergi dari hadapan Raka.
 Rani bingung. Padahal dia kan hanya pura-pura kebelet buang air kecil supaya Raka bisa bicara berdua dengan Moni. Tapi, Moni malah mau ikut dengannya. “E..e…e…” Rani nggak bisa berkata apa-apa. Dia bingung sekali.
 “Mon… gue mau ngomong sama lo…” pinta Raka.
 Rani melepaskan lengannya dari genggaman Moni dan segera kabur. Moni terkejut dengan kelakuan temannya itu. Dia ingin mengejar Rani yang sudah berlari dengan cepat. Tapi langkahnya tertahan oleh tangan Raka yang kini mengenggam erat lengannya. “Raka lepasin!!” pinta Moni.
 “Sebentar… aja…” pinta Raka dengan nada memohon.
 “Udah sore tau…” ujar Moni sambil melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 17.45.
 “Gue cuma mau nanya sama lo. Apa bener nggak ada yang nyuruh lo jemput gue??” tanya Raka serius.
 Aduh… ngapain sih dia nanyain itu lagi? Batin Moni. Kalau gue bilang nggak ada yang nyuruh dia GR lagi. Trus kalau gue bohong, waduhhh bakal ribet. Ihhh bingung…. Teriak Moni dalam hati. “Udah deh… nggak usah nanya-nanya…” kata Moni sambil berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Raka.
 Saat itu, semua anak sudah mulai pulang. Hanya tinggal Raka dan Moni yang tersisa dan beberapa anak yang baru akan pulang. Moni mulai kehilangan jejak Rani. Dia mencari-cari sosok Rani yang entah pergi kemana.
 “Oke… lo nggak perlu jawab kok. Gue udah tau jawabannya…” kata Raka kemudian.
 “Apa??” tanya Moni jutek. Pasti GR!! Batinnya.
 Bukannya menjawab, Raka malah tersenyum menang. Alhasil, Moni makin kesal dan melepaskan tangannya dari genggaman Raka dan segera pergi. Sementara itu, Raka masih tersenyum melihat kepergian Moni.
***
 “Aduhhh Rani kemana sih??” tanya Moni bingung. Langit udah mulai gelap, dan dia hanya tinggal sendiri di sekitar SMA Yadika.
 Jangan-jangan Rani ninggalin gue lagi. Terka Moni dalam hati. Uhhh,,, reseh!! Teriak Moni.
 Moni lalu memutuskan untuk pulang sendirian. Dalam hatinya dia kesal sekali dengan Rani. Sejak tadi, Rani tidak mengangkat teleponnya. Juga tidak membalas sms darinya. Tak lama, sebuah mobil sedan melintas di dekatnya dan berhenti tepat di depannya. Moni tau pasti siapa orang yang ada di dalam mobil itu. Untuk itu, Moni hanya diam dan tidak mempedulikannya.
 “Kok lo sendirian??” tanya Raka heran sambil menutup pintu mobilnya.
 Moni menatap Raka jutek. Dalam hatinya dongkol sekali dengan Raka. Pura-pura nggak tau lagi… katanya dalam hati. “Gara-gara lo…” katanya jutek.
 “Ohh… ya udah kalo gitu gue anterin lo pulang ya…” kata Raka kemudian.
 Moni menggelengkan kepalanya. “Nggak usah…”
 Tanpa berkata, Raka pun menarik lengan Moni dan membawanya masuk ke dalam mobil. Moni sempat memberontak dan ingin melepaskan genggamannya. Tapi Raka menggenggam cewek itu erat-erat. Sehingga Moni sulit untuk melepaskan lengannya.
 “Ihh… lo tuh apaan sih??” tanya Moni jutek setelah dia benar-benar berada di dalam mobil Raka. Kemudian Moni tidak jadi marah-marah kepada Raka, karena nggak enak hati dengan Pak Gatot – supir Raka.
 Raka tidak membalas perkataan Moni, tapi malah tersenyum geli melihat wajah Moni yang kusut. Namun tak berapa lama kemudian, Raka berbisik ke arah Moni, “Makasih ya…”
 Moni mengernyitkan kedua alisnya dan membalas perkataan Raka, “Makasih?” tanyanya bingung.
 Raka menganggukkan kepalanya. “Iya… buat hari ini…”.
 Moni nggak mengerti maksud Raka. Tapi hatinya menerka-nerka, mungkin karena hari ini dia menjemputnya untuk ikut bertanding futsal. Moni hanya terdiam. Dia malas membalas perkataan Raka.


BAB 8

 Pertandingan futsal telah usai. Tim futsal SMA Bhakti Negara mampu masuk ke babak final dan melawan SMA 89. Dan tim futsal SMA Bhakti Negara mampu mengalahkan SMA 89 dan menjadi juara di tournament futsal antar sekolah tersebut. Hal tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi SMA Bhakti Negara dan para anggota futsal. Mengingat selama tiga tahun berturut-turut mereka belum pernah menang. Dan kemenangan yang diraih oleh SMA Bhakti Negara, diharapkan menjadi awal bagi anggota tim futsal untuk bangkit dan tidak merasa puas dengan apa yang telah diraih.
 Raka yang baru saja bergabung di klub futsal di sekolah barunya itulah yang membawa SMA Bhakti Negara ke ambang kemenangan. Raka menyumbang dua goal. Sementara Chiko menyumbang satu goal. Dengan begitu, SMA Bhakti Negara menang 3-2 dari SMA 89.
 Namun, usai pertandingan futsal berlangsung, Raka memutuskan untuk tidak lagi bergabung dalam tim futsal. Alias mengundurkan diri sebagai anggota futsal SMA Bhakti Negara.
 Dan keluarnya Raka dari tim futsal tentu membuat semua anggota futsal bertanya-tanya dan terheran-heran dengan keputusan Raka tersebut. Tapi… sayangnya Raka enggan menjelaskan alasan yang mendasari keputusannya untuk keluar dari klub futsal. Dan yang paling sibuk mencari tahu kebenaran dan alasan dari berita tersebut adalah Vanda cs. Mereka penasaran sekali dengan keputusan Raka. Alhasil, siang itu ketika jam istirahat, Vanda cs menghampiri Raka yang tengah duduk di bangkunya.
 “Emangnya bener ya kata anak-anak kalau lo keluar dari klub futsal??” tanya Vanda sambil mengibaskan rambutnya yang panjang tergerai.
 Pertanyaan Vanda itu, membuat Moni yang sedang membaca komik kesukaannya terbatuk-batuk karena tertelan air liurnya sendiri. Dia terkejut setengah mati dengan pertanyaan Vanda itu. Hah?? Raka keluar dari klub futsal? Kok gue baru tau sih… batinnya.
 “Iya bener…” jawab Raka agak sedikit tak bersemangat. Dan jawaban Raka itu, makin membuat tenggorokan Moni terasa gatal. Raka menoleh ke arah Moni yang terbatuk-batuk. Kenapa dengan cewek ini? Batinnya. Perasaan dia baik-baik aja. Kok tiba-tiba batuk-batuk gitu. Batin Raka lagi. Dia ingin bertanya kepada Moni yang wajahnya mulai memerah. Tapi… tiba-tiba Vanda menarik wajahnya agar melihat ke arahnya.
 “Kenapa?” tanya Vanda mencoba membuat Raka tidak menoleh ke arah Moni.
 “Nggak apa-apa…” jawab Raka singkat sambil memandangi Moni yang sudah tidak terabatuk lagi.
 “Raka… lo jangan keluar donk. Lo keren banget tau kalo lagi main futsal…” pinta Ovi sedih.
 Raka tersenyum tipis mendengar perkataan Ovi. Tapi dia tidak begitu meladeni ketiga cewek itu. Dia ingin segera mengusir mereka dari hadapannya karena ada urusan penting yang akan dilakukannya. “Makasih… Bisa nggak kalian pergi. Gue mau ngerjain tugas gue…” kata Raka berbohong.
 “Tugas??” Vanda membelalakkan kedua bola matanya. “Emang ada tugas ya?” tanyanya lagi.
 “Nggak ada… ini tugas di tempat les gue..” jawab Raka berbohong lagi. “Tolong tinggalin gue…” pintanya.
 “Oke deh… dah Raka…” kata Vanda cs bersamaan.
 Setelah Vanda cs pergi, Raka menoleh ke arah Moni yang tengah memandangnya penuh tanya. Tapi… ketika pandangan mereka berdua bertabrakan, Moni langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
 Raka tersenyum tipis, lalu… “Ada yang mau lo tanyain ke gue??” tanyanya.
 “Nggak…” kata Moni sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi bersama Rani yang sudah menunggunya di depan pintu kelas. Tapi… langkah Moni tertahan. Dia penasaran sekali dengan berita itu. ya… berita keluarnya Raka dari klub futsal.
 Moni membalikkan tubuhnya dan bertanya, “Lo.. beneran keluar dari klub futsal?” tanyanya jutek.
 Raka tersenyum tipis. Dia hafal sekali dengan sikap Moni yang selalu jutek kepadanya tapi… sebenarnya Moni tulus. Ya.. meskipun Moni berkata dengan nada jutek, tapi Raka yakin kalau sebenarnya Moni tulus. “Iya. Kenapa? Mau bilang gue keren?” katanya
 “Nggak juga… terserah lo sih mau keluar atau nggak.” Kata Moni sambil membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya. Tapi… lagi-lagi dia penasaran. Dia ingin tau alasannya. Alasan mengapa Raka memutuskan untuk keluar dari klub futsal. Apa mungkin karena… “Kenapa?” tanya Moni dengan nada jutek lagi.
 “Waktu lo jemput gue… gue udah janji sama nyokap gue kalau pertandingan itu adalah pertandingan terakhir gue. Gue janji nggak akan main futsal lagi Mon…” kata Raka yang terdengar sedih. “Makasih ya… lo udah bantu gue keluar dari rumah untuk nyelesain pertandingan terakhir gue…” kata Raka sambil tersenyum menatap Moni.
 Benar kan… batin Moni. Dia sudah mengira kalau itu adalah alasan mengapa Raka tidak mau lagi terlibat dalam pertandingan futsal selanjutnya. Ada perasaan sedih di dalam hati Moni. Raka itu berbakat sekali. Tapi… mau bagaimana lagi. Orangtua adalah orang yang harus dihormati. Dan… mungkin Raka memang sudah tidak mau lagi membantah perkataan mamanya. “Ohh ya udah…” ujar Moni yang seolah tak peduli. Lalu Moni pergi menghampiri Rani yang masih setia menunggunya di depan pintu.
***
 Dentingan piano yang dimainkan oleh Moni membuat Raka terpukau dengan penampilan cewek itu. Moni menunjukkan kebolehannya bermain piano saat Bu Nay meminta Moni untuk bermain piano. Moni memainkan sebuah lagu kesukaannya Canon in D Major. Sangat indah sekali permainan piano dari Moni.
 Moni benar-benar membuat Raka terpukau dengan penampilannya. Bahkan Bu Nay menginginkannya memainkan lagu itu ketika perpisahan anak-anak kelas tiga nanti. Yup, sebentar lagi ujian nasional akan segera dimulai. Dan setelah itu, akan ada perpisahan anak-anak kelas tiga. Seperti tahun-tahun yang telah lewat, kelas satu dan kelas dua akan menyumbangkan penampilannya untuk anak-anak kelas tiga yang akan meninggalkan sekolah mereka. Dan di kelas XI IPS 2, Moni terpilih sebagai wakil kelas yang akan menyumbangkan permainan pianonya.
 Tepukan tangan dari semua anak-anak di kelas Moni saat Moni menyelesaikan permainan pianonya pun membuat suasana kelas menjadi ramai. Termasuk Raka yang memang sangat mengagumi permainan piano Moni.
 “Bagus sekali Moni…” puji Bu Nay sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Jangan lupa berlatih ya untuk perpisahan nanti…” pinta Bu Nay.
 ‘Iya Bu…” jawab Moni.
 Moni lalu duduk di bangkunya. Dia tau benar saat itu ada seorang cowok yang tengah memandangnya. Tapi… Moni pura-pura tidak melihat dan duduk di bangkunya. Raka tau itu. dia tau kalau Moni berusaha menghindarinya. Tapi justru dia suka sekali dengan sikap Moni yang terlihat jutek tapi sebenarnya tulus.
***
 Setiap hari Moni berlatih keras untuk memberikan penampilan terbaiknya. Apalagi, ujian nasional hanya tinggal hitungan jari lagi. Setelah ujian selesai dilaksanakan, perpisahan anak-anak kelas tiga akan dilaksanakan.
 Masalahnya, Moni tidak hanya terpilih untuk mewakili kelasnya untuk memberikan persembahan untuk anak-anak kelas tiga yang akan meninggalkan sekolahnya, tapi juga diminta untuk mengiringi paduan suara SMA Bhakti Negara. Untuk itu, Moni merasa dirinya perlu berlatih banyak. Karena, butuh kerja sama yang baik dan kompak dengan para anggota paduan suara di sekolahnya.
 Dan siang itu, Moni berlatih bersama anak-anak paduan suara untuk menyanyikan mars sekolah mereka. Selain menyanyikan mars sekolah mereka, anggota paduan suara juga akan menyanyikan sebuah lagu perpisahan untuk anak-anak kelas tiga dan sebuah lagu ucapan terimakasih kepada guru yang telah membimbing anak-anak kelas tiga.
 Latihan dimulai dari pengambilan nada dasar untuk lagu mars Bhakti Negara. Dan setelah latihan yang dilakukan bersama anggota paduan suara selesai dan waktunya untuk istirahat, Moni malah menghabiskan waktunya di gedung seni music. Dia lebih memilih bermain piano daripada pergi ke kantin untuk mengisi perutnya.
 Moni memainkan Canon in D Major yang berhasil diaransemen ulang olehnya. Meskipun di sana hanya ada dirinya sendiri, tapi Moni memainkan pianonya seolah-olah dirinya sedang berada di atas panggung besar. Permainan piano yang sangat rapih dan penuh penghayatan. Ya… Moni sangat menikmati hobinya. Dia selalu begitu setiap kali bermain piano. Tidak peduli dimanapun dan kapanpun. Moni selalu menghayati setiap nada yang dimainkan olehnya. Sampai dia nggak sadar kalau ada seseorang yang tengah menatapnya lekat. Sesorang yang berdiri di depan pintu gedung seni music yang terbuka.
 Dan ketika Moni menyelesaikan permainan pianonya, Raka bertepuk tangan sambil tersenyum menatap Moni. Moni terkejut. Dia pikir dia hanya sendiri di ruangan itu. Rupanya ada orang lain di sana. Dan ketika dia menoleh ke arah suara tepukan itu berasal, dia menemukan Raka yang kini berjalan mendekat padanya.
 “Ngapain lo di sini?” tanya Moni jutek.
 “Liat lo lah…” jawab Raka sambil terus bejalan mendekat kea rah Moni.
 Moni memalingkan wajahnya. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju pintu. Tapi Raka menahan langkahnya untuk segera keluar dari gedung seni music. “Mau kemana?” tanya Raka heran.
 “Pergi lah…” balas Moni dengan nada jutek.
 Raka duduk di sebuah bangku yang terletak di depan piano yang tadi dimainkan oleh Moni. Dia menyuruh Moni untuk duduk di sampingnya dengan memberikan kode kepada Moni. “Main piano lagi… buat gue…” pintanya.
 Moni mengernyitkan kedua alisnya. Apa maksudnya? Nggak penting… batin Moni. “Nggak…” kata Moni sembari pergi meninggalkan Raka.
 Namun, lagi-lagi raka menahan langkah kaki Moni. Bukan dengan tangannya yang menarik lengan Moni. Juga bukan dengan kata-katanya. Tapi dengan sebuah lagu berjudul Canon in D Major yang dimainkan olehnya. Bukan dengan gitarnya seperti waktu itu, tapi dengan piano yang tadi dipakainya untuk memainkan lagu itu juga. Unbelievable!!
 Moni membalikkan tubuhnya ke arah Raka yang tersenyum tipis menatapnya sambil terus memainkan lagu kesukaan Moni. Dia nggak pernah menyangka kalau Raka bisa bermain piano. Yang dia tahu, Raka hanya jago bermain futsal dan yaa.. bisa bermain gitar juga. Can’t believe it. Raka can be playing that piano fluently.Batin Moni.
 Moni berjalan mendekati Raka. Dia tidak jadi pergi meninggalkan Raka. Tapi malah menikmati keindahan permainan piano Raka dan menatap Raka lekat. Raka menghentikan permainan pianonya dan membalas tatapan lekat Moni.
 Moni duduk di sebelah Raka dengan tidak percaya. “Raka… lo… bisa main piano??” tanyanya heran plus kagum yang jelas tersembunyi.
 Raka tersenyum tipis. Lalu dia menerawang jauh seolah kembali ke masa lalunya. “Dulu waktu kecil, mama dan papa nyuruh gue les piano. Padahal… gue nggak terlalu suka. Gue lebih suka bola. Futsal… yaa gue suka futsal bukan music. Tapi… mama ngotot banget nyuruh gue les piano. Ya udah gue jalanin aja. Walaupun terpaksa banget…” katanya sambil kembali menatap Moni. “Tapi… ada untungnya gue pernah les piano. Hehe…”
 “Apa??” tanya Moni curiga melihat senyum jail Raka.
 “Bisa narik simpatik lo…hehe…” kata Raka yang membuat Moni membelalakan kedua bola matanya.
 Huekk!! Batin Moni. Moni memukul tubuh Raka. Tapi.. memang sih Raka benar. Dia memang kagum dan mungkin mulai simpatik kepada Raka. Uhh… tapi Raka tetep nggak boleh tau. Batin Moni. “Gimana kalo duet??” pinta Moni kemudian dengan senyumnya.
 Raka heran sekali melihat senyum itu. Sebelumnya dia tidak pernah melihat cewek itu tersenyum kepadanya. Never!! But Now… Moni tersenyum kepadanya. Mungkin untuk yang pertama kalinya. Raka bener-bener nggak nyangka akhirnya cewek itu bisa juga tersenyum kepadanya. Itulah yang dia tahu. Moni memang terlihat jutek. Tapi dia tau benar kalau cewek itu tulus. Sangat tulus…
 “Oke…” jawab Raka.
 Dan siang itu, suara detingan piano yang dimainkan oleh Raka dan Moni mengisi gedung kesenian yang cukup besar. Sangat indah dan terdengar tulus. Siswa-siswi yang tidak sengaja lewat dekat gedung kesenian pun ikut menikmati keindahan permainan piano Raka dan Moni. Bahkan mereka sampai berhenti di depan pintu gedung kesenian untuk melihat kedua orang itu. Dan, ada perasaan heran di hati mereka masing-masing. Sejak kapan Moni akur dengan Raka? Yang mereka tau, Moni selalu jutek kepada Raka. Dan hari itu, mereka menyaksikan kedua orang tersebut bermain piano. That’s so weird, right?
 Tapi… kalau ada yang heran dengan keakraban diantara Moni dan Raka, pasti ada juga yang iri hati melihat keakraban tersebut. Vanda! Dia mengumpat habis-habisan Moni yang telah merebut cowok incarannya. Dia heran sekali kenapa Raka tidak meliriknya sama sekali. Tapi malah melirik Moni yang biasa-biasa saja.

Canon in Love (Bab 5 & Bab 6)
Canon in Love (Bab 9 & Bab 10)